
Oleh: Arsyad (Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Enrekang)
KHITTAH. CO – Bulan Ramadan selalu datang dengan membawa berkah yang melimpah, tidak hanya bagi mereka yang menghabiskan waktu di masjid atau di rumah bersama keluarga, tetapi juga bagi mereka yang setiap harinya bergelut dengan besi, beton, dan debu di lapangan. Dunia konstruksi yang selama ini kita kenal sebagai sektor yang keras, penuh tekanan, dan mengandalkan kekuatan fisik, ternyata menyimpan ruang yang luas untuk merenungi hikmah-hikmah Ramadan.
Sebagai seseorang yang sehari-hari berkecimpung dalam dunia teknik sipil dan konstruksi, saya merasa perlu untuk menuangkan refleksi ini. Bukan hanya tentang bagaimana Ramadan mempengaruhi produktivitas proyek, tetapi lebih jauh dari itu: bagaimana nilai-nilai Ramadan justru relevan dan memperkaya makna dari setiap proses pembangunan yang kita lakukan.
Ketika berbicara tentang konstruksi, kita selalu membayangkan target, tenggat waktu, dan efisiensi biaya. Kurva S, laporan progress harian, dan rapat koordinasi menjadi santapan rutin. Namun, Ramadan datang dengan ritme yang berbeda. Ia memaksa kita untuk berhenti sejenak, menahan diri, dan berpikir ulang tentang makna dari setiap tetes keringat yang jatuh di lokasi proyek.
Di sinilah letak hikmah pertama yang paling mendasar: kesabaran struktural. Dalam ilmu teknik sipil, kita diajarkan bahwa beton tidak bisa langsung mengeras dalam sehari. Ada proses kimiawi yang membutuhkan waktu, yang disebut dengan curing, agar material mencapai kekuatan optimalnya. Jika proses ini dipercepat atau diabaikan, retak rambut akan muncul dan pada akhirnya struktur bangunan menjadi rapuh.
Analogi di atas persis dengan kondisi pekerja konstruksi yang berpuasa. Rasa lapar dan haus yang mereka tahan setiap hari adalah proses curing bagi jiwa. Mereka belajar bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal—baik itu berupa bangunan yang kokoh maupun pribadi yang tangguh—dibutuhkan proses, pengorbanan, dan kesabaran yang tidak bisa ditawar-tawar.
Hikmah kedua yang tidak kalah penting adalah tentang manajemen energi dan prioritas. Dalam manajemen proyek modern, kita mengenal istilah resource allocation atau alokasi sumber daya. Tenaga kerja adalah sumber daya utama yang harus dikelola dengan cermat.
Selama Ramadan, tanpa disadari, para pekerja lapangan menjadi ahli dalam mengelola energinya sendiri. Mereka belajar untuk membagi porsi tenaga antara pekerjaan berat di pagi hari dan pekerjaan ringan menjelang sore. Mereka secara alami memprioritaskan gerakan-gerakan yang benar-benar produktif dan menghindari aktivitas yang sia-sia yang hanya akan menguras tenaga. Bukankah ini esensi dari efektivitas kerja?
Ramadan mengajarkan bahwa produktivitas tidak selalu diukur dari seberapa lama kita bekerja, tetapi seberapa cerdas kita mengelola energi dalam waktu yang terbatas. Fenomena ini seharusnya menjadi bahan refleksi bagi para manajer proyek: mungkin selama ini kita terlalu fokus pada jam kerja, padahal yang lebih penting adalah kualitas dan fokus kerja. Ketika seorang tukang batu yang berpuasa memilih untuk menyelesaikan pemasangan dinding dengan teliti meskipun lambat, hasilnya justru lebih rapi dibandingkan ketika ia bekerja cepat namun ceroboh di hari biasa.
Selanjutnya, Ramadan menghadirkan hikmah tentang fondasi kemanusiaan. Setiap insinyur sipil paham betul bahwa fondasi adalah elemen terpenting dari sebuah bangunan. Ia tidak terlihat setelah bangunan berdiri, tetapi jika fondasinya lemah, runtuhlah seluruh struktur di atasnya. Dalam dunia konstruksi, fondasi itu tidak hanya terbuat dari beton bertulang, tetapi juga dari hubungan antarmanusia yang bekerja di dalamnya.
Selama Ramadan, atmosfer di lingkungan proyek biasanya berubah secara signifikan. Saya sendiri sering menyaksikan bagaimana para mandor yang biasanya keras dan suka membentak, tiba-tiba lebih sabar dalam memberikan instruksi. Para pekerja yang sering mengeluh, tiba-tiba lebih ringan tangan membantu rekan yang kelelahan.
Tradisi berbuka puasa bersama di barak proyek, meskipun dengan menu seadanya, menjadi momen yang mempererat tali persaudaraan. Tidak ada lagi sekat antara pekerja harian dan pengawas proyek; mereka duduk sama rendah, sama-sama melepas dahaga. Inilah fondasi sosial yang dibangun oleh Ramadhan. Jika fondasi ini bisa dirawat dan dibawa ke bulan-bulan berikutnya, maka lingkungan kerja konstruksi akan menjadi lebih manusiawi, lebih kolaboratif, dan pada akhirnya lebih produktif.
Hikmah keempat adalah tentang keberkahan di balik angka. Dunia konstruksi sangat dekat dengan angka: RAB (Rencana Anggaran Biaya), volume pekerjaan, durasi proyek, dan laba rugi. Semua serba terukur dan matematis. Namun, para kontraktor senior yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia ini sering bercerita tentang fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh kalkulator.
Ada kalanya proyek dengan perhitungan matang justru mengalami kemacetan, sementara proyek lain dengan keterbatasan dana dan tenaga berjalan mulus. Mereka menyebutnya sebagai “keberkahan”. Selama Ramadan, nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, dan empati terhadap pekerja menjadi lebih mengemuka. Ketika seorang kontraktor memutuskan untuk tidak mengurangi jatah makan siang pekerja meskipun mereka berpuasa (dengan menggantinya dalam bentuk uang atau takjil), ketika seorang mandor memilih untuk tidak mempekerjakan pekerjanya terlalu berat di bawah terik matahari, maka ada energi positif yang mengalir di seluruh rantai proyek.
Material datang tepat waktu, cuaca mendukung, dan peralatan jarang mengalami kerusakan. Ini bukan soal kebetulan atau mistis, melainkan tentang hukum sebab-akibat sosial. Perlakuan baik melahirkan loyalitas, dan loyalitas melahirkan dedikasi yang pada akhirnya tercermin dalam kualitas pekerjaan. Ramadhan mengingatkan kita bahwa di balik setiap proyek konstruksi, ada manusia-manusia yang bekerja dengan hati, dan hati membutuhkan nutrisi yang tidak bisa dihitung dengan angka.
Tidak berhenti di situ, Ramadan juga memberikan hikmah tentang keberlanjutan atau sustainability. Dalam diskusi teknik sipil modern, isu keberlanjutan menjadi topik hangat. Kita berbicara tentang bangunan hijau, material ramah lingkungan, dan efisiensi energi jangka panjang. Ramadan mengajarkan konsep keberlanjutan dalam skala mikro: menahan diri dari konsumsi berlebihan, tidak serakah, dan berpikir tentang kebutuhan jangka panjang dibandingkan kepuasan sesaat.
Nilai-nilai itu, jika diterapkan dalam proses konstruksi, akan melahirkan praktik pembangunan yang lebih bertanggung jawab. Misalnya, kebiasaan menahan diri dari pemborosan material, memanfaatkan sisa-sisa bahan bangunan untuk keperluan lain, atau memikirkan dampak bangunan terhadap lingkungan sekitar. Seorang insinyur yang terbiasa menahan lapar dan haus selama Ramadan, secara tidak langsung dilatih untuk menahan diri dari keserakahan material dan lebih bijak dalam merancang bangunan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, bukan sekadar proyek mercusuar yang menghamburkan sumber daya.
Terakhir, Ramadhan mengajarkan tentang kebersamaan dalam menghadapi ujian. Setiap proyek konstruksi pasti menghadapi masalah: keterlambatan material, cuaca buruk, atau bahkan kecelakaan kerja. Di luar Ramadan, masalah-masalah ini sering memicu konflik dan saling menyalahkan. Namun selama Ramadan, pendekatan terhadap masalah cenderung lebih dewasa.
Ada kesadaran kolektif bahwa semua orang sedang dalam kondisi tidak sempurna, sehingga saling memaafkan menjadi lebih mudah. Budaya maaf-memaafkan menjelang Idul Fitri yang biasanya kita lakukan secara seremonial, di lingkungan proyek terjadi secara alami. Kesalahan teknis dimaafkan, kekurangan komunikasi diperbaiki, dan semua pihak sepakat bahwa tujuan bersama lebih besar daripada ego masing-masing. Inilah hikmah tentang keikhlasan yang sulit diukur, namun sangat terasa dampaknya.
Pada akhirnya, Ramadan dan dunia konstruksi memiliki benang merah yang sangat kuat: sama-sama tentang proses membangun. Konstruksi membangun gedung pencakar langit, jembatan megah, dan jalan raya yang menghubungkan peradaban. Ramadhan membangun ketahanan jiwa, empati sosial, dan kedisiplinan pribadi. Ketika keduanya bertemu dalam diri para pekerja konstruksi, lahirlah sosok-sosok tangguh yang tidak hanya mampu mendirikan bangunan fisik, tetapi juga merawat bangunan moral di dalam dirinya. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bekerja di bawah terik matahari sambil menahan dahaga, namun tetap tersenyum saat mengumandangkan azan maghrib di barak proyek.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua, terutama yang berkecimpung di dunia konstruksi, untuk tidak melihat Ramadan sebagai penghambat produktivitas. Justru, jadikan Ramadan sebagai momentum untuk merefleksikan kembali makna dari setiap pekerjaan yang kita lakukan. Bangunan yang kokoh tidak hanya ditopang oleh besi beton berkualitas, tetapi juga oleh kejujuran, keikhlasan, dan kerja keras yang dilandasi nilai-nilai spiritual. Jika kita bisa memadukan antara keahlian teknis dan hikmah Ramadhan, maka Insyaallah, setiap bangunan yang kita dirikan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, bahkan setelah kita tiada. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi seluruh insan konstruksi di mana pun berada. Semoga setiap tetes keringat yang jatuh di lokasi proyek menjadi saksi atas ketakwaan kita di hadapan Sang Pencipta.





















