Scroll untuk baca artikel
Berita

Prof Hamdan: Sarjana Unlimited Tidak Habis Ide dan Selalu Bicara Gagasan

×

Prof Hamdan: Sarjana Unlimited Tidak Habis Ide dan Selalu Bicara Gagasan

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Koordinator Kopertais Wilayah VIII Sulawesi, Maluku, dan Papua, Prof Hamdan Juhannis MA PhD, mengajak lulusan Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) menjadi sarjana unlimited atau sarjana tanpa batas.

Pesan tersebut disampaikan Prof Hamdan saat memberikan sambutan pada Wisuda Ke-88 Unismuh Makassar di Balai Sidang Muktamar, Kampus Unismuh Makassar, Sabtu, 20 Juni 2026.

Menurut Hamdan, sarjana tanpa batas bukanlah sosok yang mengetahui segala hal. Sarjana unlimited justru merupakan pribadi yang terus membuka diri terhadap pengetahuan baru dan tidak membatasi diri hanya pada bidang keilmuan formal yang dipelajari selama kuliah.

“Jadilah sarjana unlimited, sarjana no limit, sarjana tanpa batas,” ujar Hamdan di hadapan wisudawan, orang tua, pimpinan universitas, dan tamu undangan.

Ia menjelaskan bahwa sarjana unlimited adalah mereka yang tidak pernah kehabisan ide dan senantiasa memperkaya diri melalui ilmu pengetahuan, bacaan, pengalaman, serta kemampuan melihat berbagai kemungkinan.

“Sarjana tanpa batas adalah sarjana yang tidak pernah kehabisan ide, selalu membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan, bukan semata yang terkait dengan bidangnya,” katanya.

Karena itu, Hamdan mendorong para lulusan untuk terus belajar lintas disiplin, mulai dari digital marketing, filsafat, logika berpikir, biografi tokoh-tokoh besar dunia, hingga sirah nabawiyah dan berbagai bacaan yang dapat memperkuat karakter serta wawasan kemanusiaan.

Dalam pandangannya, lulusan perguruan tinggi tidak seharusnya terjebak dalam kebiasaan membicarakan orang atau sekadar membahas peristiwa. Menurutnya, kebiasaan tersebut hanya menempatkan seseorang pada level yang biasa-biasa saja.

Sebaliknya, sarjana unlimited harus membiasakan diri membicarakan gagasan, solusi, dan ide-ide baru yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Sarjana unlimited adalah sarjana yang terobsesi untuk selalu membicarakan ide-ide baru,” ujar Hamdan.

Ia menambahkan, kemampuan untuk terus berkembang juga ditentukan oleh kesediaan belajar dari siapa pun. Karena itu, Hamdan mengutip pepatah Arab unzhur ma qala wa la tanzhur man qala, yang berarti lihatlah apa yang dikatakan, jangan hanya melihat siapa yang mengatakannya.

Menurut dia, prinsip tersebut penting agar lulusan mampu mengambil pelajaran dari siapa pun dan dari keadaan apa pun.

“Sepanjang ide itu produktif dan inspiratif, kita ambil demi penguatan kapasitas diri kita,” katanya.

Dalam sambutannya, Hamdan juga menyinggung dua sosok wisudawan yang menurutnya mencerminkan semangat sarjana no limit. Pertama, wisudawan berprestasi tingkat universitas, Nur Afiq Zaki Ananda, lulusan Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Kedua, Nurfadila, lulusan Program Studi Pendidikan Sosiologi FKIP yang merupakan penyandang disabilitas netra.

Menurut Hamdan, keduanya menunjukkan bahwa batas sering kali tidak terletak pada keadaan luar, melainkan pada cara seseorang memandang dirinya sendiri. Nur Afiq memperlihatkan prestasi akademik yang kuat, sementara Nurfadila membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang menyelesaikan pendidikan tinggi.

“Yang sarjana terbaik tadi itu luar biasa. Yang tunanetra tadi juga bisa sarjana dengan keterbatasan pandangan,” ujarnya.

Hamdan mengatakan, sarjana unlimited adalah mereka yang mampu menjadikan setiap orang sebagai sumber inspirasi. Selama suatu gagasan bersifat produktif dan inspiratif, lulusan harus berani mengambil pelajaran tanpa terjebak pada siapa yang menyampaikannya.

Bagi Hamdan, lulusan Unismuh harus menjadi generasi yang mampu melihat celah dan alternatif ketika orang lain hanya melihat batas.

“Sarjana tanpa batas adalah bukan sarjana yang menguasai segalanya, tetapi sarjana yang selalu melihat berbagai kemungkinan, melihat celah, melihat alternatif ketika orang lain hanya melihat garis pembatas,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Hamdan yang juga Rektor UIN Alauddin Makassar menyebut Wisuda Ke-88 Unismuh Makassar sebagai momentum yang istimewa karena dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Dr Fauzan MPd.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas hubungan baik antara UIN Alauddin Makassar dan Unismuh Makassar. Menurutnya, kedua kampus memiliki kedekatan historis dan akademik yang telah terjalin selama ini.

Hamdan turut memuji Balai Sidang Muktamar Unismuh Makassar yang mampu menampung peserta wisuda dalam jumlah besar. Ia menilai suasana wisuda memperlihatkan energi besar dari para wisudawan dan orang tua.

Ia berharap energi tersebut tidak berhenti pada seremoni kelulusan, melainkan berlanjut menjadi semangat belajar sepanjang hayat.

Wisuda Ke-88 Unismuh Makassar mengukuhkan 1.411 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan. Momentum tersebut turut dihadiri unsur pemerintah, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, LLDIKTI Wilayah IX, Kopertais Wilayah VIII, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, pimpinan universitas, orang tua, serta keluarga wisudawan.

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply