KHITTAH.CO, MAKASSAR — Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah melalui Majelis Pembinaan Kader menggelar Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Berkemajuan Regional Sulawesi untuk memperkuat transformasi kader perempuan yang berintegritas, visioner, dan mampu menggerakkan umat. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Serbaguna ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Makassar, Sabtu hingga Senin, 30 Mei–1 Juni 2026.
Pelatihan tersebut mengusung tema “Mewujudkan Kepemimpinan Kader Berkemajuan yang Berintegritas, Visioner, dan Menggerakkan Umat”. Kegiatan ini menjadi bagian dari konsolidasi kader ‘Aisyiyah di kawasan Sulawesi sekaligus ruang pembinaan kepemimpinan perempuan dalam menghadapi kebutuhan organisasi, umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Panitia Pelaksana, Rostina Mansyur, M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai ikhtiar bersama untuk memperkuat transformasi kepemimpinan perempuan berkemajuan di lingkungan ‘Aisyiyah. Menurut dia, pelatihan ini diharapkan melahirkan kader pemimpin yang mampu menggerakkan, menginspirasi, dan memberi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.
“Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya bersama untuk memperkuat transformasi kepemimpinan perempuan berkemajuan di lingkungan ‘Aisyiyah, agar mampu menjadi kader pemimpin yang menggerakkan, menginspirasi, serta memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” kata Rostina dalam laporannya.
Rostina menjelaskan, peserta kegiatan berjumlah 85 orang. Mereka berasal dari unsur pimpinan wilayah dari berbagai provinsi di regional Sulawesi, pimpinan daerah ‘Aisyiyah se-Sulawesi Selatan, utusan majelis dan lembaga Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, serta unsur Angkatan Muda.

Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Dr. Mahmudah, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan PP ‘Aisyiyah kepada Sulawesi Selatan sebagai tuan rumah kegiatan regional ini. Ia menyebut pelatihan tersebut sebagai momentum penting untuk memperkuat jejaring kepemimpinan perempuan berkemajuan, terutama di kawasan Indonesia Timur.
Mahmudah menegaskan, kaderisasi dalam tubuh ‘Aisyiyah tidak dapat dilepaskan dari spirit Al-‘Ashr yang selama ini menjadi salah satu fondasi gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Menurut dia, Al-‘Ashr bukan sekadar bacaan pendek, melainkan peta jalan peradaban yang mengajarkan pentingnya iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.
“Kaderisasi yang kita lakukan hari ini sesungguhnya merupakan implementasi dari empat pilar, yaitu orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran,” kata Mahmudah.
Ia juga mengajak peserta untuk menjaga konsentrasi dan atensi selama mengikuti pelatihan. Menurut Mahmudah, di era digital, salah satu hal paling berharga bukan hanya kekuatan fisik atau materi, melainkan kemampuan menjaga perhatian terhadap ilmu dan proses pembelajaran.
Mahmudah berharap pelatihan ini melahirkan jejaring pemimpin perempuan berkemajuan di Indonesia Timur. Jejaring tersebut diharapkan dapat memperkuat proses regenerasi, sekaligus menyiapkan pemimpin ‘Aisyiyah yang berkarakter, berilmu, berintegritas, dan berkemajuan.
“Kita mungkin berbeda wilayah, berbeda kultur, dan berbeda tantangan lokal. Tetapi kita disatukan oleh cita-cita besar yang sama, yaitu menghadirkan perempuan Islam berkemajuan yang mampu mencerahkan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Prof. Dr. Mami Hajaroh, menekankan pentingnya konsolidasi dan transformasi kader. Ia menyebut kader tidak selamanya berada dalam satu posisi organisasi. Karena itu, transformasi kader menjadi keharusan agar estafet kepemimpinan berjalan secara sehat dan berkelanjutan.
Menurut Mami, pelatihan kepemimpinan ini merupakan bagian dari kerja perkaderan fungsional untuk menyiapkan pemimpin perempuan berkemajuan. Ia menilai, proses kaderisasi tidak cukup hanya berhenti pada penyiapan struktur, tetapi juga harus menyiapkan kapasitas, keberanian, dan kesiapan kader menghadapi masa depan organisasi.
“Transformasi kader itu menjadi satu keharusan. Kita tidak boleh takut menyiapkan kader dalam kerangka pergantian kepemimpinan,” kata Mami.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya terhadap kader-kader ‘Aisyiyah di Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan, yang disebutnya selalu bergerak lebih awal dalam merespons program-program kaderisasi. Menurut dia, Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah yang cepat menangkap peluang konsolidasi dan pelatihan kepemimpinan perempuan berkemajuan.
Mami menilai, kehadiran kader lintas generasi dalam satu forum menjadi bagian penting dalam proses perkaderan. Menurut dia, kepemimpinan ‘Aisyiyah ke depan akan semakin banyak diisi oleh generasi muda, terutama generasi milenial dan generasi setelahnya.
“Bertemunya kader senior dan kader junior dalam satu forum organisasi merupakan kondisi yang ideal untuk perkaderan organisasi,” ujarnya.
Sementara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Muhammad Syaiful Saleh, M.Si. Dalam pesannya, menekankan pentingnya kompetensi, akhlak, ibadah, dan kesungguhan kader dalam mengurus organisasi.
Ia mengingatkan, kader yang diberi amanah organisasi harus memiliki kemampuan bekerja, kejujuran, dan tanggung jawab. Menurut dia, banyak persoalan umat yang membutuhkan kehadiran kader ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah yang siap bekerja secara serius.
“Kalau kita semua sungguh-sungguh mengurus organisasi ini, insya Allah Allah akan membuka pintu,” kata Syaiful.
Ia juga menyinggung pentingnya kejujuran dan integritas dalam menjalankan amanah. Menurut Syaiful, tugas organisasi bukan hanya menggerakkan program, tetapi juga membentuk pribadi kader yang dapat dipercaya dan mampu menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial.

Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., menegaskan pentingnya kepemimpinan perempuan berkemajuan yang tidak hanya bertumpu pada kemampuan organisasi, tetapi juga pada nilai spiritual, integritas, keberanian, dan kemampuan membaca kebutuhan zaman.
Salmah menyampaikan bahwa kepemimpinan dalam Islam memiliki banyak teladan. Salah satunya adalah kepemimpinan Nabi Ibrahim yang dinilainya memiliki integritas tinggi, visi besar, keberanian mengambil keputusan, kemampuan komunikasi, dan keteguhan tauhid.
Menurut Salmah, Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus visioner, komunikatif, berani mengambil keputusan yang benar, dan mampu membangun masa depan. Ia mencontohkan bagaimana Nabi Ibrahim berdialog dengan Nabi Ismail sebagai bentuk komunikasi kepemimpinan yang humanis.
“Seorang pemimpin tidak boleh melaksanakan sesuatu tanpa pernah berdiskusi dengan yang lain. Ini contoh kepemimpinan yang komunikatif,” kata Salmah.
Salmah juga menegaskan bahwa pemimpin harus mampu membedakan yang hak dan yang batil, serta berani mengambil keputusan meskipun tidak selalu populer. Menurut dia, kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari ujian, keberanian, keikhlasan, dan kemampuan mengelola potensi orang lain.
Dalam konteks ‘Aisyiyah, Salmah mengingatkan pentingnya merujuk pada Risalah Perempuan Berkemajuan. Ia menyebut tujuh karakter dan sepuluh komitmen perempuan berkemajuan sebagai dasar penting bagi kepemimpinan ‘Aisyiyah.
Menurut Salmah, perempuan berkemajuan harus memiliki iman dan takwa, taat beribadah, berakhlak mulia, berpikir maju, terbuka terhadap perubahan, memiliki kepedulian sosial, dan mampu hadir dalam kehidupan masyarakat secara inklusif.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut dia, perkembangan zaman menuntut kader ‘Aisyiyah untuk memiliki kecakapan baru, termasuk kemampuan teknologi, komunikasi, dan kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan era digital.
“Pemimpin ‘Aisyiyah ke depan tidak cukup hanya memiliki kompetensi dasar, tetapi juga harus memiliki skill yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” ujar Salmah.
Salmah juga menyinggung sejumlah komitmen perempuan berkemajuan, antara lain penguatan keluarga, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, filantropi, perdamaian, kemandirian ekonomi, dan kepedulian terhadap kemanusiaan. Ia menilai, isu-isu tersebut menjadi medan aktual kepemimpinan perempuan ‘Aisyiyah di tengah masyarakat.
Kegiatan ini turut dihadiri unsur Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Majelis Pembinaan Kader PP ‘Aisyiyah, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, fasilitator pelatihan, pimpinan wilayah dari regional Sulawesi, pimpinan daerah ‘Aisyiyah se-Sulawesi Selatan, serta peserta pelatihan.
Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Berkemajuan Regional Sulawesi ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi, pembelajaran, dan penguatan kepemimpinan kader perempuan ‘Aisyiyah.
Kontributor/Editor: Kahfi, Asywid




















