Scroll untuk baca artikel
Berita

Qurban dengan Menyembelih Tikus dan Cicak

×

Qurban dengan Menyembelih Tikus dan Cicak

Share this article

Oleh: Syahrir Rajab

Ibadah qurban bukan sekadar ritual tahunan yang menghadirkan gema takbir, aroma sate, dan pembagian daging kepada masyarakat. Di balik penyembelihan hewan itu tersimpan pesan tauhid dan pendidikan moral yang sangat mendalam: manusia diperintahkan menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam dirinya.

Allah Swt. berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

لَنيَنَالَاللَّهَلُحُومُهَاوَلَادِمَاؤُهَاوَلَٰكِنيَنَالُهُالتَّقْوَىٰمِنكُمْ

Ayat ini menunjukkan bahwa hakikat qurban bukan terletak pada darah dan daging, melainkan pada ketakwaan dan keberhasilan manusia menundukkan hawa nafsunya.

Ismail bin Umar Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa Allah tidak membutuhkan darah maupun daging hewan qurban, tetapi menerima keikhlasan dan ketakwaan hamba-Nya. Demikian pula Abu Abdullah Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menegaskan bahwa amal hanya bernilai apabila dibangun di atas ketakwaan dan niat yang tulus.

Pandangan yang lebih mendalam dikemukakan oleh Abu Hamid Al-Ghazali. Dalam karya monumentalnya Ihya’ ‘Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hawa nafsu dan syahwat kebinatangan dalam diri manusia. Menurut beliau, hewan yang disembelih hanyalah simbol lahiriah, sedangkan yang sesungguhnya harus ditaklukkan adalah nafsu manusia yang liar.

Karena itu, qurban sesungguhnya adalah momentum penyucian jiwa. Manusia diajak menyembelih sifat rakus, egois, sombong, tamak, dan cinta dunia yang berlebihan.

Al-Qur’an bahkan menggambarkan manusia yang hidup tanpa petunjuk dan memperturutkan hawa nafsu lebih sesat daripada binatang ternak.

Allah Swt. berfirman:

“Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
(QS. Al-A’raf: 179)

أُولَٰئِكَكَالْأَنْعَامِبَلْهُمْأَضَلُّ

Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa manusia dapat jatuh lebih rendah daripada binatang apabila akal dan hatinya tidak dipakai untuk kebenaran dan ketakwaan.

Dalam konteks kehidupan bangsa hari ini, ada banyak “sifat kebinatangan” yang masih berkeliaran di tengah masyarakat. Bahkan, secara simbolik, ada “binatang-binatang sosial” yang merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tikus got mungkin hanya kita hindari karena menjijikkan. Namun tikus rumah yang memakan makanan, merusak lemari, kabel, dan peralatan rumah tangga akan kita buru untuk ditangkap bahkan dibunuh dengan perangkap maupun racun tikus. Sebab tikus adalah simbol perusak.

Ironisnya, di negeri ini muncul pula “tikus-tikus berdasi”. Mereka bukan hidup di selokan, tetapi di ruang-ruang berpendingin. Mereka menggerogoti uang negara, merampas hak rakyat, dan memperkaya diri di atas penderitaan masyarakat.

Jalan rusak, sekolah terbengkalai, layanan kesehatan yang lemah, hingga kemiskinan yang tak kunjung selesai sering kali lahir dari kerakusan para pengkhianat amanah.

Allah Swt. berfirman:

“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 188)

وَلَاتَأْكُلُواأَمْوَالَكُمبَيْنَكُمبِالْبَاطِلِ

Korupsi adalah bentuk nyata sifat kebinatangan dalam diri manusia: rakus, tamak, dan tidak memiliki rasa belas kasih kepada sesama.

Demikian pula dengan cicak. Dalam hadis riwayat Sahih Muslim disebutkan bahwa cicak dianjurkan untuk dibunuh. Sebagian ulama mengaitkannya dengan riwayat bahwa cicak meniup api ketika Ibrahim dibakar oleh Namrud.

Cicak dalam makna simbolik dapat dipahami sebagai karakter manusia yang suka meniup api kebencian dan menjadi penghalang kebenaran. Mereka mencemooh orang-orang yang memperjuangkan keadilan, memfitnah pejuang kebenaran, dan berdiri di belakang kekuatan zalim demi kepentingan pribadi.

Mereka tampak kecil, tetapi racun lisannya dapat merusak persatuan dan memadamkan semangat perjuangan umat.

Padahal Allah telah mengingatkan:

“Mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan?”
(QS. Ash-Shaff: 2)

كَبُرَمَقْتًاعِندَاللَّهِأَنتَقُولُوامَالَاتَفْعَلُونَ

Qurban seharusnya melahirkan manusia yang bersih hati, jujur, amanah, dan berpihak kepada kebenaran. Sebab yang paling berbahaya bukanlah hewan liar di hutan, tetapi manusia yang kehilangan nurani.

Iduladha harus menjadi momentum untuk menyembelih “tikus” dalam bentuk kerakusan dan korupsi, serta membunuh “cicak” dalam bentuk kemunafikan dan permusuhan terhadap kebenaran.

Sebab bangsa tidak akan rusak karena sedikitnya orang baik, tetapi karena banyaknya orang yang membiarkan kebatilan terus hidup tanpa perlawanan moral.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply