KHITTAH.CO, MAKASSAR — Kompetensi sonografer dalam mengoperasikan ultrasonografi (USG) menjadi faktor penting untuk mendeteksi kanker secara dini. Pesan ini mengemuka dalam seminar nasional yang digelar Politeknik Muhammadiyah (PoltekMu) Makassar bersama Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI) Sulawesi Selatan di Hotel Karebosi Premier Makassar, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Seminar tersebut menyoroti pentingnya penguatan keterampilan tenaga kesehatan dalam menggunakan USG untuk mendukung deteksi dini dan pemantauan perkembangan kanker. Meski teknologi pencitraan terus berkembang, ketepatan hasil pemeriksaan tetap bergantung pada kompetensi tenaga yang mengoperasikannya.
Urgensi deteksi dini kanker terlihat dari data Global Cancer Observatory (Globocan) 2022 yang dikelola Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Data tersebut mencatat lebih dari 408.000 kasus baru kanker dan sekitar 243.000 kematian akibat kanker di Indonesia.
Salah satu narasumber seminar, Nurbeti Salam, dosen Program Studi Sarjana Terapan Radiologi dan Pencitraan PoltekMu Makassar, menekankan bahwa radiografer dan sonografer perlu memiliki kompetensi yang memadai agar mampu melakukan pemeriksaan secara sistematis dan mengenali indikasi kelainan yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Kompetensi Operator Menentukan Ketepatan Pemeriksaan
Nurbeti menjelaskan, USG menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menghasilkan gambaran organ tubuh. Berbeda dengan CT scan, USG tidak menggunakan radiasi pengion sehingga dapat digunakan untuk pemeriksaan berulang sesuai indikasi medis.
Selain relatif terjangkau, perangkat USG tersedia di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari klinik hingga rumah sakit. Keunggulan tersebut menjadikan USG sebagai salah satu modal penting dalam memperluas akses pemeriksaan, termasuk untuk memantau kondisi organ hati pada pasien dengan risiko kanker.
Menurut Nurbeti, pemeriksaan USG yang dilakukan secara optimal dapat membantu menemukan lesi hati berukuran kecil, termasuk yang berdiameter sekitar satu sentimeter. Fitur Color Doppler juga dapat membantu menilai pola aliran darah pada suatu massa yang dicurigai sebagai kelainan.
Namun, kemampuan teknologi tersebut harus diimbangi keterampilan operator. Pemindaian hati, misalnya, perlu dilakukan secara sistematis dari lobus kiri hingga lobus kanan. Area kubah diafragma juga perlu diperiksa secara cermat karena lesi kecil dapat luput apabila cakupan pemindaian tidak memadai.
Pemeriksaan vena porta turut menjadi bagian penting untuk menilai kemungkinan kelainan pembuluh darah, termasuk trombosis yang dapat berkaitan dengan invasi tumor.
“Akurasi USG sangat bergantung pada keahlian operator. Posisi transduser yang kurang tepat bisa membuat tumor kecil terlewat. Inilah alasan penguatan kompetensi menjadi inti seminar,” ujar Nurbeti, yang juga menjabat Kepala Lembaga Penjamin Mutu (LPM) PoltekMu Makassar.
Ia menambahkan, penguatan kompetensi tenaga kesehatan semakin relevan di tengah upaya pemerintah memperluas pemanfaatan teknologi USG di fasilitas pelayanan kesehatan. Ketersediaan alat, menurut dia, perlu berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan tenaga yang mengoperasikannya.
Teknologi Lanjutan dan Batas Pemeriksaan USG
Dalam seminar tersebut, Nurbeti juga memperkenalkan teknologi USG lanjutan, antara lain Contrast-Enhanced Ultrasound (CEUS) dan elastografi. CEUS menggunakan agen kontras untuk membantu menilai pola perfusi atau aliran darah pada suatu massa, sedangkan elastografi membantu mengevaluasi kekakuan jaringan, termasuk pada kondisi penyakit hati kronis.
Meski menawarkan berbagai keunggulan, USG tetap memiliki keterbatasan. Obesitas berat, banyaknya gas dalam usus, serta perubahan struktur hati akibat sirosis stadium lanjut dapat menyulitkan visualisasi dan penilaian organ.
USG juga tidak dapat memastikan jenis sel suatu tumor secara definitif. Karena itu, temuan yang mencurigakan perlu dievaluasi berdasarkan kondisi klinis pasien dan, jika diperlukan, dilanjutkan dengan pemeriksaan lain seperti CT scan, MRI, atau pemeriksaan jaringan sesuai indikasi medis.
Melalui seminar nasional ini, PoltekMu Makassar dan PARI Sulsel menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi radiografer dan sonografer dalam mendukung layanan pencitraan yang berkualitas. Penguatan sumber daya manusia diharapkan dapat membantu meningkatkan ketepatan pemeriksaan, sehingga kelainan yang mencurigakan dapat dikenali lebih awal dan pasien memperoleh penanganan lanjutan yang sesuai.






















