KHITTAH.CO, BACHOK, MALAYSIA — Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Ir H Abd Rakhim Nanda ST MT IPU, menyampaikan Syarahan Perdana Rektor Akademia Nusantara di Universiti Malaysia Kelantan (UMK), Selasa, 21 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Bilik Seminar 2, Bangunan Canselori UMK, Kampus Bachok, tersebut mengangkat tema “Al-Qur’an dan Resiliensi Air untuk Kehidupan: Dari Ayat-Ayat Kauniyah Menuju Peradaban Berkelanjutan.”
Dalam paparannya, Rakhim Nanda menempatkan air tidak sekadar sebagai sumber daya alam, tetapi sebagai ayat kauniyah, rahmat, amanah, sekaligus fondasi bagi keberlangsungan peradaban manusia.
Menurutnya, pembicaraan mengenai ketahanan air tidak dapat dibatasi pada kemampuan teknis membangun bendungan, drainase, atau sarana pengendalian banjir. Resiliensi air juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat menjaga keseimbangan ekologis, keadilan akses, dan keberlanjutan kehidupan.
“Resiliensi air bukan hanya kemampuan teknis mengendalikan air, tetapi kemampuan peradaban menjaga keseimbangan, keadilan, dan keberlanjutan hidup,” tegas Rakhim dalam materi syarahannya.
Krisis Air juga Persoalan Moral
Rektor Unismuh menjelaskan, krisis air saat ini berkaitan erat dengan perubahan iklim, alih fungsi lahan, pencemaran, eksploitasi air tanah, serta ketimpangan akses terhadap sumber air.
Perubahan iklim, kata dia, telah mengubah intensitas dan pola hujan, meningkatkan ancaman kekeringan dan banjir, serta memengaruhi ketersediaan air. Sementara itu, alih fungsi lahan mengurangi kemampuan tanah menyerap air, mempercepat limpasan permukaan, dan meningkatkan debit puncak ketika hujan deras.
Pada saat yang sama, pencemaran dan eksploitasi berlebihan menurunkan kualitas air dan melemahkan cadangan air tanah. Ketimpangan distribusi menjadikan air bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan keadilan sosial dan keberlanjutan antargenerasi.
Karena itu, lanjut Rakhim, krisis air harus dibaca sekaligus sebagai krisis iklim, tata ruang, tata kelola, dan moral. Ia mengaitkan kerusakan lingkungan dengan konsep fasād atau kerusakan akibat tindakan manusia serta isrāf, yakni perilaku berlebih-lebihan dalam menggunakan sumber daya.
Baca juga: Satu Tenda Besar Muhammadiyah, Unismuh Makassar dan Unimen Perkuat Budaya Saling Belajar
Perspektif Al-Qur’an, menurutnya, memberikan landasan etik agar manusia tidak memperlakukan air semata-mata sebagai komoditas ekonomi. Air merupakan amanah yang harus dijaga, dipelihara, dan dimanfaatkan secara adil untuk kepentingan bersama.
Dialog Wahyu, Tafsir, dan Hidrologi
Dalam syarahan tersebut, Rakhim menggunakan pendekatan interdisipliner yang mempertemukan pesan wahyu, kajian tafsir, dan ilmu hidrologi.
Ayat-ayat Al-Qur’an mengenai angin, awan, hujan, sungai, air tanah, vegetasi, dan kehidupan dibaca secara tematik. Fenomena tersebut kemudian didialogkan dengan penjelasan ilmiah mengenai kondensasi, presipitasi, infiltrasi, perkolasi, limpasan, dan siklus hidrologi.
Namun, Rakhim mengingatkan pentingnya menjaga batas akademik antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Istilah teknis hidrologi tidak boleh dipaksakan sebagai makna literal ayat. Ilmu pengetahuan digunakan sebagai jalan untuk membaca keteraturan ciptaan secara lebih mendalam.
Ia antara lain mengulas QS Al-A’raf ayat 57, QS Ar-Rum ayat 48, dan QS An-Nur ayat 43 mengenai angin, awan, serta proses turunnya hujan. Dalam ilmu hidrologi, rangkaian tersebut dapat dipahami melalui pergerakan massa udara, pengangkutan kelembapan, dan proses kondensasi.
Rakhim juga membahas QS Al-Mu’minun ayat 18 mengenai air yang diturunkan menurut ukuran. Pesan tersebut, menurutnya, dapat menjadi titik masuk untuk memperkuat budaya pengukuran curah hujan, intensitas, durasi, dan distribusi hujan sebagai dasar perencanaan drainase, irigasi, bendungan, kolam retensi, serta perlindungan masyarakat.
Lima Pilar Resiliensi Air
Rektor Unismuh selanjutnya menawarkan Kerangka Mīzān Resiliensi Air, yang menempatkan air di pusat kehidupan dengan lima pilar tindakan, yakni resiliensi ekologis, infrastruktur, kelembagaan, sosial, serta spiritual-etis.
Kerangka tersebut mendorong perubahan cara pandang dari air sebagai komoditas menuju air sebagai amanah; dari eksploitasi menuju pemeliharaan; dari pendekatan sektoral menuju pengelolaan terpadu hulu–hilir; serta dari penanganan reaktif menuju langkah antisipatif.
Resiliensi air, lanjutnya, juga membutuhkan kombinasi infrastruktur hijau dan infrastruktur abu-abu. Infrastruktur teknis seperti bendungan dan drainase harus berjalan bersama pelindungan hutan, daerah resapan, sempadan sungai, ruang terbuka hijau, taman hujan, dan permukaan berpori.
Dorong Riset Bersama Indonesia–Malaysia
Dalam bagian akhir syarahannya, Rakhim menawarkan sejumlah agenda implementasi, antara lain pengelolaan daerah aliran sungai secara terpadu, pembangunan kota peka air, penguatan sistem peringatan dini, literasi air, serta pengembangan riset berbasis kampus.
Ia juga mendorong kerja sama antarkampus Indonesia dan Malaysia melalui riset lingkungan tropis, publikasi bersama, pengabdian masyarakat lintas negara, serta pengembangan inovasi berkelanjutan.
Pada tingkat kebijakan, perguruan tinggi dinilai perlu mendorong pemulihan fungsi siklus air, integrasi resiliensi dalam tata ruang, pengelolaan berbasis data, jaminan hak dasar atas air, serta pengarusutamaan etika lingkungan Islam.
Syarahan perdana tersebut menjadi bagian dari penguatan diplomasi akademik Unismuh Makassar di kawasan Asia Tenggara. Forum itu juga mempertemukan perspektif keislaman, rekayasa, lingkungan, dan kebijakan dalam merespons tantangan krisis air global.
“Air yang turun sebagai rahmat harus dijaga sebagai amanah dan dikelola sebagai fondasi kehidupan bersama,” demikian pesan penutup Rektor Unismuh Makassar.




















