Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

PoltekMu Kembali Berbangga! St. Mu’tamirah Raih Doktor Cumlaude, Kembangkan Model MIRAI untuk Kelola Limbah Industri Tahu

×

PoltekMu Kembali Berbangga! St. Mu’tamirah Raih Doktor Cumlaude, Kembangkan Model MIRAI untuk Kelola Limbah Industri Tahu

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — PoltekMu Makassar kembali berbangga atas prestasi akademik yang kembali ditorehkan oleh salah satu sivitas akademikanya. Kepala Laboratorium Sanitasi Politeknik Muhammadiyah Makassar, Dr. St. Mu’tamirah, S.KM., M.Kes., berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude.

Raihan itu diraih setelah St. Mu’tamirah tersebut berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Pengembangan Model Pelatihan MIRAI Pengelolaan Limbah Industri Tahu dengan Teknologi Ramah Lingkungan” dalam sidang promosi doktor di Aula Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu, 26 Agustus 2026.

Hal yang membuat capaian ini semakin istimewa, saat Ketua Tim Penguji, Prof. Dr. Rismah Niswaty, S.S., M.Si. membacakan berita yudisium yang menyebut St. Mu’tamirah berhasil meraih predikat cumlaude dan menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan IPK 4,00.

Prof. Rismah juga mengapresiasi kegigihan dan keuletan Mu’tamirah selama menempuh pendidikan doktoral. Ia menyebut Mu’tamirah sebagai salah satu alumni terbaik Program Doktoral UNM. Karena itu, ia berharap hubungan baik yang telah terbangun selama proses pendidikan tetap terjaga, termasuk melalui silaturahim dan kolaborasi antara Mu’tamirah dan UNM.

Sidang promosi tersebut menjadi penanda perjalanan panjang Mu’tamirah dalam menyelesaikan studi doktoral pada Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Program Pascasarjana UNM. Dalam disertasinya, ia mengembangkan sebuah model pelatihan yang secara khusus ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pelaku industri tahu dalam mengelola limbah dengan teknologi ramah lingkungan.

Suasana haru dan bahagia juga terasa dalam sidang promosi tersebut. Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Dr. Mahmudah, M.Hum., bersama sejumlah pengurus Majelis Lingkungan Hidup PWA Sulsel turut hadir memberikan dukungan.

Sejumlah sivitas akademika dan tenaga kependidikan PoltekMu Makassar juga hadir. Senyum dan wajah bahagia tampak dari mereka yang menyaksikan langsung momen ketika Mu’tamirah dinyatakan berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude.

Ada hal menarik dari disertasi Mu’tamirah. Penelitian tersebut tidak berhenti pada persoalan bagaimana limbah industri tahu dikelola, tetapi berusaha menjawab persoalan yang lebih mendasar: bagaimana mengubah pengetahuan menjadi sikap, keterampilan, dan perilaku nyata dalam pengelolaan limbah.

Model yang dikembangkan diberi nama MIRAI, akronim dari Motivation, Innovation, Reinforcement, Action, dan Internalization.
Lima tahapan tersebut dirancang secara sistematis. Peserta tidak hanya diberikan pengetahuan, tetapi didorong untuk memiliki motivasi, mengenal inovasi dan teknologi, memperoleh penguatan, melakukan praktik, hingga menginternalisasi perilaku pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.

Penelitian ini berangkat dari kondisi pengelolaan limbah industri tahu di Kota Makassar yang masih belum optimal. Rendahnya pengetahuan, keterampilan, dan perilaku pelaku industri dalam menerapkan teknologi ramah lingkungan menjadi salah satu persoalan yang hendak dijawab melalui penelitian tersebut. Di sisi lain, belum tersedia model pelatihan yang sistematis untuk kebutuhan tersebut.

Menariknya, MIRAI tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan.
Model ini mengintegrasikan sejumlah teori pembelajaran, di antaranya ARCS Motivation Model, Self-Determination Theory, Diffusion of Innovation Theory, Operant Conditioning Theory, Experiential Learning Theory, dan Social Cognitive Theory. Integrasi tersebut kemudian melahirkan sintaks pelatihan yang sistematis dan berorientasi pada perubahan perilaku.

Dengan kata lain, peserta tidak sekadar diberitahu bahwa limbah harus dikelola. Mereka diajak memahami, mencoba, mendapatkan penguatan, dan kemudian membangun kebiasaan baru dalam mengelola limbah.

Bukan hanya model, Mu’tamirah juga menghasilkan perangkat pelatihan yang cukup lengkap. Mulai dari buku model, modul pelatihan, rencana pelaksanaan pelatihan, lembar kerja peserta, media pembelajaran, hingga instrumen evaluasi yang telah divalidasi.

Salah satu pihak yang paling berbahagia atas capaian tersebut adalah Direktur PoltekMu Makassar, Prof. Dr. K.H. Mustari Bosra, M.A.

Kebahagiaan itu terasa lebih personal. Sebab, Mustari merupakan salah satu pihak yang sejak awal mendorong Mu’tamirah untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral.

“Kami tentu sangat bahagia dan bangga atas pencapaian Dr. St. Mu’tamirah. Ini merupakan prestasi yang membanggakan, bukan hanya bagi beliau secara pribadi dan keluarga, tetapi juga bagi PoltekMu Makassar. IPK 4,00 dan predikat cumlaude menunjukkan kesungguhan, kerja keras, serta kualitas akademik yang beliau miliki,” ujar Mustari.

Menurut Mustari, capaian tersebut tidak semestinya berhenti sebagai prestasi akademik personal. Gelar doktor dan predikat cumlaude, kata dia, harus menjadi energi baru untuk mengembangkan keilmuan dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Ia berharap hasil penelitian Mu’tamirah dapat terus dikembangkan dan diimplementasikan sehingga tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi benar-benar hadir menjawab persoalan masyarakat.

Harapan itu sejalan dengan implikasi penelitian yang menempatkan Model MIRAI sebagai salah satu pendekatan dalam pemberdayaan pelaku industri tahu, pengelolaan lingkungan, serta pengembangan perilaku masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Penerapannya juga berpotensi mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi dan mengurangi pencemaran.

Bagi PoltekMu Makassar, keberhasilan Mu’tamirah bukan sekadar bertambahnya satu gelar doktor di lingkungan kampus.
Ia adalah bukti bahwa dorongan untuk terus belajar, bekerja keras, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dapat melahirkan karya yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Dan dari ruang sidang promosi doktor itu, satu pesan penting kembali ditegaskan: ilmu pengetahuan akan menemukan maknanya ketika ia mampu mengubah persoalan menjadi solusi.

Dalam konteks disertasi Mu’tamirah, limbah tidak harus berakhir sebagai beban lingkungan. Dengan motivasi, inovasi, penguatan, tindakan, dan internalisasi, limbah dapat dikelola menjadi bagian dari solusi bagi lingkungan dan masyarakat.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply