Scroll untuk baca artikel
Berita

Begini Cara Unismuh Makassar Merayakan Milad ke-63 dalam Spirit Gembira Berkemajuan

×

Begini Cara Unismuh Makassar Merayakan Milad ke-63 dalam Spirit Gembira Berkemajuan

Share this article

KHITTAH.CO, Makassar – Pagi belum sepenuhnya matang ketika halaman Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar mulai sesak. Di Jalan Sultan Alauddin, udara Makassar yang biasanya lekas garang masih menyimpan sisa lembap subuh. Sepatu-sepatu olahraga beradu dengan aspal. Bendera kecil bergerak di tangan peserta. Dari pengeras suara, suara master of ceremony memecah pagi, riuh, kadang jenaka, kadang melengking, seperti hendak menyalakan seluruh sudut kampus.

“Siapa yang mau umrah?” seru MC, Erick Alamsyah dari panggung.

Jawaban datang sebagai gelombang. Tawa pecah. Tangan-tangan terangkat. Sebagian peserta menoleh ke arah panggung, sebagian lain tetap sibuk mencari nomor undian. Di antara mereka ada dosen, karyawan, mahasiswa, alumni, warga sekitar, dan masyarakat umum. Ada yang datang dengan pakaian olahraga seragam. Ada pula yang datang seadanya: kaus, celana training, jilbab warna pastel, topi, dan botol air mineral di tangan.

Pagi itu, Selasa, 16 Juni 2026, bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah. Unismuh Makassar sedang merayakan dirinya sendiri, 63 tahun usia kampus itu. Tetapi perayaan ini tidak mengambil bentuk sunyi. Ia berjalan, berkeringat, tertawa, dan sesekali berhenti untuk mendengarkan pidato.

Di atas panggung, Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU, berdiri dengan gestur ringan. Ia bukan tipe pembicara yang membiarkan suasana menjadi terlalu beku. Di sela ucapan resmi, ia menyelipkan humor kecil tentang hadiah, panitia, dan MC. Wajahnya tampak rileks. Tetapi di balik nada bercanda itu, ia menyelipkan pesan yang lebih serius, Milad bukan sekadar ulang tahun. Ia adalah cara kampus merawat hubungan.

“Hari ini Universitas Muhammadiyah Makassar menyelenggarakan gerak jalan sehat dalam rangka Milad Muhammadiyah yang ke-63,” katanya dalam wawancara. “Kegiatan ini sebetulnya selain semarak, yang paling utama adalah membangun silaturahmi bersama seluruh sivitas akademika dan juga mengundang masyarakat umum untuk lebih dekat kepada Universitas Muhammadiyah Makassar.”

Kalimat itu seperti menjadi kunci pagi tersebut. Unismuh tidak hanya membuka gerbang kampus. Ia membuka jarak.

Dari kampus, peserta bergerak menuju Jalan Sultan Alauddin. Lalu ke arah AP Pettarani, berputar di sekitar depan pos flyover, kemudian kembali lagi ke kampus. Rutenya sederhana, tetapi simboliknya panjang. Kampus keluar menemui kota, lalu kembali membawa denyut kota ke dalam halamannya sendiri.

Di jalan, iring-iringan peserta bergerak seperti pita manusia. Ada yang berjalan cepat, ada yang lebih banyak bercakap. Anak-anak muda menyalakan kamera ponsel. Beberapa orang tua memilih ritme pelan. Udara perlahan menghangat. Suara kendaraan, peluit pengatur jalan, musik dari panggung, dan teriakan panitia bercampur menjadi satu komposisi pagi.

Unismuh menamai suasana ini sebagai gembira berkemajuan. Bukan gembira yang sekadar ramai. Bukan pula berkemajuan yang kering seperti slogan. Di pagi 1 Muharram itu, dua kata tersebut mengambil bentuknya yang paling sehari-hari: orang saling menyapa, tubuh digerakkan, hadiah dibagikan, sampah diingatkan, dan sebuah karya keilmuan diluncurkan.

Rakhim Nanda menyebut hadiah sebagai bagian dari semarak. Panitia menyiapkan hadiah hiburan hingga hadiah utama berupa umrah. Tetapi ia menekankan satu hal: hadiah umrah tidak diperuntukkan bagi pimpinan atau pejabat struktural. Ia menyebut hadiah itu diarahkan bagi peserta dari kalangan bawah hingga masyarakat umum.

“Ini juga sebagai komitmen bagaimana semua berperan memberikan semacam santunan kemampuan kepada masyarakat luas,” ujarnya. “Pimpinan, pejabat struktural, itu tidak boleh mengambil undian khusus untuk umrah.”

Di situ, hadiah tidak semata menjadi alat memancing massa. Ia menjadi simbol kecil tentang siapa yang hendak disentuh oleh perayaan kampus. Milad, dalam logika Rakhim, bukan pesta internal elite akademik. Ia harus punya pintu yang terbuka bagi orang banyak.

Tetapi panggung Milad itu tidak hanya penuh hadiah. Di samping jalan sehat, ada sesuatu yang lebih sunyi tetapi mungkin lebih panjang usianya, peluncuran penyusunan Ensiklopedi Hadis Tematik Syarah At-Tanwir Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Ketua PWM Sulsel, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., naik ke panggung dengan nada sambutan yang lebih teduh. Ia mengucapkan selamat kepada Unismuh yang memasuki usia 63 tahun. Ia menyebut 1 Muharram sebagai momentum menggembirakan tahun baru Islam. Namun inti sambutannya bergerak ke satu perkara: kerja pengetahuan.

“Hari ini kita akan meluncurkan rencana penyusunan sebuah karya monumental, karya yang besar, yang akan dilaksanakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, disponsori oleh Universitas Muhammadiyah Makassar,” katanya.

Kata “monumental” tidak jatuh sendirian. Ia segera diberi tubuh. Ensiklopedi Hadis Tematik Syarah At-Tanwir itu direncanakan dalam empat jilid. Jilid pertama tentang akidah. Jilid kedua tentang akhlak. Jilid ketiga tentang ibadah kepada Allah. Jilid keempat tentang muamalah duniawiah.

Di tengah aroma keringat, debu jalan, dan bunyi panggung yang riuh, pembicaraan tentang empat jilid ensiklopedi hadis terasa seperti jeda yang aneh. Tetapi justru di situlah kekuatan adegan pagi itu. Kampus sedang merayakan tubuh, tetapi juga mengumumkan kerja akal. Ia mengajak orang berjalan kaki, sembari menyusun kitab.

Ambo Asse menyebut ensiklopedi itu sebagai karya yang akan mengimbangi dan melengkapi Tafsir At-Tanwir Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dengan kata lain, Sulawesi Selatan hendak mengambil bagian dalam kerja besar Persyarikatan: menafsir, mensyarah, menyusun, dan mewariskan pengetahuan.

“Ensiklopedi hadis tematik Syarah At-Tanwir ini adalah karya yang mengimbangi karya yang dilakukan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Tafsir At-Tanwir,” ujarnya.

Di Muhammadiyah, kata “tanwir” bukan istilah ringan. Ia merujuk pada pencerahan, sebuah kata yang selama lebih dari satu abad menjadi denyut gerakan ini. Muhammadiyah lahir pada 1912 sebagai gerakan Islam modern yang memberi tekanan pada pendidikan, kesehatan, filantropi, dan pembaruan pemikiran. Di banyak daerah, termasuk Sulawesi Selatan, amal usaha pendidikan menjadi wajah paling mudah dikenali dari gerakan itu. Unismuh Makassar adalah salah satunya.

Usia 63 tahun bagi sebuah universitas bukanlah umur muda. Ia cukup tua untuk punya arsip, cukup matang untuk punya alumni lintas generasi, dan cukup besar untuk memikul ekspektasi. Di Makassar, Unismuh tidak lagi sekadar kampus Muhammadiyah. Ia telah menjadi salah satu simpul pendidikan tinggi, tempat ribuan mahasiswa belajar, berorganisasi, berdebat, dan menyiapkan masa depan.

Itulah yang disinggung Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga pernah menjadi Rektor Unismuh Makassar. Di panggung itu, ia hadir bukan hanya sebagai tokoh pusat, melainkan juga sebagai orang yang mengenal denyut kampus tersebut dari dalam.

“Atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kami menyampaikan selamat kepada Universitas Muhammadiyah Makassar yang insya Allah pada tanggal 19 Juni 2026 berusia 63 tahun,” kata Irwan.

Ia menyebut usia itu bukan perjalanan singkat. Unismuh, menurut dia, berangkat dari harapan besar untuk membangun lembaga pendidikan di kawasan selatan. Kini, perkembangan kampus itu disebutnya cukup luar biasa. Irwan berharap Milad ke-63 menjadi penguat semangat agar Unismuh terus berkembang dan bersinergi dengan Persyarikatan serta masyarakat.

Sambutan Irwan membuat panggung pagi itu seperti memiliki dua lapis waktu. Lapis pertama adalah masa kini: ribuan orang berjalan, hadiah menunggu, lagu Milad diputar, kamera mengabadikan wajah. Lapis kedua adalah sejarah yang bergerak lebih lambat, kampus yang tumbuh, Muhammadiyah yang merawat pendidikan, dan gagasan pencerahan yang terus mencari bentuk baru.

Rakhim Nanda juga membawa pesan lingkungan. Di sela sambutannya, ia mengingatkan peserta agar menjaga sampah. Tetapi ia tidak berhenti pada imbauan standar tentang kebersihan. Ia menyebut sampah sebagai sumber ekonomi.

“Di Unismuh, sampah bukan lagi sesuatu yang kotor, tetapi sumber ekonomi,” katanya. “Di belakang ada bank sampah. Sampah-sampah yang ditempatkan pada tempatnya akan diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cocok dengan suasana Milad. Kampus yang ingin bereputasi tidak cukup hanya mengejar gedung, akreditasi, atau jumlah mahasiswa. Ia juga harus menunjukkan adab kecil: membuang sampah pada tempatnya, mengolah limbah, menjaga ruang bersama. Kadang reputasi global dimulai dari tempat sampah yang tidak diabaikan.

Pagi terus bergerak. Peserta kembali ke kampus. Sebagian sudah basah oleh keringat. Sebagian menunggu pengundian hadiah. Di panggung, nama-nama tokoh dipanggil. Ada Rektor, Ketua PWM, Ketua BPH, para wakil rektor, pimpinan Persyarikatan, dan tokoh-tokoh lain. Seremoni peluncuran Ensiklopedi Hadis Tematik Syarah At-Tanwir dilakukan dengan penabuhan beduk. Hitungan mundur terdengar, tiga, dua, satu. Lalu beduk dipukul. Tepuk tangan naik.

Beduk adalah benda lama. Bunyi beduk biasanya menandai waktu, waktu salat, waktu berbuka, waktu berkumpul. Di pagi itu, ia menandai awal sebuah kerja panjang. Ensiklopedi tidak selesai oleh seremoni. Ia menuntut penulis, editor, rujukan, kesabaran, dan disiplin ilmiah. Ia tidak cukup diluncurkan; ia harus dituntaskan.

Ambo Asse menyadari itu. Ia berharap para penulis sungguh-sungguh menekuni karya tersebut. Target besar disebutkan, tetapi harapan paling konkret adalah minimal jilid pertama dapat terwujud. Di balik optimisme, ada pekerjaan berat yang menunggu.

Rakhim Nanda menyebut ensiklopedi ini sebagai bagian besar dari Muhammadiyah. Jika di pusat ada At-Tanwir, maka PWM Sulawesi Selatan mengambil bagian melalui Ensiklopedi Hadis yang juga memakai spirit At-Tanwir. Ia membayangkan dua pasang kitab itu kelak berdampingan untuk memandu warga Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya.

“Maka nanti ada dua pasang kitab yang saling berdampingan untuk memandu jalan warga Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya,” ujarnya.

Di titik itu, kegembiraan yang berkemajuan menyertai perjalanan 63 tahun Unismuh Makassar. Gembira tidak hanya berarti hadiah umrah, sepeda motor, atau tawa MC. Berkemajuan tidak hanya berarti kampus yang makin besar. Gembira berkemajuan adalah ketika perayaan tidak berhenti pada panggung, tetapi berlanjut menjadi silaturahmi, kepedulian sosial, kebersihan lingkungan, dan kerja keilmuan.

Kampus seperti manusia, ia butuh jeda untuk berhenti sejenak dan bertanya, sudah sejauh mana berjalan? Unismuh memilih menjawab pertanyaan itu dengan langkah kaki ribuan orang di pagi Muharram. Langkah itu pendek, hanya memutar dari Alauddin ke Pettarani lalu kembali ke kampus. Tetapi dalam narasi Milad, ia menjadi lebih panjang, dari sejarah ke masa depan, dari tawa ke kitab, dari hadiah ke tanggung jawab.

Ketika lagu Milad Unismuh diputar, sebagian peserta masih berkumpul di depan panggung. Ada yang menunggu hadiah. Ada yang mencari teman. Ada yang hanya duduk melepas lelah. Matahari mulai meninggi. Halaman kampus kembali memperlihatkan wajah sehari-harinya, tetapi dengan sisa riuh yang belum sepenuhnya padam.

Di sebuah pagi 1 Muharram, Unismuh merayakan usia 63 tahun dengan cara yang tidak terlalu sunyi dan tidak sepenuhnya meriah belaka. Ia berjalan, bercanda, memukul beduk, dan mengumumkan sebuah kerja pengetahuan. Mungkin begitulah kampus berkemajuan seharusnya: tidak hanya mengajar orang berpikir, tetapi juga mengajak mereka bergerak bersama, gembira, dan pulang dengan sesuatu yang lebih terang.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner ITKESMU SIDRAP

Leave a Reply