Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Deposit Kenikmatan Unlimited: Mengeluarkan Sedikit, Allah Konversi Ribuan Kenikmatan Baru

×

Deposit Kenikmatan Unlimited: Mengeluarkan Sedikit, Allah Konversi Ribuan Kenikmatan Baru

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030)

Saya sepakat dengan pandangan dan kesimpulan Husein Ja’far Al-Hadar yang terungkap dalam bukunya, Seni Merayu Tuhan (2022), bahwa Allah itu telah memberi “Deposit” duluan ke kita. Bahkan deposit itu unlimited. Sejak dalam rahim ibu, di mana kita belum mengerti apa-apa, belum berbuat apa-apa, dan belum melaksanakan satu jenis ibadah pun, tetapi deposit berupa nikmat atau kenikmatan Allah telah berikan untuk mengawali kehidupan dengan jumlah tak terbatas.

Masih menurut Husein, “Sebegitu unlimited-nya nikmat Tuhan atas kita, hingga jangankan untuk dibalas, sekadar menjaga salah satu nikmat paling sederhana saja, kita sering abai”. Salah satu nikmat yang sering diabaikan adalah nikmat sehat. Nanti ketika kita sakit barulah kita menyadari betapa besar nikmat oksigen yang kita gunakan untuk bernapas. Pada saat sakit kita mengeluarkan jutaan sampai ratusan juta untuk mendapatkan oksigen, berbeda ketika kita sehat, Allah memberikan secara gratis.

Di dunia ini tidak akan ada satu pun makhluk atau manusia yang akan memberikan kenikmatan setara dengan kenikmatan dari Allah Swt. Bahkan sifatnya deposit unlimited. Kedua orang tua kita bisa saja dipandang bahwa telah memberikan deposit kepada kita sebagai anaknya, tetapi tentu saja deposit itu sifatnya limited, terbatas. Bahkan sangat terbatas ketimbang dari Allah Swt.

Deposit kenikmatan yang unlimited itu sebenarnya mengiringi komitmen suci nan ilahi yang telah kita ikrarkan kepada Allah sebelum ruh itu ditiupkan ke dalam janin. Ketika, Allah berkata “Alastu birabbikum” (Bukankah Aku ini Tuhanmu?), kemudian kita pun menjawab “Bala syahidna” (Ya, kami bersaksi), di sinilah starting point-nya. Hasil dari ikrar dan komitmen suci ini, Allah pun menjamin segala kebutuhan hidup kita, sehingga juga memberikan deposit unlimited.

Seiring perjalanan kita dalam mengarungi setiap detik episode kehidupan duniawi ini, Allah pun terus menambahkan nikmat kepada kita. Deposit sebelumnya belum habis dan belum mampu kita balas, Allah terus menambahkan kenikmatan yang melimpah. Ketika kita sudah mulai tumbuh dewasa yang ditandai dengan hadirnya ciri-ciri baligh dalam diri , Allah pun mendorong kita agar bertakwa kepadaNya, dengan cara menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala laranganNya. Sebelumnya pun dan seterusnya, Allah melalui orang-orang yang ada di sekitar kita diskenariokan agar kita berilmu untuk memahami banyak hal termasuk jalan takwa tersebut.

Kita pun terkadang memaknai ketakwaan itu secara sempit, sebagai bentuk untuk membalas segala kenikmatan dari Allah. Padahal, ribuan rakaat salat pun yang dilakukan setiap hari dipastikan tidak akan sanggup untuk membalasnya. Kebaikan orang tua saja, kita tidak sanggup membalasnya, apalagi nikmat dari Allah yang pada awal kehidupan sudah memberikan deposit unlimited.

Kita kurang paham dan menyadari bahwa ketakwaan itu, sesungguhnya adalah perintah dan larangan yang sebagian besar fungsi dan tujuan untuk kebaikan diri sendiri. Sederhananya, bahwa perintah dan larangan itu adalah cara menjaga deposit kenikmatan unlimited dalam diri kita. Termasuk cara agar kenikmatan yang terus mengalir sebagai kristalisasi rahman-rahimNya Allah, itu memberikan manfaat dan rahmat bagi diri, bukan justru sebaliknya merusak.

Allah memerintahkan kita salat, itu adalah kunci segala ibadah yang akan kita rasakan, baik di dunia maupun di akhirat. Secara sederhana salat itu sesungguhnya adalah character building, membangun karakter positif, produktif, konstruktif. Coba bayangkan dan dihitung berapa kali kita menyebut “Allahu akbar” (Allah Maha Besar) sepanjang hari minimal dalam salat. Ini akan membangun karakter, agar kita tidak minder menjalani kehidupan karena telah mendapatkan percikan kemahabesaran Allah dan membentuk karakter pada diri . Ini satu contoh saja hasil dari salat.

Allah memerintahkan kita puasa, itu minimal dalam konteks duniawi bertujuan dan berfungsi sebagai self controlling (pengendalian diri). Sebab, ketika tidak terbentuk pengendalian diri dalam diri kita semua, bisa dipastikan betapa serakahnya kita dalam menjalani kehidupan ini. Setiap Ramadan pun kita berpuasa, tetapi tingkat korupsi belum juga mampu dikendalikan, ini bisa jadi karena kita masih keliru memahami seakan-akan ibadah kita hanya untuk membalas deposit kenikmatan unlimited itu.

Kita semestinya sampai pada pemahaman dan kesadaran bahwa ayat-ayat qauliyah dan kauniyah itu terintegrasi dan sinergi antara satu dengan yang lainnya. Dengan bahasa lain, saya pun ingin mengatakan seperti ini, bahwa ada integrasi dan sinergi antara semua perintah Allah, potensi diri kita, serta sistem dan hukum alam. Artinya, jika Allah memerintah sesuatu, dipastikan kita mampu melaksanakannya karena potensi, perangkat, dan instrumennya telah built-in dalam diri , hukum dan sistem alam pun terkoneksi di dalamnya, dan dipastikan hasilnya untuk manusia itu sendiri.

Husein pun mengutip yang dikisahkan oleh Imam Ghazali dari kitabnya, Mukasyafat al-Qulub tentang dialog antara Nabi Musa dan Allah. Dalam dialog itu terungkap penegasan Allah, bahwa salatmu, zikirmu, dan puasamu, itu hanya untuk manusia sendiri. Namun, ada satu ibadah yang paling disenangi Allah, apa itu?

Dalam dialog Nabi Musa dan Allah, nabi Musa bertanya “Lalu, ibadah apa yang membuat Engkau senang?” Allah menjawab “Memasukkan rasa bahagia ke dalam diri orang yang hancur hatinya”. Inilah yang di-spill (dibocorkan) oleh Husein tentang ibadah termulia.

Relevan dengan yang dipandang sebagai ibadah termulia itu, dalam rukun Islam hanya ada satu hal yaitu zakat. Kemudian Islam pun dalam konteks lain menegaskan tentang infaq dan sedekah. Minimal dalam penggambaran satu alinea di atas yang meng-spill dialog Nabi Musa dengan Allah, kita pun bisa mendapatkan pemahaman dan sampai pada kesadaran dengan penegasan “Senyum adalah ibadah”. Sebab, kita bisa memastikan bahwa senyum itu akan memasukkan rasa bahagia ke dalam diri orang, tanpa kecuali yang sedang hancur hatinya.

Kembali tentang zakat sambil menghitung deposit kenikmatan unlimited dari Allah—tidak apa-apa kita mengajak para sahabat pembaca menghitung semuanya karena terkadang kita penuh perhitungan dan lupa bahwa Allah tidak seperti itu, bahkan nikmat atau kenikmatan yang diberikan sudah sangat melimpah. Saya pun yakin sahabat pembaca tidak akan pernah bisa menghitungnya dengan kalkulator dan bantuan teknologi AI/KB (artificial intelligence atau kecerdasan buatan) tercanggih di dunia sekalipun.

Di balik deposit kenikmatan unlimited dan kenikmatan yang mengalir terus dari Allah, ternyata Allah hanya mewajibkan zakat 2,5%, 5%, dan/atau 10% bagi mereka yang hartanya sudah cukup nisab dan/atau haulnya—ini untuk zakat mal. Bagi mereka yang hartanya belum cukup nisab dan/atau haulnya, Allah pun hanya meminta berinfaq dan/atau bersedekah. Padahal—berdasarkan dialog Nabi Musa dan Allah di atas—hal ini tentu saja akan memenuhi unsur sebagai ibadah yang paling disenangi Allah karena akan berpotensi memberikan kebahagiaan atau rasa bahagia ke dalam hati seseorang.

Ternyata angka kecil yang diwajibkan dan ini memenuhi unsur yang paling disenangi Allah masih banyak di antara kita yang belum menunaikannya. Kita masih lebih sering fokus pada perintah salat. Padahal berkali-kali dalam Al-Qur’an menyandingkan antara perintah salat dan zakat. Itu berarti salat dan zakat adalah ibadah yang sama-sama wajib.

Di sini logika kita buntu dan rasionalitas kita tumpul sebagai efek yang mungkin kita memang terkadang lebih semangat menerima daripada memberi. Sehingga, kenikmatan yang melimpah yang kita terima dari Allah membuat hati kita enggan untuk memenuhi perintah memberi dari Allah, mengeluarkan zakat yang jumlahnya atau persentasenya hanya sedikit. Mungkin di sinilah pula, sehingga Allah kembali menyemangati kita bahwa “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” atau “Memberi lebih utama daripada menerima”. Bahkan, Allah pun memberikan semangat lagi kepada kita—di mana Allah tahu bahwa kita sebagai manusia diliputi keserakahan dan penuh perhitungan—bahwa harta atau pemberian kita akan dibalas dengan berkali-kali lipat.

Kita lupa, mengeluarkan sedikit saja dari harta yang dimiliki karena Allah, Allah akan mengonversi dengan ribuan kenikmatan baru. Zakat itu membersihkan harta, yang ibaratnya harta itu seperti ikan yang bertulang agar ikan tersebut semakin nikmat, maka dibersihkan terlebih dahulu dari tulangnya. Di sinilah pula sehingga zakat itu kesannya wajib dikeluarkan terlebih dahulu, bersihkan dulu tulangnya sebelum dikonsumsi.

Zakat menenangkan jiwa. Jiwa yang tenang bukan hanya menjaga deposit kesehatan yang telah Allah berikan, bahkan terus semakin membuat diri semakin sehat lahir dan batin. Bukan hanay itu ketenangan jiwa akan mampu membuat salat semakin khusyuk sehingga doa-doa untuk harapan kita bisa sampai kepada Allah yang akhirnya kenikmatan baru hadir kembali. Ketenangan jiwa pun akan memantik aktif dan berfungsinya kedahsyatan otak, dan tentu saja ini adalah modal besar menjalani kehidupan dengan baik termasuk untuk merumuskan strategi bisnis sehingga rezeki harta akan kembali mengalir deras lagi.

Secara kolektif fungsi dan dampak zakat pun akan luar biasa, sebab zakat berpotensi akan membuat seseorang yang awalnya sebagai mustahik akan menjadi muzaki, tentunya ini akan menjadi kekuatan ekonomi baru yang berdasarkan sistem hukum sosial dampaknya pun akan dirasakan oleh banyak orang.

Hasil konversi Allah dalam ribuan kenikmatan baru ini, sungguh diri ini tidak mampu menuliskan semuanya. Oleh karena itu di akhir tulisan ini, saya pun ingin menegaskan bahwa pada dasarnya “memberi” pun dalam pandangan psikologis Arvan Pradiansya dan Erbe Sentanu, itu menjadi hukum dan kunci mencapai kebahagiaan dan untuk mencapai zona ikhlas yang efek positifnya sangat banyak.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply