
Oleh: Fadli Andi Natsif*
Masih dalam suasana hari buku, 17 Mei 2026 ini, membuka arsip tercecer terkait bedah buku yang pernah diadakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Sul-Sel. Buku berjudul Covering Muhammadiyah: Gerakan Islam Berkemajuan dalam Sorotan Media Massa pada Zaman Kolonial Belanda.
Dalam perspektif jurnalisme, covering dapat diartikan peliputan atau pelaporan suatu peristiwa atau berita oleh media. Jadi Covering Muhammadiyah dapat dimaknai meliput Muhammadiyah. Konten buku ini menjadikan Muhammadiyah sebagai objek berita. Dalam hal ini meliput kegiatan yg dilakukan Muhammadiyah. Jenis straight news, berita atau laporan kejadian berupa fakta mengandung unsur penting tanpa opini wartawan.
Juga berupa jenis feature; merupakan informasi yang memadukan fakta atau peristiwa dengan uraian pandangan penulisnya terkait keberadaan Muhammadiyah. Termasuk tulisan terkait profil sosok atau tokoh Muhammadiyah. Jenis lain adalah berita investigative reporting, merupakan berita yang dikembangkan berdasarkan kajian atau penelitian dari berbagai sumber terkait gerakan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan yang berperan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Hal lain juga berupa tulisan opini yang mengulas tentang gerakan dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah baik yang ditulis dari kalangan internal (insider) mau pun oleh orang non Muhammadiyah (outsider). Kemudian tempat atau media yang meliput, hal yang terkait keberadaan Muhammadiyah, dapat dibagi dua; yaitu media yang dibuat oleh orang atau organisasi Muhammadiyah sendiri dan media lain yang tidak punya hubungan atau keterkaitannya dengan Muhammadiyah.
Dengan membaca buku yang ditulis oleh Ahmad Mu’arif ini, maka salah satu hal yang dapat kita dapatkan adalah buku ini merupakan kajian yang mengulas bagaimana perspektif masyarakat umum tentang keberadaan Muhammadiyah berdasarkan konstruksi media massa.
Selain itu juga banyak mengulas informasi tentang seputar pemikiran beberapa tokoh Muhammadiyah generasi pertama tentang gagasan “Islam Berkemajuan” dan gerakan gerakan awal yang mungkin belum banyak dipahami oleh para pimpinan, kader, dan warga Muhammadiyah era ini (zaman now). Dapat dikatakan buku ini merupakan asupan informasi penting dalam penguatan literasi historis Muhammadiyah periode awal (zaman old).
Buku ini ditulis dengan bahasa sederhana sehingga kita mudah memahami apa saja elemen penting dari Islam Berkemajuan, yang menjadi core perjuangan pergerakan Muhammadiyah dewasa ini. Uraian tentang ini dapat kita baca di bab akhir, bagian 4, dengan judul Empat Matra Islam Berkemajuan, yaitu:
– Pengajaran
– Tabligh
– Kemanusiaan
– Literasi
Poin penting bagi kita yang sering dijuluki penggiat literasi, bahwa ternyata Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, sejak awal sebelum mendirikan Muhammadiyah, sudah terlibat aktif di dunia literasi. Narasi tentang hal ini kita bisa temukan juga dalam buku ini. Geliat literasi Ahmad Dahlan sebelum mendirikan Muhammadiyah, di tahun 1911, sudah berlangganan dan membaca media (majalah) ketika itu bernama al-Munir terbit di Padang Panjang. Majalah ini konten nya mirip dengan majalah al-Urwatul Wutsqa dan al-Manar yang terbit di Mesir. Konten majalah ini selalu mengusung tema atau gagasan pembaharuan Islam.
Setahun setelah menggeluti literasi pembaharuan Islam dari media-media tersebut, maka itulah yang menginspirasi sehingga tahun 1912 mendirikan organisasi Islam bernama Muhammadiyah. Sehingga dalam buku dikatakan bahwa majalah al-Munir yang terbit 1911 di Padang Panjang dan berdirinya Muhammadiyah tahun 1912 di Yogyakarta adalah satu mata rantai pembaharuan Islam di tanah air Indonesia. (hal. 25 – 26).
Kemudian menurut Ahmad Syafii Ma’arif (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah), pemberi pengantar buku ini, menulis, bahwa penguatan budaya literasi di kalangan Muhammadiyah di era awal berdirinya yang bertepatan dengan era Revolusi Industri 2.0, dengan mencantumkan secara tegas pada Statuta Pertama Muhammadiyah 1912. Dalam Statuten Muhammadiyah 1912 artikel 3 disebutkan misi persyaratan secara tegas: “…menerbitkan serta membantu terbitnya kitab-kitab, kitab seberan, kitab Khutbah, surat kabar, semuanya yang muat perkara ilmu agama Islam, ilmu ketertiban cara Islam”.
Budaya literasi Muhammadiyah ini semakin konkrit, pada tahun 1915, menerbitkan surat kabar pertama, “Kabar Soewara Moehammadiyah”.Lebih konkrit penguatan budaya literasi, yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan, bukan hanya penerbitan media tetapi lebih dari itu. Dalam uraian matra keempat Islam Berkemajuan, dijelaskan ketauladanan sosok beliau sebagai tokoh penggiat literasi, yaitu sebuah rumah miliknya di jalan Kauman Yogya disulap jadi sebuah perpustakaan sederhana yang disebut Gedong Boekoe, yang dilabeli papan nama BIBLIOTHEEK MOEHAMMADIJAH. Rumah ini hampir setiap hari dikunjungi para murid dan aktivis Muhammadiyah untuk membaca dan meminjam buku (hal. 214).
Sebagai catatan akhir dapat dikatakan bahwa eksistensi penerbitan media oleh Muhammadiyah, yang hingga kini era majalah “Suara Muhammadiyah”, dan tentu harapannya media-media lain yang berada di bawah naungan Muhammadiyah sekarang harus dapat menjadi “corong” pengarusutamaan paradigma kalau tidak dapat dikatakan ideologi Muhammadiyah sebagai gerakan “Islam Berkemajuan”.
*Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Sul-Sel dan Dosen UIN Alauddin Makassar




















