Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Guru Besar Unismuh Prof Eny Syatriana Bekali Mahasiswa Universitas Mulawarman Hadapi Era AI

×

Guru Besar Unismuh Prof Eny Syatriana Bekali Mahasiswa Universitas Mulawarman Hadapi Era AI

Share this article

 

KHITTAH.CO, SAMARINDA — Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Prof Dr Eny Syatriana, M.Pd., menjadi narasumber kuliah umum di Prodi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, Jumat, 4 September 2026.

Kuliah umum bertajuk “From Literacy to Scientific Impact: Building Critical Thinking, Research Novelty, and Scholarly Excellence in the Artificial Intelligence Era” tersebut membahas perubahan makna literasi, berpikir kritis, kebaruan penelitian, keunggulan akademik, hingga dampak ilmiah di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kegiatan berlangsung di ruang Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Mulawarman. Dalam forum tersebut, Prof Eny mengajak mahasiswa dan kalangan akademik mengubah cara pandang terhadap literasi di era AI.

Menurutnya, tantangan akademisi saat ini bukan lagi sekadar memperoleh informasi. Teknologi memungkinkan informasi ditemukan dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. Persoalan yang jauh lebih penting ialah kemampuan menilai kualitas informasi tersebut.

“Literasi hari ini tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan membaca. Kita harus mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan dan mengubah pengetahuan menjadi dampak,” ujar Prof Eny, merujuk pada kerangka utama yang dipaparkannya.

Dari Membaca ke Menilai Informasi

Prof Eny menjelaskan, literasi tradisional umumnya bergerak dalam tiga aktivitas: membaca, memahami, dan mengingat.

Namun, perkembangan teknologi dan AI menuntut kemampuan yang lebih kompleks, mulai dari mencari informasi, bertanya, memverifikasi, menghubungkan berbagai sumber, mensintesis pengetahuan, menciptakan gagasan, hingga mengomunikasikannya agar menghasilkan dampak ilmiah.

“Tantangan kita sekarang bukan kekurangan informasi. Informasi justru berlimpah. Tantangannya adalah bagaimana kita memahami, menyeleksi, dan memastikan informasi itu benar serta bermakna,” jelasnya.

Ia menambahkan, perubahan tersebut membuat pertanyaan utama dalam literasi juga bergeser.

Dulu, menurut Prof Eny, seseorang dianggap memiliki literasi informasi ketika mampu menemukan informasi yang diperlukan. Kini, kemampuan itu belum cukup.

“Pertanyaannya bukan lagi, ‘Bisakah kita menemukan informasi?’ Pertanyaannya sekarang adalah, ‘Bisakah kita menentukan apakah informasi itu dapat dipercaya, relevan, bias, tidak lengkap, atau bahkan dibuat-buat?’” ujarnya.

Salah satu pesan utama yang ditampilkan dalam presentasinya berbunyi, “AI can generate answers. Scholars must generate judgment.”

“AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi akademisilah yang harus menghasilkan penilaian. Di sinilah kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting,” kata Prof Eny.

Enam Jenis Literasi

Dalam materinya, Prof Eny memperkenalkan enam dimensi literasi yang perlu dikembangkan oleh akademisi modern.

Keenamnya meliputi literasi informasi, literasi digital, literasi data, literasi AI, literasi riset, serta literasi komunikasi ilmiah.

“Seorang akademisi tidak cukup hanya bisa menggunakan teknologi. Ia juga harus tahu bagaimana mencari sumber yang kredibel, membaca data secara kritis, memahami apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan AI, memahami metodologi penelitian, serta mampu mengomunikasikan pengetahuan secara bertanggung jawab,” jelas Prof Eny.

Menurutnya, kemampuan menggunakan AI tidak boleh dipisahkan dari etika, daya kritis, dan tanggung jawab akademik.

Semakin canggih teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap kemampuan manusia untuk melakukan evaluasi.

Jangan Percaya Begitu Saja pada AI

Prof Eny secara khusus mengingatkan risiko ketergantungan berlebihan terhadap keluaran AI dalam aktivitas akademik.

Ia menawarkan enam kebiasaan berpikir kritis, yakni bertanya, memverifikasi, membandingkan, menantang asumsi, menghubungkan informasi, dan melakukan refleksi.

“Berpikir kritis dimulai ketika kita berhenti menerima informasi begitu saja. Setiap klaim harus kita tanyakan: mengapa saya harus percaya, dari mana sumbernya, apakah ada penelitian lain yang mendukungnya, dan apa yang mungkin terlewat dari penjelasan tersebut,” ujarnya.

Menurut Prof Eny, setiap jawaban yang dihasilkan AI setidaknya harus melewati lima pertanyaan kritis: apa sumbernya, apakah buktinya benar-benar ada dan dapat diverifikasi, asumsi apa yang tersembunyi, perspektif apa yang tidak muncul, serta apakah kesimpulannya dapat diperiksa secara independen.

Ia mengingatkan bahwa kemampuan AI menghasilkan kalimat yang meyakinkan tidak selalu identik dengan kebenaran ilmiah.

“Bahasa yang terdengar meyakinkan belum tentu faktanya benar. Referensi yang tampak akademik juga belum tentu benar-benar ada. Karena itu, peneliti tetap wajib melakukan verifikasi,” tegasnya.

Materinya mengingatkan bahwa model AI dapat menghasilkan tulisan yang lancar tanpa pemahaman konseptual yang memadai, referensi yang tampak realistis tetapi belum diverifikasi, serta argumentasi terstruktur tanpa bukti empiris yang cukup.

AI untuk Mempercepat, Bukan Menggantikan Berpikir

Prof Eny tidak memosisikan AI sebagai ancaman yang harus dijauhi. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dimanfaatkan secara proporsional untuk meningkatkan efisiensi penelitian.

AI, kata dia, dapat membantu peneliti mencari dan mengorganisasi literatur, menghasilkan variasi kata kunci, merangkum informasi awal, membandingkan dokumen, dan mengeksplorasi pola.

Namun, tugas intelektual utama tetap menjadi tanggung jawab peneliti.

“AI dapat membantu kita mempercepat pencarian literatur dan pengolahan informasi. Tetapi pertanyaan penelitian yang bermakna, evaluasi atas bukti, interpretasi hasil, serta tanggung jawab etis tetap berada pada manusia,” ujarnya.

Prof Eny merangkum prinsip tersebut melalui kalimat, “Use AI for acceleration — not abdication.”

“Gunakan AI untuk mempercepat kerja, bukan untuk menyerahkan tanggung jawab berpikir. Akademisi tidak boleh mengabdikasikan fungsi intelektualnya kepada mesin,” tegasnya.

Kebaruan Tidak Harus Berarti Belum Pernah Ada

Aspek lain yang mendapat perhatian dalam kuliah umum tersebut ialah research novelty atau kebaruan penelitian.

Prof Eny menjelaskan, mahasiswa sering memahami kebaruan terlalu sempit sebagai sesuatu yang sama sekali belum pernah diteliti.

Padahal, kebaruan dapat hadir melalui setidaknya delapan jalur, yakni masalah baru, konteks baru, hubungan baru, metode baru, data baru, teori baru, integrasi baru, serta penerapan baru.

“Novelty bukan berarti kita harus menemukan sesuatu yang tidak pernah disentuh siapa pun. Kebaruan dapat muncul ketika kita membawa teori ke konteks baru, menghubungkan hal yang sebelumnya dipelajari secara terpisah, menggunakan metode berbeda, atau mengintegrasikan berbagai disiplin untuk menghasilkan pemahaman baru,” jelasnya.

Menurut Prof Eny, kemampuan menemukan kebaruan sangat bergantung pada kualitas membaca seorang peneliti.

“Kalau membaca kita dangkal, pertanyaan penelitian kita juga cenderung dangkal. Membaca secara mendalam membuat kita mampu melihat pola, kontradiksi, pertanyaan yang belum terjawab, dan akhirnya menemukan ruang bagi kebaruan,” ujarnya.

Materinya memetakan proses tersebut mulai dari membaca secara luas, memetakan bidang kajian, membandingkan studi, menemukan pola dan konflik, mengidentifikasi gap, memperbaiki pertanyaan penelitian, hingga menciptakan kebaruan.

Publikasi Bukan Akhir Penelitian

Prof Eny juga mengajak mahasiswa mengubah orientasi penelitian yang terlalu terpusat pada penerbitan artikel.

Dalam kerangka yang dipaparkannya, publikasi baru berada di tengah perjalanan sebuah penelitian. Setelah publikasi, penelitian masih harus bergerak menuju sitasi, diskusi akademik, adopsi, perubahan praktik, kebijakan, inovasi, hingga dampak sistemik.

“Menerbitkan artikel adalah output. Dampak baru terjadi ketika penelitian mengubah pemahaman, praktik, kebijakan, atau memengaruhi penelitian berikutnya,” ujar Prof Eny.

Karena itu, ia mengingatkan akademisi agar tidak mengukur keberhasilan penelitian hanya melalui jumlah publikasi.

“Jangan hanya bertanya berapa banyak artikel yang sudah kita terbitkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang berubah karena penelitian kita? Apakah ada pengetahuan baru, praktik yang membaik, masyarakat yang memperoleh manfaat, atau kebijakan yang ikut berubah?” katanya.

Dalam materinya, dampak ilmiah dibagi menjadi lima dimensi, yakni dampak terhadap pengetahuan, dampak akademik, dampak metodologis, dampak sosial, serta dampak terhadap kebijakan dan praktik.

Dari Literasi Menuju Dampak

Pada bagian akhir kuliah umum, Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris Unismuh tersebut merangkum perjalanan seorang akademisi dalam satu rangkaian: literasi, berpikir kritis, menemukan kesenjangan penelitian, menghasilkan kebaruan, mencapai keunggulan ilmiah, melakukan diseminasi, hingga menciptakan dampak ilmiah.

“AI dapat mempercepat setiap tahap, tetapi penilaian manusia tetap harus mengendalikan setiap tahap itu,” kata Prof Eny.

Ia kemudian merumuskan tujuh langkah praktis bagi peneliti: membaca secara mendalam, berpikir kritis, mengajukan pertanyaan secara cerdas, meneliti secara ketat, menciptakan kebaruan, berkomunikasi secara jelas, dan menghasilkan dampak.

“Masa depan bukan milik mereka yang mampu mengakses informasi paling banyak, tetapi mereka yang mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan yang bermakna, lalu mengubah pengetahuan itu menjadi dampak,” demikian pesan penutup Prof Eny dalam materinya.

Kuliah umum tersebut sekaligus memperkuat pertukaran akademik antara Unismuh Makassar dan Universitas Mulawarman, khususnya dalam pengembangan kapasitas akademisi menghadapi transformasi pendidikan dan penelitian di era AI.

Kegiatan ini juga beririsan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan literasi, berpikir kritis, kompetensi penelitian, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab. Selain itu, penguatan inovasi dan pengembangan pengetahuan ilmiah berkaitan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, sedangkan interaksi akademik antarkampus mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Kontributor: Bukhairul Iman
Editor: Hadisaputra

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply