Scroll untuk baca artikel
Berita

Milad ke-109 ‘Aisyiyah Sulsel di Pinrang Perkuat Dakwah Kemanusiaan dan Perdamaian

×

Milad ke-109 ‘Aisyiyah Sulsel di Pinrang Perkuat Dakwah Kemanusiaan dan Perdamaian

Share this article

KHITTAH.CO, PINRANG — Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah Tingkat Wilayah Sulawesi Selatan menjadi momentum penguatan dakwah kemanusiaan, pemberdayaan perempuan, pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, dan perdamaian sosial. Kegiatan bertema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” tersebut digelar di Aula Masjid Agung Al-Munawir, Kabupaten Pinrang, Ahad, 31 Mei 2026, dan dihadiri sekitar 2.000 peserta dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni milad, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan yang telah berusia lebih dari satu abad. Dalam kegiatan tersebut, ‘Aisyiyah menegaskan komitmennya untuk terus hadir menjawab berbagai persoalan kemanusiaan melalui gerakan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pendampingan hukum, penguatan keluarga, serta kepedulian terhadap kelompok rentan.

Panitia Pelaksana Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Dr. Nurhayati Haruna, menyampaikan bahwa pelaksanaan milad tingkat wilayah di Kabupaten Pinrang menjadi kebanggaan tersendiri bagi panitia lokal. Ia menyebut kegiatan tersebut dihadiri oleh pimpinan dan kader ‘Aisyiyah dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan.

Menurut Nurhayati, Milad ke-109 ‘Aisyiyah merupakan momentum penting untuk memperkuat gerakan dakwah perempuan berkemajuan. Gerakan tersebut, kata dia, tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi umat.

“Milad ke-109 ini merupakan momentum penting bagi ‘Aisyiyah untuk terus memperkuat gerakan dakwah perempuan berkemajuan, tidak hanya dalam bidang pendidikan dan sosial keagamaan, tetapi juga dalam pemberdayaan ekonomi umat,” ujar Nurhayati dalam laporannya.

Rangkaian Milad ke-109 ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan diisi dengan berbagai kegiatan. Di antaranya ‘Aisyiyah Creative Fest, Expo BUEKA atau Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah, pasar murah, sesi berbagi pengalaman dari daerah, talkshow inspiratif tentang ketahanan keluarga dan kemandirian di era digital, edukasi perawatan wajah khusus perempuan, senam bahagia, launching ketahanan pangan, pelantikan Iswara, launching Pos Bantuan Hukum ‘Aisyiyah, Biro Konsultasi Keluarga Sakinah, Rumah Sakinah, serta Wisuda Akbar Sekolah Wira Usaha ‘Aisyiyah.

Wisuda Akbar Sekolah Wira Usaha ‘Aisyiyah menjadi salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut. Pesertanya berasal dari delapan kabupaten/kota, yakni Pangkep, Bantaeng, Gowa, Bone, Parepare, Makassar, Bulukumba, dan Pinrang sebagai tuan rumah.

Para peserta Sekolah Wira Usaha ‘Aisyiyah telah mengikuti proses pembinaan kewirausahaan secara bertahap. Pembinaan itu meliputi pelatihan dasar kewirausahaan, manajemen usaha, pengelolaan keuangan sederhana, pemasaran digital, pengemasan produk, penguatan mental usaha, hingga pendampingan UMKM.

Nurhayati menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan melahirkan perempuan-perempuan tangguh yang mampu menjadi pelaku usaha mandiri, meningkatkan ekonomi keluarga, membuka lapangan kerja kecil di lingkungan masing-masing, serta menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya untuk terus berkarya.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya sebagai seremoni, tetapi benar-benar menjadi langkah nyata untuk kemandirian masyarakat,” katanya.

Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Dr. Mahmudah, M.Hum., dalam pidato miladnya menegaskan bahwa tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” memiliki pesan strategis bagi gerakan ‘Aisyiyah hari ini.

Mahmudah mengatakan, tantangan yang dihadapi ‘Aisyiyah saat ini tidak lagi sama dengan masa awal berdirinya organisasi. Jika dahulu tantangan besar yang dihadapi adalah buta huruf dan keterbatasan akses pendidikan, maka hari ini tantangannya jauh lebih kompleks.

Menurut dia, masyarakat kini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kemiskinan, ketimpangan sosial, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, penyalahgunaan teknologi digital, judi online, pornografi, narkoba, krisis kesehatan mental, hingga menurunnya kualitas interaksi sosial.

Karena itu, kata Mahmudah, dakwah kemanusiaan ‘Aisyiyah harus semakin membumi, memberdayakan, dan menjawab kebutuhan masyarakat. Ia menilai ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan saat ini memasuki fase penguatan dan ekspansi dakwah kemanusiaan.

Fase tersebut, lanjut Mahmudah, bukan sekadar pertumbuhan jumlah cabang dan ranting. Lebih dari itu, fase tersebut merupakan ikhtiar kolektif untuk menghadirkan dakwah yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Ia menekankan, di balik setiap cabang dan ranting ‘Aisyiyah yang tumbuh, terdapat perempuan-perempuan yang bergerak menghidupkan pengajian, membina keluarga sakinah, mengembangkan pendidikan anak usia dini, memberdayakan ekonomi keluarga, serta menebarkan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Mahmudah juga menegaskan bahwa perdamaian tidak lahir secara instan. Menurutnya, perdamaian harus dibangun melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, penguatan keluarga, dan keberpihakan kepada kelompok rentan.

Ia menyebut, pendidikan merupakan salah satu investasi terbesar ‘Aisyiyah sepanjang sejarah. ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, kata dia, telah memiliki ratusan taman pendidikan dan TK ‘Aisyiyah yang setiap hari mendidik anak-anak dengan nilai keislaman, akhlak mulia, toleransi, kedisiplinan, cinta tanah air, dan semangat hidup berdampingan secara damai.

“Setiap anak yang mendapatkan pendidikan yang baik hari ini adalah investasi perdamaian untuk masa depan,” ujar Mahmudah.

Selain pendidikan, Mahmudah juga menekankan pentingnya pelayanan kesehatan sebagai bagian dari dakwah kemanusiaan. Menurutnya, dakwah kemanusiaan tidak hanya berbicara tentang ilmu, tetapi juga tentang kualitas hidup manusia.

Ia menyebut layanan kesehatan ‘Aisyiyah hadir untuk masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun kelompok. Layanan tersebut dinilai sebagai manifestasi dari spirit Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Mahmudah menambahkan, ‘Aisyiyah juga terus berbenah mengikuti perkembangan zaman melalui penguatan sistem informasi, website organisasi, learning management system, dan jurnal pengabdian masyarakat. Menurutnya, langkah ini menunjukkan bahwa ‘Aisyiyah membangun ekosistem dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

“‘Aisyiyah Sulawesi Selatan tidak hanya membangun organisasi, melainkan sedang membangun peradaban,” kata Mahmudah.

Bupati Pinrang Andi Irwan Hamid, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Milad ke-109 ‘Aisyiyah Tingkat Wilayah Sulawesi Selatan di Kabupaten Pinrang. Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Pinrang merasa bersyukur dan berterima kasih karena dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan tingkat provinsi tersebut.

Menurut Irwan, kehadiran sekitar 2.000 peserta selama rangkaian kegiatan milad turut memberi dampak positif terhadap pergerakan ekonomi masyarakat Pinrang. Ia menyebut kegiatan tersebut ikut menghidupkan aktivitas ekonomi, terutama pada sektor kuliner, penginapan, transportasi, dan UMKM.

“Pinrang berterima kasih sekali karena ‘Aisyiyah ditempatkan di Kabupaten Pinrang. Kegiatan ini pasti memberi pergerakan ekonomi yang luar biasa,” ujar Irwan.

Irwan juga mengapresiasi Sekolah Wira Usaha ‘Aisyiyah yang dinilainya sejalan dengan upaya pemerintah dalam menopang dan mengembangkan UMKM. Ia berharap program tersebut dapat terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Selain itu, Irwan menilai hubungan antara Pemerintah Kabupaten Pinrang, ‘Aisyiyah, dan Muhammadiyah selama ini terjalin harmonis. Ia menyebut banyak kader ‘Aisyiyah yang dilibatkan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti posyandu, penanganan tuberkulosis, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan berbagai kegiatan sosial lainnya.

Menurut Irwan, dakwah tidak hanya berlangsung melalui ceramah atau pidato. Dakwah juga dapat diwujudkan melalui kegiatan nyata yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

“Dakwah itu bukan selalu dalam bentuk pidato atau ceramah. Dalam bentuk kegiatan pun itu sudah termasuk dakwah yang luar biasa karena bersentuhan langsung dengan masyarakat,” katanya.

Irwan juga menyinggung peran ‘Aisyiyah dalam bidang kesehatan di Kabupaten Pinrang. Ia menyebut keberadaan rumah sakit ‘Aisyiyah menjadi salah satu penopang layanan kesehatan swasta di daerah tersebut.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Ambo Asse, M.Ag., menyampaikan selamat Milad ke-109 kepada ‘Aisyiyah. Ia mengapresiasi berbagai capaian ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan yang menurutnya menunjukkan gerakan dakwah yang aktif dan nyata di tengah masyarakat.

Ambo Asse menyebut ‘Aisyiyah memiliki semangat gerakan yang luar biasa, baik dalam pengembangan cabang dan ranting, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, maupun amal usaha.

Ia juga mendorong pengembangan Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan agar ke depan dapat berubah menjadi Universitas ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan. Menurutnya, pengembangan perguruan tinggi ‘Aisyiyah penting untuk memperkuat kontribusi pendidikan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah di Sulawesi Selatan.

“Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan perlu disosialisasikan supaya lebih besar. Saya sangat berharap institut ini berubah menjadi Universitas ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan,” ujar Ambo Asse.

Dalam sambutannya, Ambo Asse juga menegaskan bahwa gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pada dasarnya merupakan gerakan mengajak kepada kebaikan, menyerukan kemakrufan, dan mencegah kemungkaran. Menurutnya, jika gerakan kebaikan itu berjalan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan semakin rukun, damai, dan bahagia.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan turut memberikan apresiasi atas kiprah ‘Aisyiyah. Gubernur Sulawesi Selatan yang diwakili Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Munawir, S.Pt., M.M., menyampaikan bahwa usia 109 tahun bukanlah perjalanan singkat.

Ia menyebut ‘Aisyiyah telah membuktikan dedikasi pengabdian sebagai pelopor gerakan perempuan Islam berkemajuan sekaligus memberi kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa dan daerah, khususnya di Sulawesi Selatan.

Menurut Andi Munawir, tema milad tahun ini sangat relevan dan mendalam. Dakwah kemanusiaan, kata dia, tidak hanya diwujudkan melalui syiar di mimbar, tetapi juga melalui kerja nyata, kepedulian sosial, dan keberpihakan kepada masyarakat yang rentan dan membutuhkan pertolongan.

Ia menilai ‘Aisyiyah telah hadir sebagai penyejuk yang menyebarkan nilai kasih sayang, memperkuat persatuan, dan menjaga harmoni kehidupan masyarakat.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, lanjut Andi Munawir, mengapresiasi berbagai langkah nyata ‘Aisyiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pendampingan hukum, dan pendampingan UMKM.

Kontribusi tersebut, kata dia, sangat membantu pemerintah dalam mengatasi persoalan sosial dan memperluas akses keadilan bagi masyarakat.

“Perdamaian yang hakiki hanya dapat terwujud apabila keadilan ditegakkan, kesejahteraan diwujudkan, dan hak-hak kemanusiaan dijaga bersama,” ujar Andi Munawir.

Ia juga mengajak seluruh kader ‘Aisyiyah untuk terus menjadi garda terdepan dalam mempromosikan nilai-nilai perdamaian, dimulai dari lingkungan keluarga. Menurutnya, keluarga sakinah yang dibina dengan nilai Islam rahmatan lil alamin akan menjadi fondasi penting dalam melahirkan generasi yang berakhlak mulia, toleran, cerdas, dan cinta damai.

Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., dalam amanahnya menyampaikan bahwa milad bukan sekadar ungkapan syukur, tetapi juga refleksi perjalanan organisasi.

Salmah mengatakan, ‘Aisyiyah merupakan organisasi perempuan Islam yang telah berusia lebih dari satu abad. Menurutnya, usia panjang tersebut merupakan nikmat besar yang harus disyukuri, sekaligus menjadi pengingat agar ‘Aisyiyah terus berkembang dan memberi manfaat bagi umat.

Ia menegaskan bahwa tema dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian merupakan respons atas berbagai krisis kemanusiaan, konflik, dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Karena itu, ‘Aisyiyah harus menjadi bagian dari pemecah masalah.

“‘Aisyiyah harus bisa menjadi bagian dari problem solver, bukan bagian dari masalah. ‘Aisyiyah harus hadir bersama-sama dengan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat,” kata Salmah.

Salmah juga mengapresiasi peluncuran Pos Bantuan Hukum, Rumah Sakinah, dan berbagai program pemberdayaan yang dilakukan ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan. Ia menyebut, dakwah kemanusiaan ‘Aisyiyah harus hadir dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, keluarga, dan lingkungan.

Dalam bidang hukum, Salmah menyampaikan bahwa peluncuran Pos Bantuan Hukum ‘Aisyiyah merupakan bagian dari dakwah kemanusiaan untuk memberi akses keadilan bagi masyarakat, terutama perempuan, secara pro bono atau tanpa biaya.

Ia juga menyoroti pentingnya Sekolah Wira Usaha ‘Aisyiyah sebagai fondasi bagi kemandirian ekonomi perempuan. Menurutnya, alumni sekolah wira usaha harus mampu mengelola usaha secara amanah, inovatif, melihat peluang pasar, berkolaborasi, serta memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kualitas produk.

Selain itu, Salmah menekankan tiga basis penting dalam mewujudkan perdamaian melalui dakwah komunitas. Pertama, penguatan keluarga sakinah sebagai fondasi perdamaian dari lingkup paling kecil. Kedua, kerja-kerja sosial ‘Aisyiyah di masyarakat untuk menebarkan nilai saling menghormati, keadilan, dan saling membantu. Ketiga, peran ‘Aisyiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui sikap wasathiyah, penghargaan terhadap keberagaman, serta penghormatan terhadap kemanusiaan.

Ia juga mengapresiasi pelaksanaan milad yang mengedepankan kepedulian lingkungan. Menurutnya, komitmen menjaga kebersihan, mengelola sampah, dan melestarikan lingkungan merupakan bagian dari dakwah kemanusiaan ‘Aisyiyah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Bupati Pinrang, unsur Forkopimda Kabupaten Pinrang, Ketua DPRD Kabupaten Pinrang atau yang mewakili, Wakil Bupati Sidrap, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pinrang, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Pinrang, serta perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Hadir pula Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Makassar, Rektor Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan beserta jajaran, pimpinan amal usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah tingkat wilayah, organisasi perempuan Islam, serta para Pimpinan Daerah, Cabang, dan Ranting ‘Aisyiyah se-Sulawesi Selatan.

Melalui Milad ke-109 ini, ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan harus diwujudkan melalui kerja nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pendampingan hukum, penguatan keluarga, dan pelestarian lingkungan menjadi bagian dari ikhtiar ‘Aisyiyah untuk membangun perdamaian dan peradaban yang berkemajuan.

Kontributor/Editor: Umar Sadik, Asywid

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UNISMUH MAKASSAR

Leave a Reply