KHITTAH.CO, Makassar — Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Ngaji Politik bertema Fastabiqul Khaerat di Panggung Politik di Hotel Grand Imawan, Makassar, Ahad, 26 April 2026, sebagai upaya memperkuat kesadaran politik kader agar lebih peka terhadap persoalan bangsa dan dinamika global.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk merespons berbagai isu politik, baik di tingkat nasional maupun global, sekaligus mempertemukan gagasan, jejaring, dan kepedulian kader terhadap perkembangan kebangsaan.
Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Ahmad, menegaskan bahwa forum Ngaji Politik tidak sekadar menempatkan peserta sebagai pendengar, melainkan sebagai subjek sekaligus objek dalam diskusi.
“Ngaji Politik ini sebenarnya objek dan subjeknya adalah kita semua. Karena itu, forum ini harus menjadi ruang untuk saling memberi masukan, terutama bagi bidang politik dan kebangsaan,” ujar Ahmad.
Ia menjelaskan, Pemuda Muhammadiyah membutuhkan strategi dan improvisasi dalam menghimpun potensi kader. Organisasi kepemudaan, kata dia, tidak bisa hanya bergantung pada dukungan formal, tetapi harus mampu mengelola jejaring, sumber daya, dan kepentingan bersama secara produktif.
Menurut Ahmad, politik tidak boleh dipahami semata sebagai perebutan kekuasaan. Politik berkaitan erat dengan kualitas kebijakan publik, keberpihakan kepada rakyat, serta kemampuan bangsa dalam menyiapkan sumber daya manusia.
“Kalau kebijakan salah sasaran, dampaknya bisa membuat orang miskin. Karena itu, ngaji politik seperti ini penting untuk terus dikembangkan,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan masa depan bangsa yang tidak hanya bersumber dari persoalan domestik, tetapi juga dipengaruhi situasi global yang semakin kompleks, seperti ketegangan geopolitik, embargo ekonomi, hingga perang teknologi.
Dalam konteks tersebut, Ahmad menilai Pemuda Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah perlu mengambil peran sesuai basis gerakannya. Pemuda Muhammadiyah diarahkan pada penguatan kapasitas pemuda, sementara IMM berfokus pada penguatan mahasiswa.
“Ke depan, persaingan itu soal sumber daya. Kalau sumber daya manusia tidak disiapkan, bangsa ini akan sulit menghadapi tekanan global,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kemandirian ekonomi kader. Menurut dia, forum Ngaji Politik dapat berkembang menjadi ruang advokasi sosial dan ekonomi, termasuk penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kalangan pemuda.
Ahmad juga mengingatkan kader agar tidak mudah terseret arus framing politik di media sosial. Ia menilai, perhatian publik kerap diarahkan pada isu tertentu, sementara persoalan lain yang tak kalah penting justru terabaikan.
“Di media sosial, framing politik sangat kuat. Kita tidak boleh kehilangan kemampuan membaca realitas sosial dan politik secara utuh,” katanya.
Ia berharap Ngaji Politik dapat menjadi agenda berkelanjutan. Forum ini, menurut dia, tidak harus selalu menghadirkan narasumber formal, tetapi dapat menjadi ruang berbagi pandangan, pengalaman, dan analisis antar kader.
Melalui kegiatan ini, Pemuda Muhammadiyah Sulsel berupaya menegaskan bahwa politik bukan sekadar arena kekuasaan, melainkan jalan pengabdian untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.




















