KHITTAH.CO, ENREKANG — Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN) bersama Universitas Halu Oleo (UHO) mendorong petani Desa Mata Allo, Kabupaten Enrekang, mengolah biji kakao menjadi produk bernilai tambah. Upaya ini dilakukan melalui Program Kosabangsa 2026 dengan menerapkan teknologi pengolahan dan pemasaran digital untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) tersebut melibatkan Kelompok Tani Salu Bendo’ dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Al Hadi.
Kenalkan Teknologi Pengolahan Kakao
Salah satu teknologi yang diperkenalkan ialah Natural-Based Alkalization, yaitu teknik pengolahan biji kakao menggunakan bahan alkali alami untuk menghasilkan bubuk kakao dengan warna lebih baik, tingkat keasaman lebih rendah, dan cita rasa lebih seimbang.
Untuk mendukung proses produksi, program ini menyediakan sejumlah peralatan, antara lain mesin sangrai, pemecah dan pemisah kulit biji, oven, penggiling kakao, mesin press hidraulik, serta hammer mill. Masyarakat juga mendapatkan pendampingan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) penanganan pascapanen dan pengolahan kakao.
Program ini melibatkan Kelompok Tani Salu Bendo’ yang memiliki 19 anggota dan KWT Al Hadi dengan 20 anggota. Kedua kelompok diarahkan mengembangkan produksi dan diversifikasi produk kakao sesuai potensi masing-masing.
Ketua Kelompok Tani Salu Bendo’, Sopian, S.Pd., menyambut baik pendampingan tersebut. Ia berharap teknologi yang diperkenalkan dapat meningkatkan kemampuan petani dalam mengolah kakao sehingga tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk biji kering.
“Selama ini, petani lebih banyak menjual kakao dalam bentuk biji kering. Melalui program ini, kami berharap dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengolah kakao menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” ujar Sopian.
Ketua KWT Al Hadi, Nida Wahyuni, mengatakan pendampingan tersebut juga membuka peluang bagi perempuan untuk terlibat lebih jauh dalam pengembangan usaha kakao, mulai dari pengolahan hingga pemasaran.
“Kami berharap pendampingan ini memberikan keterampilan bagi anggota kelompok, bukan hanya dalam mengolah kakao, tetapi juga membuat kemasan dan memasarkan produk agar bisa menjangkau konsumen lebih luas,” kata Nida.
Perkuat Pemasaran Digital
Selain penguatan produksi, masyarakat didampingi mengembangkan merek, desain kemasan, akun media sosial bisnis, toko marketplace, dan laman digital untuk memperluas pemasaran produk.
Ketua tim pelaksana UNIMEN, Dr. Asbar, M.Pd., M.Hum., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada pengenalan teknologi pengolahan, tetapi juga pengembangan usaha masyarakat agar mampu menghasilkan dan memasarkan produk secara mandiri.
“Program ini tidak hanya memperkenalkan teknologi pengolahan kakao, tetapi juga mendorong masyarakat mengembangkan produk dan memperluas pemasarannya. Kami berharap pendampingan ini dapat menjadi awal tumbuhnya usaha olahan kakao yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat,” ujar Asbar.
Dalam pelaksanaannya, Asbar didampingi Nirma Septia Ramlan Anjas, S.P., M.Si., dan Zarina, S.Pd., M.Ak. Sementara itu, tim pendamping dari UHO dipimpin Prof. Dr. H. Tamrin, S.P., M.P., bersama Dr. Nini Mila Rahni, S.P., M.P.
Kepala Desa Mata Allo, Usman Rasi, turut mendukung pelaksanaan program tersebut. Ia berharap teknologi dan peralatan yang diperkenalkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat, bahkan setelah masa pendampingan perguruan tinggi berakhir.
“Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi dan peralatan yang diperkenalkan benar-benar digunakan secara berkelanjutan, keterampilan masyarakat berkembang menjadi kemampuan produksi mandiri, serta produk yang dihasilkan mampu menembus pasar,” ujar Usman.
Melalui kolaborasi UNIMEN dan UHO, masyarakat Desa Mata Allo diharapkan tidak hanya menjadi penghasil biji kakao, tetapi juga mampu mengembangkan produk olahan dan memperoleh nilai ekonomi lebih besar dari komoditas tersebut.
Kontributor/Editor: Alfathin Delkha/Andi Asywid Nur






















