KHITTAH.CO, SINJAI — Tim dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mendampingi Kelompok Usaha Wanita Tani (KWT) Mekar di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, melalui penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas pengolahan kopi.
Pendampingan yang berlangsung sejak Juni 2026 tersebut merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Tim pelaksana terdiri atas Dr. Irwan Mado sebagai ketua, bersama Dr. Muhammad Nur Abdi dan Dr. Sahabuddin Nanda.
Program bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Usaha Wanita Tani MEKAR melalui Implementasi Teknologi Tepat Guna untuk Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Kopi di Sinjai Borong” itu diarahkan untuk menjawab sejumlah persoalan kelompok, terutama pada proses pascapanen, mutu produk, pengelolaan usaha, dan daya saing kopi lokal.
Ketua Tim PKM, Irwan Mado, mengatakan pendampingan dirancang berdasarkan kebutuhan yang dihadapi kelompok dalam proses pengolahan kopi.
“Pendampingan ini kami arahkan agar teknologi yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan KWT Mekar. Mesin huller dan alat pengering bukan sekadar bantuan peralatan, tetapi menjadi instrumen untuk mempercepat proses pascapanen, menjaga mutu kopi, dan mengurangi beban kerja anggota kelompok,” ujarnya, Kamis, 20 Agustus 2026.
Gunakan Mesin Huller dan Pengering Portabel
Salah satu teknologi yang diterapkan adalah mesin huller untuk mengupas kopi kering.
Sebelumnya, proses pengupasan masih banyak dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga yang lebih besar. Penggunaan mesin huller diharapkan dapat mempercepat proses pengolahan sekaligus meningkatkan kapasitas produksi kelompok.
Tim Unismuh juga menghadirkan alat pengering kopi yang praktis dan dapat dipindahkan.
Inovasi tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan proses pengeringan terhadap kondisi cuaca. Pengeringan yang lebih terkendali diharapkan membantu anggota KWT Mekar menjaga konsistensi mutu biji kopi sekaligus mengurangi risiko penurunan kualitas akibat kelembapan.
Penerapan teknologi tepat guna itu tidak berhenti pada penyediaan peralatan. Tim PKM juga memberikan pelatihan dan pendampingan agar anggota kelompok mampu mengoperasikan, merawat, dan memanfaatkan teknologi secara mandiri.
Pendampingan mencakup penggunaan mesin huller, teknik penanganan pascapanen, peningkatan mutu kopi, hingga penguatan pengelolaan usaha berbasis kelompok.
Irwan mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya teknologi, tetapi juga dari kemampuan kelompok untuk menggunakannya secara berkelanjutan.
“Target kami bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat kemandirian kelompok. Karena itu, pendampingan mencakup keterampilan menggunakan teknologi, pengelolaan pascapanen, peningkatan kualitas produk, hingga penguatan usaha kelompok,” katanya.
Ia berharap KWT Mekar mampu mengembangkan kopi Sinjai Borong dengan mutu dan nilai ekonomi yang semakin baik.
Perkuat Peran Perempuan Tani
Program tersebut juga menempatkan perempuan tani sebagai pelaku utama dalam proses pemberdayaan.
Anggota KWT Mekar terlibat dalam setiap tahapan kegiatan sehingga teknologi yang diterapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata kelompok.
Pendekatan tersebut diarahkan agar perempuan tidak hanya terlibat pada proses produksi, tetapi juga semakin memiliki kemampuan mengelola usaha, menjaga mutu produk, serta meningkatkan nilai tambah komoditas kopi.
Melalui kombinasi teknologi pascapanen dan penguatan keterampilan, KWT Mekar diharapkan dapat mengolah kopi secara lebih efisien dan menghasilkan mutu yang lebih konsisten.
Program tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan usaha kopi berbasis komunitas dengan memanfaatkan potensi lokal Sinjai Borong.
Irwan menambahkan, dukungan DPPM Kemdiktisaintek memberikan kesempatan kepada perguruan tinggi untuk membawa hasil pengetahuan dan inovasi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Hibah DPPM memungkinkan hasil pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi diterapkan langsung bersama masyarakat. Bagi kami, keberhasilan program bukan hanya ketika alat tersedia, tetapi ketika kelompok mampu menggunakannya secara mandiri dan memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Bagi Unismuh Makassar, program tersebut menjadi bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pendampingan KWT Mekar juga memiliki keterkaitan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui penguatan kapasitas ekonomi masyarakat, SDG 5: Kesetaraan Gender melalui peningkatan peran perempuan dalam usaha produktif, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui penerapan teknologi pascapanen yang lebih efisien dan berkelanjutan.






















