
Oleh: Agusliadi Massere (Wakil Ketua III BAZNAS Kab. Bantaeng)
Tulisan ini sangat penting diresapi dan diimplementasikan oleh siapa saja yang terlibat dalam dunia kerja atau lembaga—terutama—yang di dalamnya menuntut profesionalitas kerja dan peningkatan kinerja. Terma “terutama” dalam pernyataan ini bukan berarti, bahwa saya membuat klasifikasi lembaga yang di antaranya dipandang ada yang boleh diabaikan atau mengabaikan profesionalitas dan kinerja di dalamnya. Saya hanya ingin menegaskan bahwa sesungguhnya keikhlasan itu bukan hanya urusan ibadah ritual dan berdimensi akhirat semata.
Berada dalam suatu lembaga, apalagi lembaga itu adalah lembaga formal, ditopang dengan berbagai regulasi, dan bahkan dilengkapi dengan SOP (baca: standar operasional prosedur), tidak cukup dengan hanya menghafal dan menguasai semua itu. Bahkan, tidak cukup dengan hanya memahami prinsip-prinsip manajemen.
Mengapa penegasan di atas penting? Tentu saja hal itu penting sebab aktor utama yang mengendalikan jalannya suatu lembaga itu adalah manusia. Dalam diri manusia ada proses algoritmik atau bisa pula disebut nalar yang efek akhirnya akan menentukan segala bentuk kesimpulan dan keputusan yang diambil.
Selain itu, manusia pun identik dengan nafsu yang sarat dengan kepentingan-kepentingan. Nafsu yang sarat dengan kepentingan-kepentingan—terutama kepentingan pribadi—itu bisa memengaruhi dan menguasai proses algoritmik atau nalar dalam diri setiap manusia. Korupsi serta berbagai penyimpangan dan penyelewengan, misalnya, itu bisa berawal dari hal ini. Kisah kekekerasan dan pertumpahan darah Habil-Qabil yang mengawali perjalanan sejarah anak-cucu Adam, ini pun sangat dipengaruhi oleh proses algoritmik atau nalar yang terjadi di dalam dirinya.
Proses algoritmik atau nalar dipengaruhi pula oleh nilai-nilai yang terpatri dalam diri seseorang. Nilai yang paling dominanlah yang akan menentukan segalanya, mulai dari pembuatan kesimpulan sampai pada pengambilan keputusan. Tentu saja, hal berikutnya memengaruhi profesionalitas kerja dan peningkatan kinerja.
Sekali lagi, saya ingin menegaskan, profesionalitas kerja dan peningkatan kinerja bukan hanya ditunjang oleh penguasaan prinsip-prinsip manajemen, penguasaan regulasi, skill, dan kemampuan komunikasi yang sering kali dipandang sangat penting dalam dunia kepemimpinan. Ada hal yang sangat penting dan itu harus menyelimuti diri setiap orang yang terlibat di dalam suatu lembaga. Yaitu, keikhlasan.
Istilah dan prinsip “bekerja dengan hati”, “panggilan jiwa”, dan “the calling” pada dasarnya sarat dan mensyaratkan keikhlasan. Membaca buku Yusuf Al-Qaradhawi Al-Niyyah wa Al-Ikhlash, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul buku Energi Ikhlas (2011), kita akan lebih mudah menemukan sejumlah ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya keikhlasan.
Al-Qaradhawi menegaskan “Ikhlas tidak hanya diwajibkan dalam ibadah (hubungan dengan Allah), tetapi juga dalam muamalah (hubungan antara sesama manusia)”. Idrus Hasan (Penerjemah buku Al-Qaradhawi tersebut) menegaskan pula “Apabila sifat ikhlas ini dimilii oleh setiap orang apa pun profesi dan jabatannya, niscaya tidak akan ada lagi penyelewengan, penipuan, atau penyalahgunaan jabatan. Tidak ada lagi korupsi, manipulasi, nepotisme, dan sebagainaya”.
Penegasan Hasan ini, kita bisa menemukan makna korelasi antara keikhlasan dan integritas. Bukan hanya itu, di balik penegasan tersebut mengandung pula makna yang amat dalam yang pada substansinya kita bisa menyebutnya bahwa itu pun berkorelasi dengan profesionalitas kerja. Mengapa? Sebab, profesionalitas kerja bukan hanya dimaknai sebagai penguasaan skill yang berkaitan profesi/pekerjaan, bukan hanya dalam makna penguasaan bidang kerja, bukan hanya fokus pada dimensi cara kerja yang benar yang bertautan dengan makna dari “kerja cerdas”. Namun, beririsan pula dengan dimensi cara kerja yang baik dan patut yang di dalamnya pun dilandasi dengan tanggung jawab yang tinggi dan pemahaman serta kesadaran etika kerja yang baik.
Keikhlasan yang secara sederhana—jika meminjam sebagian kecil pandangan Al-Qaradhawi—adalah sesuatu yang bergerak dari hati yang fokusnya hanya terhadap rida Allah Swt. Manusia yang sarat dengan kepentingan-kepentingan, apabila dituntun dengan keikhlasan tentu saja kepentingan-kepentingannya tersebut adalah kepentingan yang tetap dalam bingkai rida Allah, sehingga akan jauh dari hal-hal yang yang bertentangan dengan dimensi kebenaran, kebaikan, kepatutan, keadilan, dan ketenangan jiwa/kebahagiaan hati. Mereka akan mustahil mengedepankan egoisme, tidak pernah merusak keadilan dan rasa berkeadilan. Mereka pun tidak akan merusak harga dirinya hanya karena kepentingan sesaat dan duniawi, sebab napasnya akan selalu berada dalam bingkai rida Allah Swt.
Keikhlasan yang mengalami mekanisme kerja di dalam hati, jika ditinjau dari struktur fisik-psikis manusia, tentu saja ini sangat besar pengaruhnya—berada pada level struktur yang sangat berpengaruh. Apa lagi, keikhlasan ini tertaut akan pemahaman mendalam dan kesadaran tinggi terhadap kuasa Allah sebagai sumber utama dan penentu segala sesuatu yang terjadi di dalam diri manusia dan di alam semesta. Jadi, keikhlasan bukan sekadar ketulusan atau rasa tulus yang bergerak murni dalam dimensi psikologis, tetapi melampaui dari itu digerakkan oleh kesadaran ilahiah.
Mayoritas umat Islam memahami bahwa ajaran utama dalam agama Islam adalah tentang tauhid, sesungguhnya jika kita mendalami antara tauhid dan keikhlasan itu berada dalam ruang batiniah-ilahiah yang sama. Maksud saya, jika dalam dimensi tauhid ada proses pemurnian dari hal-hal yang menggerogoti ketauhidan, maka dalam keikhlasan pun diwajibkan ada proses pemurnian kepentingan dari kepentingan-kepentingan yang tidak diridai oleh Allah Swt. Keikhlasan mensaratkan dan mensyaratkan fokusnya hanya pada rida Allah Swt terhadap apa pun yang kita lakukan atau kerjakan di muka bumi ini.
Padahal, pasti kita semua mengetahui dan memahami bersama bahwa sesungguhnya yang sering kali merusak—bukan hanya integritas—profesionalitas kerja dan peningkatan kinerja, ketika diri kita didominasi oleh kecenderungan kepentingan pribadi dan kepentingan-kepentingan lain yang tidak berada dalam bingkai rida Allah Swt. Saya membaca buku I Love Monday: Mengubah Paradigma dalam Bekerja dan Bisnis karya Arvan Pradiansyah (Seorang Happiness Inspirator), ada hal senada dengan apa yang baru saja saya jelaskan di atas tentang keikhlasan, meskipun untuk menemukan titik temu maknanya, memerlukan perenungan dan pemahaman yang amat dalam.
Dalam buku Pradiansyah ini, beberapa penegasan senada atau memiliki titik temu makna yang saya maksud adalah ditegaskan “Jangan mengejar uang”. Kemudian ditegaskan kembali “Ketika tidak memikirkan uang, uang akan datang ke hadapan Anda dengan sendirinya”. Tentu saja yang dimaksud Pradiansyah ini, adalah dalam hal bekerja, bukan dalam perspektif afirmasi positif yang sering diterapkan dalam law of attraction. Pradiansyah pun mendorong agar karyawan “Bekerja sepenuh hati”.
Membaca buku Quantum Ikhlas (2010) karya Erbe Sentanu, kita akan memahami dan akan sangat menyadari bahwa ketika diri kita senantiasa berada dalam zona ikhlas, maka energi diri tanpa kecuali energi fisik akan selalu teraktivasi dengan sangat maksimal. Tentu saja dalam makna ini, kita pun bisa menemukan pijakan bahwa keikhlasan bukan hanya meningkatkan profesionalitas kerja, tetapi juga bisa meningkatkan kinerja tanpa kecuali dalam makna atau berdimens “bekerja keras”. Optimalisasi yang diciptakan ketika diri senantiasa berada dalam zona ikhlas bukan hanya dalam aspek fisik, tetapi juga dalam aspek psikologis-spiritualitas. Sebab, zona ikhlas sarat dengan ketenangan jiwa yang kembali mampu mengaktivasi gelombang otak untuk sampai pada gelombang otak Alpha dan Theta. Sedangkan kedua gelombang otak ini bukan hanya memaksimalkan fungsi dan ketahanan fisik, tetapi juga mental.
Keikhlasan atau ketika kita mampu menjaga diri dalam zona ikhlas yang mampu menciptakan ketenangan dan melahirkan kedua gelombang otak yang saya sebutkan di atas maka itu kembali menciptakan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati. Hasil penemuan Bobbi Deporter & Mike Hernacki sebagaimana diungkap dalam bukunya Quantum Learning, suasana hati yang seperti ini secara otomatis akan membangkitkan kedahsyatan fungsi otak. Bukankah, kita telah memahami bersama bahwa profesionalitas kerja dan peningkatan kinerja, itu pun sangat ditunjang oleh kerja maksimal otak—tanpa mengabaikan peran hati di dalamnya.
Mungkin itulah sebabnya—atau minimal berdasarkan kesimpulan saya—Jamil Azzaini dan kawan-kawan membagi proses “kerja” ke dalam tiga bagian: kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Dalam buku Kubik Leadership: Solusi Esensial Meraih Sukses dan Hidup Mulia karya Jamil Azzaini, dkk., menempatkan kerja ikhlas pada posisi yang paling besar pengaruhnya dan paling dahsyat efeknya. Kerja ikhlas di sini dimaknai “Bentuk usaha terarah dalam mendapatkan sebuah hasil dengan menggunakan kesucian hati sebagai manifestasi kemuliaan dirinya”. Terarah, kesucian hati, dan kemuliaan diri, jika ini dipandang sebagai kata kunci, tentu saja ini pun berbicara tentang keikhlasan, rida Allah, dan jauh dari sesuatu yang merusak harga diri.
Ulasan tentang keikhlasan tentu saja adalah ulasan yang amat mendalam tidak akan pernah memadai jika hanya berada dalam ruang tulisan opini singkat. Semoga, dalam kesempatan lain bisa diulas lebih jauh dan amat mendalam. Yang pasti orang yang ikhlas akan senantiasa semangat bekerja, hatinya bahagia, jiwanya tenang. Tidak gelisah dan tidak malas.


















