Scroll untuk baca artikel
Opini

Dua Tubuh, Satu Suluh: Refleksi Milad ‘Aisyiyah yang Teduh

×

Dua Tubuh, Satu Suluh: Refleksi Milad ‘Aisyiyah yang Teduh

Share this article

Oleh: (Hadi Pajarianto, Pendamping Ibu Aisyiyah)

KHITTAH.CO — Di tanah yang mengenal Siri’ sebagai harga diri, dan Pesse’ sebagai luka yang harus dipikul bersama, hari ini tanggal 31 Mei 2026, Aisyiyah merayakan Milad ke-109 di kota Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Perempuan Aisyiyah dari segala penjuru Provinsi ini, bergerak bersama melalui energi Teologi Al-Ma’un dan Al-‘Ashr merasakan empati yang mendalam atas luka sosial orang lain seolah-olah luka itu juga dirasakan oleh diri sendiri. Bukan hanya berbekal rasa Welas Asih yang secara psikologis menyatu dalam diri seorang perempuan, melainkan bertumbuhnya solidaritas kemanusiaan dari Ibu bangsa yang lahir sejak tahun 1917 jauh sebelum bangsa ini menghirup nafas kemerdekaan.

Milad bagi Jalaluddin Rumi, bukan sekadar momentum bertambahnya usia, melainkan sebuah proses untuk terus bertumbuh dalam cinta, kebijaksanaan, dan kedekatan dengan Tuhan. Rumi berkata “kemarin aku cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku mengubah diriku sendiri”. Dengan demikian, Milad hakikatnya bukanlah perayaan bertambahnya usia semata, tetapi memastikan bertumbuhnya ruhani. Nilai usia bukan dari panjangnya, melainkan manfaat dan dampaknya bagi sesama manusia, dengan menghadirkan lebih banyak cinta, makna, dan kedekatan kepada Tuhan pemilik semesta. Karenanya, kata Nabi Muhammad SAW “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.

Milad ke-109 ‘Aisyiyah bukan sekadar ritual historis atas lahirnya organisasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia ini. Ia merupakan ruang jeda untuk berkaca, lalu melakukan refleksi diri bagaimana sebuah gerakan perempuan mampu bertahan, berkembang dan relevan melampaui satu abad. Konteks “Dua Tubuh, Satu Suluh” menawarkan ruang refleksi untuk menggambarkan dua entitas yang berbeda, tetapi memiliki orientasi nilai dan tujuan yang sama. Terkadang, relasi organisasi otonom khusus perempuan dengan organisasi induknya sering dibaca melalui perspektif subordinasi atau hanya sekedar representasi. Padahal, secara historis ‘Aisyiyah lahir, tumbuh, dan berkembang bukan sebagai pelengkap Muhammadiyah, melainkan sebagai mitra strategis yang memiliki ruang, otoritas, dan kontribusi yang khas. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah adalah dua tubuh organisasi yang berbeda, tetapi keduanya menyalakan suluh yang sama, dakwah Islam berkemajuan.

Pada dokumen Risalah Perempuan Berkemajuan yang lahir dari Muktamar ke-48 di kota Surakarta, dijelaskan bahwa spirit organisasi ini adalah menjunjung tinggi kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa diksriminasi. Spirit ini dapat dibaca melalui filosofi Yin dan Yang dalam tradisi pemikiran Tiongkok. Yin dan Yang sering disalahpahami sebagai simbol oposisi biner, padahal, esensinya bukanlah pertentangan, melainkan relasi saling melengkapi. Yin melambangkan kelembutan, keteduhan, dan kemampuan merawat, sementara Yang melambangkan ketegasan, daya dorong, dan orientasi perubahan. Keduanya tidak ditempatkan dalam hubungan hierarkis, melainkan relasional.

Lebih dalam lagi, pada dokumen Risalah Perempuan Berkemajuan juga menguraikan konteks sosiohistoris, kelahiran ‘Aisyiyah berada di tengah-tengah pergumulan konstruksi sosial budaya masyarakat yang meminggirkan perempuan, keterbatasan akses perempuan yang berkutat di wilayah domestik dan budaya suwarga nunut neraka katut (perempuan masuk surga atau neraka karena mengikuti laki-laki (orang tua, saudara laki-laki, atau suami). Dalam konteks ini, ‘Aisyiyah merupakan kelompok masyarakat memobilisasi sumber daya, membangun solidaritas kolektif, dan memanfaatkan peluang politik untuk memperjuangkan perubahan terhadap struktur sosial maupun kebijakan publik, melalui contentious politics (Tilly dan Tarrow (2007). Secara transformatif, ‘Aisyiyah tidak sekadar hadir sebagai organisasi tempat berhimpunnya perempuan, tetapi sebagai gerakan sosial yang memprotes ketidakadilan kultural yang saat itu telah dinormalisasi secara wajar oleh masyarakat.

Protes sosial yang dilakukan ‘Aisyiyah tidak mengambil bentuk konfrontasi radikal terhadap budaya maupun agama, tetapi dalam bentuk transformasi gerakan dan aksi sosial berbasis nilai keagamaan. Lihatlah beberapa gerakan perempuan di belahan dunia seperti Women’s Social and Political Union (WSPU) di Inggris yang memperjuangkan hak pilih perempuan dengan melakukan aksi perusakan terhadap sejumlah fasilitas umum, atau gerakan perempuan FEMEN di Ukraina yang melakukan demonstrasi bertelanjang dada dengan tubuh yang dicat slogan-slogan untuk menarik perhatian media. ‘Aisyiyah menempatkan laki-laki dan perempuan tidak dalam kerangka oposisi biner yang saling berlawanan, tetapi secara relasional-fungsional memiliki tanggungjawab yang sama menjalankan peran sebagai khalifah yang harus berdampak pada semesta.

Khasanah luhur Sulawesi Selatan menawarkan filosofi assitinajang sebagai prinsip kepatutan menuju harmoni kehidupan (Muhammad Yusuf: 2013). Dari filosofi ini, laki-laki dan perempuan dipandang memiliki martabat yang setara, karena keduanya adalah entitas ciptaan Tuhan yang secara fitrawi saling membutuhkan. Jika salah satunya rusak atau hilang, maka keseimbangan tidak akan tercipta. Maka sepanjang gerakannya sampai di usia 109 tahun, ‘Aisyiyah melakukan kritik terhadap budaya patriarki dengan tetap mempertahankan nilai kepatutan, dan melalui aksi nyata di bidang pendidikan, dakwah sosial keagamaan, dan pemikiran berkemajuan, bukan bukan melalui pertentangan terbuka yang dapat menyebabkan konflik sosial.

Usia 109 tahun merupakan pembuktian, bahwa ‘Aisyiyah yang lahir dari nyala kecil perjuangan Kyai Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah, yang senantiasa menjaga kobaran semangat tersebut dengan sabar dan penuh keyakinan. Gejolak zaman yang terkadang menenggelamkan perempuan dalam titik nadir kehidupan, ‘Aisyiyah hadir sebagai suluh yang menolak padam, mengubah nasib perempuan tanpa gaduh dalam gerakan perlawanan. Pada rahim sejarah Muhammadiyah, ‘Aisyiyah lahir, tumbuh, dan berkembang bukan sekedar sebagai bayang-bayang yang menemani langkah Muhammadiyah, melainkan cahaya yang dinyalakan melalui pikiran-pikiran orisinil para perempuan berkemajuan.

Selamat Milad ‘Aisyiyahku, ini bukan sekedar artefak perjalanan waktu. Semoga engkau tetap teduh seperti embun yang menyejukkan dan menghidupkan, namun kuat seperti akar yang dalam sunyi menyangga pohon peradaban semesta.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI

Leave a Reply