Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Ketika Keputusan Menjadi Pertanyaan : Perspektif IMMawati

×

Ketika Keputusan Menjadi Pertanyaan : Perspektif IMMawati

Share this article

Oleh: IMMawati Nur Afni

“Sebagai Immawati, Saya Percaya Keadilan Harus Selalu Menjadi Prioritas”

KHITTAH. CO – Menjadi seorang Immawati bukan hanya tentang bergabung dalam sebuah organisasi, tetapi juga tentang belajar menjadi perempuan yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di sekitar kita. Sejak awal bergabung di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, saya diajarkan bahwa seorang kader harus mampu berpikir kritis, tetapi tetap menjaga adab dalam menyampaikan pendapat. Kritis bukan berarti menyalahkan, dan diam bukan berarti bijaksana. Di antara keduanya, ada sikap yang lebih penting, yaitu berpihak pada keadilan.

Belakangan ini, perhatian publik tertuju pada pemberitaan mengenai dugaan pemberhentian seorang dosen Universitas Muhammadiyah Barru. Berbagai pendapat muncul di media sosial. Ada yang langsung mendukung, ada yang mengecam, dan ada pula yang menyimpulkan tanpa mengetahui keseluruhan cerita. Sebagai Immawati, saya merasa bahwa persoalan seperti ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak mudah menghakimi.

Dalam Islam, kita diajarkan untuk melakukan tabayyun, yaitu mencari kejelasan sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi. Nilai ini sangat penting, apalagi di era media sosial saat ini. Tidak semua yang viral adalah fakta yang utuh. Kadang yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari sebuah peristiwa, sementara banyak hal yang belum kita ketahui. Namun, di balik semua itu, ada satu nilai yang menurut saya harus tetap dijaga, yaitu keadilan.

Mahasiswa, dosen, maupun pimpinan kampus memiliki hak untuk diperlakukan secara adil. Jika memang ada kesalahan, tentu ada mekanisme yang harus ditempuh. Jika ada pelanggaran, maka harus dibuktikan melalui proses yang jelas. Jangan sampai sebuah keputusan menimbulkan kesan bahwa seseorang dihukum tanpa mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Sebagai seorang Immawati, saya juga memahami bahwa Islam sangat memperhatikan adab dan cara berpakaian. Menutup aurat merupakan bagian dari ajaran agama yang harus dihormati oleh setiap muslimah sesuai dengan keyakinannya. Namun, cara menyampaikan nasihat juga tidak kalah penting. Rasulullah SAW mengajarkan dakwah dengan hikmah, kelembutan, dan kasih sayang.

Nasihat yang baik seharusnya mampu menyentuh hati, bukan menimbulkan rasa takut atau permusuhan. Di sisi lain, kita juga perlu menghargai para pendidik. Dosen adalah sosok yang memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik, bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa. Karena itu, ketika muncul persoalan yang melibatkan seorang dosen, penyelesaiannya harus dilakukan secara profesional, transparan, dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini penting agar kepercayaan terhadap institusi pendidikan tetap terjaga.

Sebagai perempuan Muhammadiyah, saya percaya bahwa menjaga kehormatan perempuan dan menegakkan keadilan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Perempuan berhak mendapatkan penghormatan atas martabatnya, tetapi semua pihak juga berhak memperoleh perlakuan yang adil ketika menghadapi sebuah persoalan. Tidak boleh ada pihak yang dirugikan karena terburu-buru mengambil kesimpulan.

Saya juga percaya bahwa kampus Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral yang besar. Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang mengedepankan ilmu pengetahuan, akhlak, dan kemajuan. Oleh karena itu, setiap persoalan yang terjadi di lingkungan kampus hendaknya diselesaikan dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai tersebut. Musyawarah, keterbukaan, dan penghormatan terhadap hak setiap individu harus menjadi bagian dari budaya akademik.

Saya tidak ingin melihat persoalan seperti ini hanya menjadi perdebatan di media sosial. Saya berharap semua pihak dapat menahan diri, menghormati proses yang sedang berjalan, dan mengedepankan dialog. Kampus bukan tempat untuk saling menjatuhkan, tetapi tempat untuk mencari solusi bersama.

Saya percaya bahwa kekuatan sebuah institusi tidak diukur dari seberapa sedikit kritik yang diterimanya, tetapi dari bagaimana institusi tersebut mampu menerima masukan, melakukan evaluasi, dan menyelesaikan persoalan dengan adil. Kritik yang disampaikan dengan santun adalah bentuk kepedulian, bukan kebencian. Sebaliknya, menerima kritik dengan lapang dada adalah tanda kedewasaan sebuah lembaga.

Kita akan selalu berdiri pada nilai yang diajarkan Muhammadiyah, yaitu menegakkan kebenaran dengan hikmah, memperjuangkan keadilan tanpa kebencian, dan menjaga martabat setiap manusia tanpa membedakan kedudukannya. Saya berharap setiap persoalan di dunia akademik dapat menjadi bahan introspeksi agar kampus tetap menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, berdiskusi, dan bertumbuh bersama.

Pada akhirnya, saya tidak sedang membela individu tertentu ataupun menyalahkan pihak tertentu. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa keadilan adalah pondasi utama sebuah lembaga pendidikan. Ketika keadilan dijaga, kepercayaan akan tumbuh. Ketika dialog dibuka, solusi akan ditemukan. Dan ketika setiap orang diperlakukan dengan hormat, maka marwah kampus akan tetap terjaga. Saya percaya bahwa perempuan yang berilmu bukan hanya berani menyampaikan pendapat, tetapi juga berani berdiri di atas nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Karena itulah wajah Islam Berkemajuan yang selalu kami perjuangkan.

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UNIMEN

Leave a Reply