KHITTAH.CO, KLATEN – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa pembangunan ‘Aisyi Tower Klaten merupakan wujud nyata kemandirian Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di bidang ekonomi yang harus dikelola secara profesional, modern, dan berbasis kolaborasi. Pesan itu disampaikan Haedar saat mengikuti Soft Opening ‘Aisyi Tower Klaten secara daring, Selasa (16/6/2026).
Menurut Haedar, kehadiran ‘Aisyi Tower Klaten yang bergerak di sektor perhotelan menjadi manifestasi dakwah ekonomi sekaligus ikhtiar memperkuat kemandirian organisasi. Karena itu, pengelolaannya harus dilakukan dengan manajemen yang maju dan berorientasi pada pengembangan berkelanjutan.
“Langkah ini harus terus dikelola dengan sebaik-baiknya dengan manajemen yang maju, profesional, dan modern. Lebih dari itu, ‘Aisyi Tower Klaten harus dirancang sedemikian rupa agar semakin maju,” kata Haedar.
Ia menilai hadirnya ‘Aisyi Tower Klaten menunjukkan kuatnya kolaborasi antara ‘Aisyiyah dan PT Suara Muhammadiyah Cipta Media (SCM) dalam mengembangkan usaha ekonomi yang tidak hanya bermanfaat bagi organisasi, tetapi juga memberikan pelayanan kepada masyarakat luas.
Haedar menjelaskan, sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak hanya berfokus pada persoalan akidah, ibadah, dan akhlak, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dimensi muamalah dunyawiyah yang lebih aktual dan produktif.
Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya memperkuat etos kemandirian. Menurutnya, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak boleh bergantung kepada pihak lain, melainkan harus mampu berdiri di atas kekuatan sendiri.
Namun demikian, Haedar mengingatkan bahwa kemandirian tidak berarti berjalan sendiri tanpa melibatkan pihak lain. Justru, kata dia, kemandirian harus dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Kemandirian itu juga memerlukan kolaborasi. Buktinya, ‘Aisyiyah dengan PT SCM bisa berkolaborasi karena kita tidak bisa sendiri. Begitu pula dengan pemerintah maupun berbagai pihak lainnya,” ujarnya.
Haedar menegaskan, kunci untuk dapat berbuat lebih besar dan bersaing dalam dakwah adalah memiliki karya nyata, bukan sekadar ide, retorika, atau simbol-simbol semata. Menurut dia, karya nyata hanya dapat diwujudkan melalui langkah-langkah konkret dan komitmen yang dijalankan secara konsisten.
Karena itu, ia mendorong Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan seluruh amal usahanya untuk semakin produktif dan menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang memberi kemanfaatan bagi orang lain. Begitu pula organisasi, sebaik-baik organisasi adalah yang memberi manfaat bagi orang banyak,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Haedar juga mengingatkan agar kegiatan yang bersifat seremonial dan simbolik tidak mendominasi gerak organisasi. Menurutnya, perhatian harus lebih diarahkan pada kerja-kerja produktif yang mampu menghadirkan perubahan nyata bagi Persyarikatan, umat, dan bangsa.
Ia berharap Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, serta seluruh amal usaha di bawah naungannya dapat terus melangkah lebih maju, modern, dan profesional.
“Bukan dengan retorika dan kegiatan-kegiatan seremonial yang hanya indah untuk diviralkan atau menjadi isu media massa, tetapi tidak membawa perubahan bagi kehidupan nyata, Persyarikatan, umat, dan bangsa,” tegas Haedar.




















