Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng, 2025-2030)
Sejak membaca dan memahami perspektif Algoritma Yuval Noah Harari dalam konteks manusia, saya sering mengontekstualisasi algoritma atau proses algoritmik tersebut ke dalam banyak hal—bukan hanya dalam konteks teknologi atau dalam bahasa program komputer. Bahkan, saya pun menemukan dan memahami dengan baik cakupan yang lebih luas, yaitu algoritma Allah sebagai ruang untuk memahami keseimbangan dan integrasi antara doa, ikhtiar, hak prerogatif Allah, Ar-Rahman, law of attraction, dan hal lainnya.
Algoritma dalam bahasa teknologi atau penyusunan bahasa program untuk suatu aplikasi teknologi, dipahami sebagai “langkah metodis”. Dalam bahasa program dikenal dengan kunci logika sederhana “jika” dan “maka”—“jika begini, maka begitu”. Logika yang biasanya dilengkapi dengan gambar flowchart (bagan alir), saya sering mempelajarinya ketika masih kuliah di D3 (baca: Diploma tiga) Teknik Komputer Jaringan (TKJ) Universitas Hasanuddin.
Harari dalam konteks manusia memberikan gambaran bahwa algoritma dipengaruhi oleh sensasi-sensasi, emosi-emosi, dan pikiran-pikiran. Ketika saya memperluas pemaknaan ini tentu saja bisa dipengaruhi oleh keyakinan, keimanan, tujuan, prinsip, ideologi, teologi, cinta/kasih-sayang, serta berbagai pemaknaan dan nilai kehidupan.
Tentang kemudahan memahami algoritma, di hadapan forum perkaderan dan LDK (baca: Latihan Dasar Kepemimpinan), saya sering memberikan contoh kaitannya dengan media sosial. Ketika kita sering mengomentari, me-like, dan meng-share postingan penjual cendol, misalnya, maka yang akan sering lewat di beranda Facebook kita adalah terkait cendol. Kurang lebih seperti itu cara algoritma bekerja atau proses algoritmik itu.
Dalam perspektif “Membangun algoritma zakat”, saya ingin warga, masyarakat, dan/atau umat Islam yang memiliki harta yang sudah cukup nisab dan/atau haulnya, maka seketika dirinya tergerak untuk menunaikan zakatnya. Jika belum cukup nisab dan/atau haulnya, maka tergerak pula hatinya untuk berinfaq dan bersedekah. Bukan hanya ini, termasuk penyalurannya melalui lembaga resmi—di antaranya BAZNAS—sebab berbeda dampaknya penyaluran person to person ketimbang melalui lembaga resmi yang manfaat dan dampaknya lebih terasa dan besar.
Membangun algoritma zakat di hati umat membutuhkan upaya serius, masif, berjamaah, dan kolektif, sebab bukan hanya realisasi dari potensi zakat yang belum maksimal—termasuk berdasarkan data dan potensi nasional—melainkan semangat “menerima” ketimbang “memberi” masih jauh lebih besar atau spirit “tangan di bawah” masih lebih sering tampak daripada spirit “tangan di atas”.
Kita pun sering kali menjumpai ketika diperhadapkan terhadap penyaluran atau distribusi bantuan pemerintah banyak orang yang berlomba-lomba mengaku sebagai orang miskin atau kurang/tidak mampu. Persoalan terakhir ini, ketika kita ingin membahas dan mengkaji lebih mendalam ada pula yang relevan dengan proses algoritmik dan jika kita menyadari maka itu pun akan bermuara pada kondisi yang negatif dan destruktif secara personal dan kolektif.
Ada banyak fakta atau fenomena kehidupan umat Islam yang menggambarkan bahwa proses algoritmik dalam dirinya, urusan zakat masih menempati posisi “pinggiran”, bukan yang utama atau prioritas. Dibandingkan dengan empat rukun Islam lainnya, zakatlah yang belum secara serius, maksimal, dan ikhlas untuk ditunaikan.
Fakta sederhana, umat Islam rajin melaksanakan salat, tetapi zakatnya belum maksimal, padahal ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menegaskan posisi yang sama serta saling melengkapi dan melekat antara keduanya (baca: salat dan zakat). Sama halnya, ada banyak umat Islam yang umroh berkali-kali, melaksanakan ibadah haji lebih dari satu kali, tetapi zakatnya belum diprioritaskan dan dimaksimalkan, kecuali zakat fitrahnya pada setiap bulan Ramadan.
Akhirnya gambaran kondisi di atas sampai pada kesimpulan secara nasional bahwa realisasi zakat masih jauh lebih kecil ketimbang potensi zakat yang ada. Tentu saja ini adalah PR (baca: pekerjaan rumah) bersama, sebab zakat juga adalah bagian penting dari rukun Islam. Selain itu, zakat dipandang sebagai instrumen ekonomi dan keadilan sosial yang sangat strategsi dalam Islam, bahkan bisa menjadi basis nilai teologis yang posisinya mampu menggerakkan umat.
Gambaran di atas pun yang menjadi pemantik sehingga saya terdorong atau dalam diri ini mengalami pula proses algoritmik yang memandang pentingnya membangun algoritma zakat dalam diri. Algoritma zakat yang terbangun dalam diri umat Islam akan menjadi mekanisme psikis dan spiritual untuk senantiasa menggerakkan dirinya untuk menunaikan kewajiban zakatnya.
Dalam kondisi kehidupan yang tidak menentu hari ini dan penuh godaan negative dan destruktif, baik dalam perspektif sosial, hukum, ekonomi, dan politik, membangun algoritma zakat dalam diri tentu saja bukan persoalan mudah, meskipun bukan hal mustahil. Membangun algoritma zakat dibutuhkan berbagai upaya, bukan hanya dalam makna menunggu hidayah langsung dari Allah, tetapi ada instrumen lain—yang jika kita mengedepankan perspektif tauhid, semuanya itu pun dari Allah—yang harus dimaksimalkan.
Atas dasar pertimbangan terakhir ini, saya memandang bahwa pentingnya “Optimalisasi tiga dunia” dalam membangun algoritma zakat. Tiga dunia ini, jika dilakukan sesuai dengan kerangka tuntunan agama, etika, dan moralitas, saya yakin Allah pun sangat meridainya.
Saya terlebih dahulu menegaskan terma “Dunia” bukan hanya dalam makna bumi atau ruang geografis yang didiami. Makna dunia itu—jika meminjam pandangan Yasraf—itu multibentuk dan multidimensional. Bahkan dunia itu bisa bersifat imajinatif, ilusif, halusinasif, dan tergantung dari aspek atau dimensi yang sedang dibicarakan.
“Optimalisasi tiga dunia” sebagai sebuah istilah dan pandangan, saya sering menyampaikannya di forum-forum pertemuan yang dihadiri para penyelenggara pemilu, mulai dari tingkat KPPS sampai PPK, ketika saya masih menduduki posisi sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018-2023. Lalu, apa yang saya maksud sebagai tiga dunia? Begitupun, optimalisasi tiga dunia?
Tiga dunia yang saya maksud adalah “Dunia nyata”, “Dunia virtual”, dan “Dunia gaib/dunia spiritual”. Saya menegaskan juga lebih awal sebelum menimbulkan prasangka atau penilaian negatif bahwa dunia gaib yang saya maksud tentu bukanlah identik dengan ilmu hitam, santet, tetapi sangat identik dengan dunia spiritual atau sering pula diistilahkan sebagai “Jalur langit”.
Pertama, optimalisasi dunia nyata. Untuk membangun algoritma zakat dalam diri manusia, kita bisa mengoptimalkannya melalui dunia nyata. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan terbangunnya algoritma zakat dalam diri umat Islam. BAZNAS Kab. Bantaeng, terutama sepanjang bulan Mei 2026 ini, melakukan kegiatan berkeliling desa untuk bersilaturahmi sambil bersosialisasi dan memberikan pencerahan-pencerahan dalam rangka membangun menara kebaikan dan sekaligus menegakkan rukun Islam ketiga (baca: zakat) ini.
BAZNAS Kabupaten Bantaeng, yang secara kelembagaan bukan milik pribadi atau golongan tertentu, sejatinya mendapatkan juga dukungan maksimal dari berbagai pihak, seperti para penyuluh agama yang berada dalam naungan kementerian agama. Dukungan yang dimaksud adalah dengan memaksimalkan sosialisasi dan pencerarahan-pencerahan terkait penegekan rukun Islam ketiga, zakat.
Apalagi kementerian agama adalah leading sector BAZNAS, tanpa kecuali antara Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng dan BAZNAS Kabupaten Bantaeng, sehingga para penyuluh agama bisa menjadi garda terdepan dalam membantu fungsi BAZNAS untuk memberikan pencerahan bagi umat terkait kewajiban berzakat bagi yang telah memenuhi syarat. Selain itu tentu saja mereka pun para penyuluh agama bisa menjadi teladan dalam menunaikan zakat.
Para mubalig pun adalah salah satu pihak yang punya peran besar untuk memaksimalkan upaya membangun algoritma zakat dalam diri umat Islam. Saya menyebut beberapa posisi yang bisa berperan maksimal membantu di dunia nyata untuk membangun algoritma zakat, namun bukan berarti bahwa pihak lainnya tidak punya peran dan kesempatan. Sebenarnya siapa saja bisa mengambil bagian dan peran penting dan mulia ini untuk membangun algoritma zakat yang selanjutnya memberikan dampak besar terhadap keadilan dan ekonomi umat, warga, dan masyarakat setempat.
Kedua, dunia virtual. Dalam konteks kehidupan hari ini, di tengah perkembangan teknologi digital dan pemanfaatan maksimal media sosial baru, membangun algoritma zakat dalam diri umat Islam, bisa pula dioptimalkan melalui instrumen ini atau dunia virtual ini. Apalagi menurut tesis Yasraf tentang tahap keempat terkait perkembangan nilai di masyarakat, itu sangat dipengaruhi oleh fraktal atau apa yang viral. Selain itu, hari ini, media sosial bukan hanya sebagai representasi dari realitas, justru potensi sebaliknya, apa yang ada di dalam realitas kehidupan adalah representasi dari apa yang sebelumnya terjadi di media sosial baru (seperti Facebook, dan lain-lain).
Apalagi, jika kita membaca buku Sihir Gawai karya Prof. Mujiburrahman, kita akan memahami banyak hal berbasis data, di antaranya, hari ini 8,55 Jam minimal waktu dihabiskan di dunia virtual di antaranya dengan berselancar di media sosial. Bahkan, hasil riset di Amerika Serikat, dan diyakini itu pun terjadi di Indoensia, khususnya remaja, yang pertama kali dilakukan ketika bangun dari tidurnya adalah meraih handphone-nya.
Dua alinea terakhir di atas, itu menggambarkan betapa penting, strategis, dan besar pengaruhnya media sosial atau dunia virtual. Optimalisasi melalui dunia virtual, tentu saja merupakan instumen penting pula untuk membangun algoritma zakat dalam diri umat Islam. Caranya dengan memaksimalkan konten zakat yang berisi ajakan, pencerahan, penyadaran, dan termasuk manfaat serta nilai-nilai yang bisa memengaruhi algoritma yang terjadi dalam diri manusia.
Terkait optimalissi dunia virtual ini, bukan hanya bisa dimaksimalkan oleh BAZNAS Bantaeng, tetapi siapa saja dan di mana pun, bisa ikut serta berperan memaksimalkan upaya optimalisasi ini, minimal dengan cara me-like, meng-share, dan mengomentari setiap postingan tentang zakat yang lewat di beranda media sosialnya. Apalagi jika membantu membuat konten positif tentang zakat, infaq, dan sedekah, itu adalah bagian yang bisa dipandang sebagai dukungan untuk mengoptimalkan dunia virtual dalam rangka membangun algoritma zakat dalam diri umat Islam.
Dunia nyata dan dunia virtual yang dioptimalkan untuk membangun algoritma zakat, bukan berarti bahwa peran dunia spiritual jalur langit tidak penting lagi. Sama sekali jauh dari kesimpulan tersebut. Dunia nyata dan dunia virtual yang dioptimalkan itu pun adalah bagian dari ikhtiar yang diridai Allah, karena kedahsyatan dampak keduanya di dalamnya ada hukum dan prinsip yang juga merupakan bagian dari ciptaan Allah Swt.
Setelah dunia nyata dan dunia virtual, tentu saja yang harus pula dimaksimalkan adalah dunia spiritual atau jalur langit. Minimal memaksimalkan doa agar hati umat Islam dibuka untuk senantiasa mengingatkan kewajibannya untuk berzakat. Ikhtiar di dunia nyata dan dunia virtual, bisa tidak berguna bahkan akan sia-sia tanpa ada rida dan rahmat dari Allah. Apalagi, manusia pada dasarnya hanya bisa memaksimalkan ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya tetap bisa dalam kendali dan sebagai Hak Prerogatif Allah Swt.
Tulisan ini hanya bagian permukaan atau bagian tersingkat dari apa yang menjadi substansi dari pandangan saya selaku penulis dalam upaya mengoptimalkan tiga dunia untuk membangun algoritma zakat. Pendalamannya bisa di ruang nyata dalam perbincangan atau diskusi yang lebih serius.





















