Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Pancaran Kecerdasan Emosional dan Spiritual dari Zakat

×

Pancaran Kecerdasan Emosional dan Spiritual dari Zakat

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030)

KHITTAH. CO – Kehidupan yang dijalani tidak hanya untuk mencapai kesuksesan semata. Ada banyak orang yang telah memiliki berbagai kemewahan sebagai salah satu bentuk indikator kesuksesan, tetapi hidupnya berakhir secara tragis. Mereka mengakhiri hidupnya melalui jalan pintas, padahal indikator kesuksesan telah dimilikinya. Ternyata, selain mencapai kesuksesan, kebahagiaan pun harus hadir dalam kehidupan.

Pencapaian kesuksesan sekaligus kebahagiaan dalam kehidupan adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan, sehingga modal yang seharusnya dimiliki bukan hanya kecerdasan intelektual—dibutuhkan pula kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Meskipun dalam beberapa masa kecerdasan intelektual pernah sangat diagung-agungkan, dipuja, dan dijadikan indikator tunggal untuk mengukur keunggulan dan kapasitas seseorang.

Kecerdasan intelektual bisa dicapai dan ditingkatkan melalui aktivitas-aktivitas yang berdimensi rasionalitas, logika, teknis,  prosedural, dan matematis dengan melibatkan bagian otak kiri. Kecerdasan intelektual tetap sangat penting dalam kehidupan meskipun tidak boleh berdiri sendiri. Dalam hal zakat dan/atau berzakat kecerdasan intelektual tetap penting, terutama pada ranah nisab dan haul harta yang dimiliki termasuk perhitungan persentase harta yang wajib dikeluarkan.

Zakat dan/atau berzakat tidak bisa didekati semata-mata dengan kecerdasan intelektual. Sebab, kecerdasan intelektual untuk konteks zakat itu hanya berpotensi menyentuh dimensi permukaan lebih pada kalkulasi kewajiban dan persentasenya semata. Mengandalkan kecerdasan intelektual semata dalam memahami kewajiban zakat dan/atau berzakat tidak akan pernah mampu untuk menembus kedalaman rasa yang menyentuh ruh zakat itu sendiri.

Kecerdasan intelektual dalam aktivitas zakat kurang bahkan tidak mampu menyentuh janji dan jaminan Allah tentang manfaat berzakat yang akan kembali kepada para muzakinya sendiri. Kecerdasan intelektual tidak akan mampu memahami bahwa zakat yang ditunaikan itu bisa membersihkan harta, menyucikan jiwa, menentramkan jiwa, bahkan bisa menumbuhkan dan menjaga harta.

Kecerdasan intelektual semata yang beroperasi dalam kewajiban berzakat akan cenderung memandang bahwa antara zakat dan pajak itu sama saja, sehingga ada kecenderungan terbersit keluhan bahwa untuk apa berzakat, padahal kita sudah membayar pajak yang telah diwajibkan oleh pemerintah dan/atau negara. Yang pasti kecerdasan intelektual yang digunakan untuk meneropong kewajiban berzakat hanya bisa melihat dimensi permukaannya.

Dalam konteks kewajiban berzakat pun, pancaran kecerdasan intelektual yang dihasilkan terasa sangat minim—hanya seputar nisab, haul, kadar, dan jenisnya. Saya merasakan bahwa dari kewajiban berzakat yang paling terang pancaran cahayanya adalah terkait kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya. Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual pun mampu membawa diri ke dalam pemahaman dan kesadaran bahwa berzakat itu memiliki multimanfaat, baik bagi muzaki, termasuk bagi mustahik.

Ketulusan, keikhlasan, dan lingkar kebaikan yang menjadi jalan menuju surga dari kewajiban berzakat hanya bisa dipahami dan dicapai dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Ketika kecerdasan intelektual hanya mampu menyentuh dimensi permukaan dari kewajiban berzakat, maka kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual akan mampu membawa diri untuk menembus dimensi kedalamannya.

Kecerdasan emosional dan kewajiban berzakat akan membentuk lingkaran energi positif yang akan saling menguatkan antara satu dan yang lainnya. Ini memiliki relasi timbal balik yang saling menguatkan, sehingga ibarat bola salju dari lingkaran energi positif ini, jika terus dilakukan energi positifnya akan semaki besar, luas, dan semakin terasa di tengah-tengah warga, umat, dan/atau masyarakat.

Kecerdasan emosional menjadi modal utama untuk bisa merasakan penderitaan, kekurangan, dan berbagai kendala yang dihadapi oleh orang lain dalam menjalani kehidupannya. Kecerdasan emosional yang akan memandu diri untuk tidak terjebak pada dimensi individualitas manusia semata, tetapi sampai pada kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain atau kehadiran orang lain penting dan strategis dalam kehidupan, seperti apa pun latar belakang orang tersebut. Kesadaran yang dilahirkan dari kecerdasan emosional ini tentu saja akan menggugah hati bahwa berzakat bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban, tetapi bagian dari upaya membangun relasi simbiosis mutualisme, termasuk dalam konteks si kaya dan si miskin.

Kecerdasan emosional mampu menunjukkan bahwa kesenjangan atau jurang pemisah yang lebar antara si kaya dan si miskin, itu adalah sesuatu yang tidak wajar dan jauh dari dimensi keadilan sosial. Jika pun itu (baca: kesenjangan) telah terjadi, maka kecerdasan emosional pulalah yang bisa melahirkan kesadaran agar empati—bukan sekadar simpati—bisa menjadi langkah solutif agar yang terasa di balik kesenjangan itu justru kohesivitas sosial yang berawal dari pikiran dan perasaan bahwa di antara kami atau di antara mereka tetap ada relasi simbiosis mutualisme.

Kecerdasan emosional meruntuhkan benteng egoisme yang cenderung untuk mengonstruksi bangunan kemewahan individualitas dalam kehidupan dan menjadi basis gaya hidup flexing dan narsis. Sebaliknya, kecerdasan emosional akan membangun kehidupan sosial yang kokoh, menjaga neraca keadilan sosial, agar kohesivitas sosial bisa menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan kolektif yang berkemajuan.

Beberapa poin di atas, tentu saja menguatkan pandangan, pemahaman, dan kesadaran bahwa betapa penting kecerdasan emosional dalam perintah atau kewajiban berzakat. Sebaliknya pun, zakat itu mampu memancarkan kecerdasan emosional. Zakat bisa membuat diri seseorang mengalami peningkatan dalam hal kecerdasan emosional. Kewajiban zakat yang ditunaikan secara terus menerus sesuai syariat, maka akan mengokohkan kecerdasan emosional yang sangat penting sebagai modal utama dalam menjalani kehidupan, apalagi kehidupan yang dijalani identik dengan jalinan relasi antara satu dan yang lainnya.

Selain kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual pun menjadi modal utama agar penunaian kewajiban berzakat bisa melahirkan nilai dan makna dalam kehidupan sehingga kebahagiaan hakiki atau sejati bisa dirasakan. Kecerdasan spiritual akan memandu diri kita, termasuk dalam menunaikan kewajiban berzakat, bahwa hal itu tidak sia-sia.

Ketika manusia atau seseorang merasakan bahwa perbuatannya selama ini tidak berguna karena nilai dan kuantitasnya masih sangat kecil atau sederhana, apalagi sambil melihat dirinya yang dalam strata sosial dinilai dalam posisi marginal, maka kecerdasan spirituallah yang akan selalu memandu dan mengingatkan bahwa hal itu tidak sia-sia, tetapi itu sangat bermakna dan bermanfaat.

Zakat yang dikeluarkan—termasuk infaq dan sedekah—yang mungkin terasa nilai dan kuantitasnya masih sangat kecil, tetapi kecerdasan spiritual bisa menyentuh hati bahwa itu tetap mulia di sisi Allah Swt. Apalagi dilakukan secara ikhlas.

Kecerdasan spiritual akan menolak rasionalitas dan logika terkait bisikan “kapitalis” yang penuh perhitungan yang terkadang memercikkan rasa takut kekurangan ketika sering berzakat atau membantu orang lain secara umum. Kecerdasan spirituallah yang akan memandu bahwa di balik kewajiban berzakat, sesungguhnya itu adalah bagian penting agar relasi vertikal antara hamba denga Allah Swt, tetap terhubung dengan baik.

Kecerdasan spiritual sebagai pemantik utama lahirnya makna dari setiap peristiwa, dinamika, perintah, dan/atau kewajiban dalam ibadah apapun tanpa kecuali zakat. Makna pun dalam kehidupan yang dijalani itu memiliki peran penting agar diri kita selalu penuh semangat menjalani kehidupan.

Sebaliknya, kewajiban berzakat akan senantiasa mengasah dan meningkatkan kecerdasan spiritual sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan. Menunaikan kewajiban berzakat akan memperkokoh bangunan kecerdasan spiritual yang bisa berfungsi sebagai drive untuk mengendalikan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional yang terkadang ketika kedua kecerdasan ini tidak terkendali bisa memiliki potensi pada perilaku penipuan yang berkelas kakap.

Jadi, beberapa catatan di atas, tampak sangat jelas bahwa zakat itu bisa memancarkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, meskipun sebaliknya kedua kecerdasan ini akan semakin menguatkan pemahaman dan kesadaran betapa kewajiban dalam berzakat, itu adalah sesuatu yang sangat mulia. Dia melaksanakan zakat berarti kita sedang mengasah bahkan membangun secara kokoh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UNIMEN

Leave a Reply