KHITTAH.CO, MAKASSAR — Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla, mengingatkan bahwa gelar akademik harus diikuti pengamalan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat. Pesan itu disampaikannya saat menghadiri promosi doktor Wakil Dekan III Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Elly Oschar, yang meraih gelar doktor ke-53 Unismuh setelah mempertahankan disertasi tentang pemikiran pendidikan Islam KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari di Ruang I-GIFT, Menara Iqra lantai 2, Senin, 12 Oktober 2026.
Dzulfikar, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, menyampaikan pesan tersebut dalam testimoni setelah Elly dinyatakan lulus oleh tim penguji. Menurut dia, pendidikan doktoral bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan tanggung jawab untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata.
“Ilmu itu harus selaras dengan amal perbuatan,” kata Dzulfikar.
Ilmu Doktoral Harus Menjawab Persoalan Masyarakat
Dzulfikar menegaskan, pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan tinggi semestinya dapat digunakan untuk menjawab persoalan sosial. Gelar doktor, menurut dia, perlu diikuti kemampuan mengoperasionalkan ilmu agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
“Ilmu yang dia dapat itu harus bisa dioperasionalkan,” ujarnya.
Untuk menjelaskan pesan tersebut, Dzulfikar mengisahkan seorang anak kepala suku di Papua yang terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor. Dalam kisah itu, sang ayah berulang kali mempertanyakan bagaimana ilmu yang diperoleh anaknya dapat membantu mengatasi kemiskinan di kampung mereka.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari tingginya gelar atau banyaknya pengetahuan yang dikuasai. Ilmu juga perlu hadir sebagai jawaban atas persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
Dzulfikar berharap gelar doktor yang diraih Elly tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi menjadi modal untuk memperkuat peran akademik, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Gelar Doktor Bukan Akhir Perjalanan Belajar
Selain menekankan pengamalan ilmu, Dzulfikar mengingatkan Elly agar tidak menjadikan promosi doktor sebagai akhir perjalanan intelektual. Menurut dia, seseorang yang telah mencapai pendidikan tertinggi tetap perlu membuka diri terhadap pengetahuan baru.
“Jangan sampai hari ini promosi, menganggap upaya untuk mencari ilmu itu berhenti,” katanya.
Dzulfikar juga menekankan pentingnya kerendahan hati dalam proses menuntut ilmu. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahui dan perlu dipelajari.
Dalam kesempatan itu, Dzulfikar mengenang perjalanan Elly sejak menjadi santri dan mahasiswa hingga aktif dalam gerakan kepemudaan. Ia menyebut Elly pernah terlibat dalam aksi demonstrasi dan kegiatan seni teater sebelum menjalani peran sebagai dosen, aktivis organisasi, dan politisi.
Kedekatan keduanya terjalin sejak sama-sama aktif dalam gerakan Pemuda Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Dzulfikar berharap capaian akademik Elly semakin memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial.
Disertasi Bandingkan Pemikiran Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari
Elly meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasi berjudul “Pemikiran Pendidikan Islam KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari: Studi Komparatif dan Kontribusinya terhadap Pengembangan Pendidikan Indonesia”.
Melalui penelitian kepustakaan, Elly mengkaji persamaan dan perbedaan pemikiran kedua tokoh, terutama dalam hubungan antara ilmu pengetahuan, pendidikan akhlak, dan tanggung jawab sosial.
Dalam pemaparannya, Elly menjelaskan bahwa KH Ahmad Dahlan menekankan integrasi ilmu agama dan ilmu umum serta penerapan pengetahuan melalui tindakan nyata. Sementara itu, KH Hasyim Asy’ari memberikan perhatian besar pada pendidikan adab, keteladanan guru, dan pembentukan karakter yang berakar pada tradisi keilmuan pesantren.
Dari kajian tersebut, Elly merumuskan kerangka konseptual yang dalam naskah disertasinya disebut Pendidikan Integratif Adat Nusantara (PIAN). Kerangka ini memadukan pemikiran kedua tokoh melalui lima pilar, yakni integrasi nilai etika dan spiritual dalam seluruh mata pelajaran, guru sebagai teladan, sekolah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, evaluasi pendidikan secara menyeluruh, serta digitalisasi yang berlandaskan etika.
Elly menjelaskan bahwa kerangka tersebut diarahkan untuk membangun pendidikan yang tidak hanya menekankan kemampuan intelektual, tetapi juga pembentukan akhlak dan tanggung jawab sosial. Ia mengakui, gagasan PIAN masih berupa kerangka konseptual sehingga memerlukan penelitian empiris untuk menguji kelayakan dan efektivitas penerapannya di lembaga pendidikan.
Sidang promosi doktor dipimpin Wakil Rektor I Unismuh, Prof Andi Sukri Syamsuri, yang mewakili Rektor Dr Abd Rakhim Nanda karena sedang berada di Jepang. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof Abdul Mu’ti, hadir sebagai penguji eksternal. Tim penguji lainnya terdiri atas Prof Erwin Akib, Dr Dahlan Lamabawa, dan Dr Sulaiman Masnan. Adapun Prof Ambo Asse bertindak sebagai promotor dan Prof Bahaking Rama sebagai kopromotor.
Andi Sukri menilai bertambahnya lulusan doktor merupakan bagian dari kontribusi Unismuh dalam pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ia berharap disertasi yang dihasilkan dapat melahirkan gagasan baru dan mendorong penelitian lanjutan.
“Kita mengharapkan dalam disertasi itu melahirkan ide-ide baru,” ujarnya seusai sidang.
Ia berharap capaian akademik tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Harapan itu sejalan dengan pesan Dzulfikar bahwa pendidikan tinggi semestinya tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi diwujudkan melalui amal dan kontribusi bagi kehidupan bersama.






















