KHITTAH.CO, MAMUJU – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Barat menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Training of Trainers (ToT) Agen dan Verifikator SatuMu di Mamuju, Minggu (5/7/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis mempercepat transformasi digital Muhammadiyah melalui penguatan sistem data organisasi yang terintegrasi dari tingkat pusat hingga ranting.
Bimtek yang berlangsung sehari penuh tersebut diikuti unsur pimpinan dari seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Sulawesi Barat. Peserta terdiri atas ketua, sekretaris, serta agen dan verifikator SatuMu yang nantinya bertugas mengawal implementasi sistem di tingkat daerah, cabang, hingga ranting.
Ketua PWM Sulawesi Barat, Dr. KH. Wahyun Mawardi, mengatakan bahwa pelaksanaan ToT SatuMu merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah menjawab tantangan era digital sekaligus memperkuat tata kelola organisasi berbasis data.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), mulai dari sekolah, rumah sakit, masjid, hingga panti asuhan dengan jutaan kader yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, selama ini data organisasi masih tersebar di berbagai tempat sehingga menyulitkan proses pengambilan keputusan.
“Selama ini data kita masih tercerai-berai. Ada yang tersimpan di Excel, buku administrasi, bahkan hanya diingat oleh pengurus. Akibatnya, ketika dibutuhkan, proses pencarian data membutuhkan waktu yang lama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kehadiran SatuMu atau Satu Data Muhammadiyah menjadi solusi untuk menyatukan seluruh data organisasi dalam satu sistem yang terintegrasi.
“Tujuannya sederhana, yaitu satu data, satu sistem, dan satu pemahaman. Dengan data yang valid, cepat, dan terintegrasi, Muhammadiyah dapat menyusun program secara lebih tepat, mempermudah pelaporan, serta mempercepat pengambilan keputusan,” katanya.
Wahyun menegaskan bahwa peserta ToT tidak hanya dibekali kemampuan mengoperasikan aplikasi, tetapi juga dipersiapkan menjadi pelatih di daerah masing-masing. Mereka diharapkan mampu mendampingi implementasi SatuMu di tingkat PDM, PCM, hingga ranting.
“Peserta hari ini adalah guru bagi para pengelola data di daerah. Setelah pelatihan ini mereka memiliki tanggung jawab untuk melatih kembali pengurus di seluruh tingkatan. Data yang baik akan menjadi fondasi dakwah Muhammadiyah yang lebih berkemajuan,” ujarnya.
Baca juga: Ketua PWM Sulsel Kenang Jejak Sejarah Unismuh Makassar di Usia ke-63
PWM Sulawesi Barat, lanjut Wahyun, berkomitmen menjadikan SatuMu sebagai sistem utama dalam tata kelola organisasi di wilayah Sulawesi Barat sehingga pelaporan menjadi lebih akurat, terukur, dan akuntabel.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki tata kelola organisasi yang profesional, transparan, dan dapat dipercaya, baik oleh masyarakat, pemerintah, maupun para mitra,” tegasnya.
Kegiatan tersebut menghadirkan Wakil Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muh. Amir Nashiruddin, didampingi Arwan Isman dari Sekretariat PP Muhammadiyah bidang Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM) serta Assyifa Maulida dari Muhammadiyah Software Labs.
Dalam paparannya, Muh. Amir Nashiruddin menjelaskan bahwa SatuMu merupakan implementasi amanat Muktamar ke-48 Muhammadiyah untuk membangun tata kelola organisasi berbasis digital melalui ekosistem satu data Muhammadiyah.
“SatuMu adalah program nasional Muhammadiyah yang membangun identitas tunggal organisasi. Platform ini menjadi kantor digital Muhammadiyah yang memuat struktur organisasi dari tingkat pusat hingga ranting, lengkap dengan profil organisasi dan data kepengurusannya,” jelasnya.
Ia juga menyoroti persoalan pengelolaan arsip Muhammadiyah yang selama ini masih dilakukan secara konvensional. Banyak dokumen penting, seperti Surat Keputusan kepengurusan, SK pendirian organisasi, hingga arsip sejarah Muhammadiyah, masih tersimpan secara pribadi oleh pengurus sehingga berpotensi hilang atau sulit ditemukan ketika dibutuhkan.
Menurutnya, digitalisasi melalui SatuMu menjadi solusi untuk menjaga, mengarsipkan, dan mengintegrasikan seluruh dokumen penting Muhammadiyah agar dapat diakses secara lebih aman, tertata, dan berkelanjutan sebagai bagian dari warisan organisasi di masa mendatang.




















