Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Hadirkan Menteri UMKM, FAI Unismuh Dorong Mahasiswa Padukan Iman, Ilmu, dan Kemandirian

×

Hadirkan Menteri UMKM, FAI Unismuh Dorong Mahasiswa Padukan Iman, Ilmu, dan Kemandirian

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menegaskan bahwa pendidikan Islam tidak cukup berhenti pada penguasaan ilmu agama. Mahasiswa juga perlu dibekali keberanian, kepemimpinan, kemandirian, dan kemampuan mengambil peran dalam kehidupan ekonomi serta sosial.

Pesan itu mengemuka dalam kuliah umum Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) RI Maman Abdurrahman di Balai Sidang Muktamar Ke-47 Unismuh Makassar, Selasa, 15 September 2026.

Kuliah umum bertema “Penguatan UMKM untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan” tersebut menjadi bagian dari rangkaian Ta’aruf Mahasiswa Baru FAI Unismuh tahun akademik 2026/2027.

Dekan FAI Unismuh, Dr Amirah Mawardi, dalam sambutannya mengatakan FAI saat ini membina sekitar 2.880 mahasiswa dengan 88 dosen yang tersebar pada enam program studi.

Empat program studi telah berstatus akreditasi Unggul, yakni Hukum Ekonomi Syariah, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab, serta Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Sementara Program Studi Hukum Keluarga berstatus Baik Sekali dan sedang menunggu proses menuju Unggul. Adapun program studi termuda adalah Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam.

Amirah menyampaikan terima kasih atas kehadiran Menteri UMKM beserta rombongan dan kepercayaan pimpinan universitas kepada FAI sebagai tuan rumah pelaksanaan kuliah umum.

Kehadiran Menteri UMKM sekaligus memperluas pembekalan mahasiswa baru FAI. Mereka tidak hanya diperkenalkan pada kehidupan akademik dan keislaman, tetapi juga diajak memahami kepemimpinan, organisasi, kewirausahaan, dan tantangan masa depan.

Ilmu Agama Harus Melahirkan Kebermanfaatan

Di hadapan mahasiswa FAI, Maman Abdurrahman banyak berbicara tentang makna Islam dalam kehidupan nyata.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti memahami keberagamaan melalui simbol dan identitas formal.

“Islam tidak diukur dari baju kalian. Islam tidak diukur dari kalian pakai kopiah atau tidak,” ujar Maman.

Menurutnya, Islam jauh lebih dalam daripada atribut lahiriah.

“Islam itu tentang laku,” katanya.

Maman kemudian mengaitkan keberagamaan dengan kemampuan seseorang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Ia menilai Muhammadiyah memiliki tradisi kuat dalam menerjemahkan nilai-nilai Islam menjadi tindakan nyata melalui pendidikan, kesehatan, dan berbagai kerja sosial.

“Islam yang betul-betul menjadi inspirasi. Islam yang betul-betul menjadi teladan. Islam yang lebih mengedepankan apa yang kau bisa berikan buat masyarakat, bangsa, dan negara ini. Itulah Muhammadiyah,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta mahasiswa FAI melanjutkan tradisi tersebut.

“Teruskan perjuangan pendahulu-pendahulumu untuk menjadi Islam yang betul-betul berguna dan memberikan kemanfaatan buat masyarakat Indonesia,” pesan Maman.

Mahasiswa Harus Berani Keluar dari Zona Nyaman

Maman juga menegaskan bahwa masa kuliah merupakan fase penting untuk membangun kemandirian.

Menurutnya, mahasiswa tidak lagi berada dalam pola belajar seperti ketika masih duduk di bangku sekolah.

“Mahasiswa itu adalah siswa yang paling maha. Ada kemandirian, ada independensi dalam kalian bersikap,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta mahasiswa tidak takut mencoba hal baru, termasuk menghadapi kegagalan.

Bagi Maman, masa depan tidak akan berpihak kepada mereka yang takut memulai.

“Masa depan itu tidak akan pernah ramah untuk kalian yang pemalas,” katanya.

Ia menambahkan, masa depan yang cerah juga tidak akan berpihak kepada anak muda yang selalu berpikir pesimistis.

Pesan tersebut menjadi penting bagi mahasiswa FAI karena ilmu agama, menurut Maman, harus berjalan bersama keberanian menghadapi kenyataan sosial dan ekonomi yang terus berubah.

Jangan Takut Salah dan Gagal

Maman kemudian mengajak mahasiswa mengubah cara pandang terhadap kesalahan dan kegagalan.

Menurutnya, seseorang justru dapat memahami kebenaran karena pernah mengalami kesalahan. Demikian pula keberhasilan akan memiliki makna karena seseorang pernah mengalami kegagalan.

“Benar itu karena kamu pernah salah. Terang itu karena kamu pernah pergi ke tempat gelap. Berhasil itu karena kamu pernah gagal,” katanya.

Karena itu, mahasiswa tidak perlu takut ketika mengalami kegagalan selama mampu menjadikannya sebagai bahan pembelajaran.

Ia juga meminta mahasiswa tidak merendahkan orang yang sedang mengalami kegagalan.

“Jangan pernah mengutuk kegagalan. Dan jangan pernah mengutuk teman-teman kalian yang salah,” pesannya.

Menurut Maman, kegagalan dapat menjadi bagian dari proses seseorang untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

Dari Ilmu ke Organisasi dan Keberanian Bertindak

Maman kemudian memberikan sejumlah bekal kepada mahasiswa untuk menghadapi masa depan.

Ia menyebut pentingnya iman dan keyakinan, ilmu, ideologi, organisasi, strategi dan taktik, serta keberanian mengeksekusi gagasan.

Menurutnya, ilmu saja tidak cukup jika seseorang tidak memiliki wadah untuk menyampaikan gagasan.

Dalam konteks itu, ia menyebut organisasi sebagai kendaraan untuk memperjuangkan ide dan cita-cita.

“Organisasi itu kendaraan, alat kalian berjalan, alat kalian bertarung, alat kalian menyampaikan ide dan gagasan,” ujarnya.

Ia mengaku memiliki apresiasi khusus terhadap Muhammadiyah karena dinilainya konsisten bekerja bagi kepentingan masyarakat.

“Muhammadiyah adalah salah satu institusi ormas terbesar yang masih konsisten berjalan di atas kepentingan rakyat,” katanya.

Namun organisasi juga membutuhkan strategi dan kemampuan bertindak. “Sehebat-hebat apa pun visi yang kau miliki, sebagus-bagus apa pun program yang kau buat, sepintar apa pun kau, kalau tidak dijalankan dengan strategi dan taktik yang baik, kau pasti akan kalah dalam medan pertempuran,” ujarnya.

Mahasiswa FAI Jangan Hanya Jadi Penonton

Pada bagian akhir kuliah umum, Maman kembali menegaskan bahwa seluruh bekal tersebut bermuara pada keberanian mengambil tindakan.

Menurutnya, iman, ilmu, ideologi, organisasi, dan strategi tidak akan berarti jika tidak disertai keberanian mengeksekusi gagasan.

“Kalau kau tak punya keberanian untuk melangkah, untuk mengeksekusi, maka tak ada gunanya,” katanya.

Ia berharap mahasiswa FAI tidak hanya menjadi generasi yang kuat secara keagamaan, tetapi juga mampu memimpin, berkarya, dan memberi dampak bagi masyarakat.

Pesan tersebut memperkuat arah pembinaan mahasiswa FAI Unismuh: menghasilkan sarjana yang tidak hanya memahami Islam secara teoritis, tetapi mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam kepemimpinan, organisasi, kewirausahaan, dan kerja sosial.

Dengan pendekatan itu, pendidikan agama tidak berhenti di ruang kuliah.

Ia bergerak menjadi kemampuan membaca persoalan masyarakat, membangun kemandirian, menciptakan peluang, serta menghadirkan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar.

Kuliah umum Menteri UMKM dalam rangkaian Ta’aruf FAI tersebut juga memperlihatkan bahwa mahasiswa agama perlu dipersiapkan menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Mereka tidak cukup hanya menjadi penjaga nilai, tetapi juga perlu menjadi penggerak perubahan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply