
Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
KHITTAH. CO – Salah satu putusan Muktamar ke 46 tahun 2010 di Yogyakarta adalah tentang Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah. Dalam putusan tersebut dinyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya sadar penyiapan peluang bagi manusia untuk menguasai ipteks berbasis wahyu tekstual (qauliyah) dan wahyu natural (kauniyah: alam semesta), mengembangkan kemampuan pemanfaatan alam semesta, menyerap seluruh prinsip perubahan peradaban bagi kesejahteraan seluruh umat manusia dalam bentangan masa depan sejarah.
Lebih lanjut disebutkan Pendidikan Muhammadiyah adalah pendidikan pencerahan kesadaran ketuhanan (makrifat iman/tauhid) yang menghidupkan, mencerdaskan, dan membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan bagi kesejahteraan dan kemakmuran manusia dalam kerangka kehidupan bangsa dan tata pergaulan dunia yang terus berubah dan berkembang.
Pendidikan Muhammadiyah harus hadir menjadi bagian penting bukan hanya dalam menyiapkan sumber daya insani yang dapat memberi kontribusi bagi bangsa Indonesia, tetapi lebih dari itu harus dapat menjadi bagian dari pemberi solusi dalam kehidupan global dalam tata pergaulan dunia. Hadir dengan ciri khasnya sendiri sebagai pendidikan pencerahan kesadaran ketuhanan, di samping itu juga mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu dan teknologi di era globalisasi.
Dalam konteks pendidikan dasar menengah khususnya sekolah menengah atas (SMA/MA), perlu menyiapkan alumninya untuk dapat bersaing memasuki perguruan tinggi kelas dunia, sehingga ke depan mereka menjadi bagian penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi yang dapat berkontribusi bukan dalam kehidupan berbangsa tetapi juga berkontribusi dalam pergaulan dunia. Selain itu, juga berkontribusi untuk kepentingan kemanusiaan sejagad tanpa kehilangan identitas sebagai kader muhammadiyah.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka pendidikan Muhammadiyah dituntut tidak hanya unggul secara lokal tetapi juga unggul dan kompetitif secara internasional. Tantangannya adalah menghasilkan lulusan berstandar global yang mampu menembus universitas ternama dunia, namun tetap memegang teguh identitas sebagai kader Muhammadiyah. Dalam hal ini pendidikan Muhammadiyah perlu merumuskan kurikulum standar internasional yang dilandasi oleh spirit Islam berkemajuan. Kurikulum standar internasional bukanlah kurikulum yang diekspor dari luar tetapi kurikulum yang dirancang sendiri, sehingga luarannya memiliki kemampuan berkompetisi dalam skala global namun tidak tercerabut dari akar budaya dan nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.
Selama ini AI Islam dan Kemuhammadiyah dan Bahasa Arab/Asing (ISMUBA), hadir sebagai mata pelajaran tersendiri sebagai ciri khas pendidikan Muhammadiyah, namun kehadirannya masih sebatas mata pelajaran, belum memberikan makna yang lebih dari itu yang seharusnya ISMUBA ini menjadi landasan etika moral dan karakter pendidikan Muhammadiyah. Oleh karena itu dalam rancang bangun kurikulum pendidikan Muhammadiyah, ISMUBA harus hadir sebagai landasan etika dan moral, menjadi ruh pendidikan Muhammadiyah, sedang bahasa asing paling tidak bahasa Arab dan bahasa Inggris diajarkan sebagai bahasa keilmuan dan komunikasi internasional.
Sedang untuk mata pelajaran keilmuan dan akademik bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu terkait dengan sains dan teknologi yang dipersiapkan memasuki perguruan tinggi ternama dunia misalnya ke MIT, Stanford, NUS, PT Top Teknik, siswa disiapkan untuk berpikir komputasional dan saintifik. Kurikulum integratif menggabungkan matematika lanjutan, fisika, dan teknologi dengan nilai amal ilmiah (berilmu untuk beramal), memastikan teknologi digunakan untuk kemaslahatan, bukan sekadar inovasi tanpa etika. Fokus pada STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) intensif, robotika, dan AI, diintegrasikan dengan etika Islam, dengan metode Project-Based Learning dan kompetisi sains internasional.
Sedang untuk Humaniora dan Global Studi yang disiapkan ke Harvard, Oxford, dan PT dunia ternama lainnya. Siswa dibekali kemampuan berpikir kritis, public speaking, dan wawasan global, namun dijangkar dengan nilai-nilai ISMUBA. Kurikulum difokuskan pada kemampuan berpikir kritis, hubungan internasional, hukum, sosial sains, dan isu-isu global. Metode pembelajaran lebih pada debat internasional, penulisan artikel ilmiah, dan kajian sosial-kemasyarakatan.
Kurikulum yang telah dirancang dengan baik dan sistematis tidak dapat berjalan dengan baik tanpa ekosistem yang mendukung. Dalam hal ini dibutuhkan kepala sekolah yang memiliki visi yang jauh ke depan, wawasan global, kemampuan mengelola sekolah secara modern, mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia global dan memahami ideologi Muhammadiyah dengan baik dan kokoh.
Kehadiran guru sebagai mentor yang menguasai bahasa internasional, aktif melakukan riset, dan menjadi role model, menjadi teladan dalam ibadah dan akhlak. Dari sisi sarana prasarana sekolah dibutuhkan laboratorium berstandar industri, perpustakaan digital yang terhubung dengan basis data jurnal internasional, lingkungan sekolah cerdas. Untuk membina kemampuan kepemimpinan siswa mereka perlu aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), untuk melatih diplomasi, negosiasi, dan jaringan global.
Perguruan tinggi ternama dunia, dalam melakukan seleksi penerimaan mahasiswa tidak hanya fokus pada kemampuan akademik tetapi juga berkaitan dengan non akademik, seperti pengalaman organisasi, kemampuan berkompetisi seperti olimpiade atau kegiatan sosial. Di samping itu juga motivasi melanjutkan pendidikan, visi, dan kontribusi yang akan diberikan. Oleh karena itu, siswa perlu memiliki profil holistik yang tidak hanya terkait nilai akademik tetapi aktivitas ekstra kurikuler termasuk misal proyek riset, olimpiade sains, pengabdian masyarakat/volunter), serta kemampuan berbahasa asing khususnya bahasa Inggris. Untuk mendapatkan ini diperlukan bimbingan khusus untuk membangun profil siswa (kegiatan sosial, organisasi, riset, kompetisi).
Kurikulum yang dirancang secara mandiri ini, menyiapkan siswa bersaing di dunia global dengan standar tinggi internasional tanpa harus kehilangan identitas. Siswa Muhammadiyah dididik untuk menjadi warga dunia yang berkarakter cerdas, berakhlak mulia, dan hadir memberi manfaat bagi bangsa dan negara serta kemanusiaan sejagad.





















