Scroll untuk baca artikel
Berita

Resepsi Milad ke-40 Ummul Mukminin ‘Aisyiyah, Refleksi Pendirian hingga Cetak Ribuan Alumni Unggul

×

Resepsi Milad ke-40 Ummul Mukminin ‘Aisyiyah, Refleksi Pendirian hingga Cetak Ribuan Alumni Unggul

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR – Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin ‘Aisyiyah Wilayah Sulawesi selatan menggelar tasyakuran resepsi Milad ke-40 tahun.

Sejak berdiri dan memulai proses pembelajaran pada tahun 1986, kini tibalah saatnya digelar tasyakuran resepsi Milad ke-40 tahun yang penuh syukur dan khidmat.

Resepsi dengan tajuk “Melintasi Generasi, Menguatkan Komitmen Pesantren Unggul dan Berkemajuan” ini berlangsung di Lapangan Indoor Pondok Pesantren Ummul Mukminin, Jl. KH. Abd Jabbar Asyiri, Sudiang Makassar, Ahad (28/6/2026).

Direktur Ummul Mukminin Dra. Masriwaty Malik, M.Thi, menyampaikan bahwa semarak milad telah terlaksana sebelumnya dengan menghadirkan beberapa rangkaian kegiatan mulai pemeriksaan kesehatan gratis dan donor darah, pawai gerak jalan santai disusul pembukaan bazar dan pameran, bazar murah dan seminar pendidikan serta ditutup dengan resepsi puncak Milad 28 Juni 2026 hari ini.

Ia menyebut resepsi milad ini sebagai momentum bermuhasabah diri untuk terus berbenah dan menguatkan dakwah pendidikan pesantren mendatang.

“Mari kita terus bermuhasabah dan berbenah, 40 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Selama empat dekade, Ummul Mukminin telah melintasi berbagai zaman, menghadapi berbagai tantangan, dan terus beradaptasi dengan perubahan,” ungkapnya.

Masriwaty pula mengutip Surah Ibrahim 24-25, Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.

Ayat diatas dikaitkan dan menjadi ilustrasi pondok pesantren ummul mukminin senantiasa kuat dan menguatkan, 40 tahun dalam kebersamaan.

Lebih lanjut, Masriwaty Malik menegaskan bahwa hari ini bukan sekadar memperingati bertambahnya usia. Hari ini adalah momentum untuk mengenang jejak perjuangan para pendiri, para pewakaf, para pimpinan, guru, dan seluruh pihak yang telah mengabdikan tenaga, pikiran, bahkan hartanya demi berdirinya Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin.

“Kita reflesikan sejarah berdirinya yang begitu banyak kenangan, mulai dari pohon mangga hingga menjadi cahaya peradabaan dan mencetak ribuan alumni unggul yang sudah tersebar ke seluruh pelosok,” tambahnya.

Dengan demikian, ia menyampaikan terimakasih kepada semua pihak sehingga ummul mukminin bisa menggelar tasyakuran milad ke-40 tahun.

“Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh pendiri, para pewakaf, khususnya keluarga almarhumah Hj. Athirah Kalla, para sesepuh aisyiyah, para pimpinan terdahulu, guru, karyawan, alumni, orang tua santri, serta seluruh pihak yang selama empat puluh tahun telah menjadi bagian dari perjalanan besar Ummul Mukminin. Semoga setiap langkah pengabdian yang telah diberikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya hingga akhir hayat,” harapnya.

Terpisah disampaikan, Ketua Badan Pembina (BP) Ummul Mukminin Prof. Dr. Hj. Siti Aisyah Kara, MA., Ph.D menyampaikan bahwa pelaksanaan resepsi milad ke-40 tahun ini sebagai wujud kedewasaan sekaligus bukti kesyukuran ummul mukminin.

“Melintasi generasi itulah tema dan wujud komitmen kita semua, mengantar pesantren ini menjadi eksis untuk ummat dan bangsa kedepannya,” katanya.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini menyebut bahwa ada beberapa point yang menjadi komitmen bersama diantaranya bahwa ummul mukminin senantiasa mengintegrasikan kurikulum agama dan sains, sehingga melahirkan alumni yang unggul disegala aspek dan telah menjadi platfom pondok, juga standarisasi manajemen pondok yang terus diperkuat dan komitmen pemberdayaan dan penguatan perempuan berkemajuan.

“Semua ini merupakan ikhtiar dan jihad pesantren untuk terus meneguhkan visi-misi pesantren sehingga melahirkan alumni yang unggul disegala bidang,” tambahnya.

Dengan demikian, ia berharap semoga dengan momentum milad ini, ummul mukminin terus melahirkan perempuan ilmuan, ulama, umara yang berintegrutas unggul dan berkemajuan.

Terpisah, Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah M. Izzul Muslimin menyampaikan bahwa usia 40 tahun merupakan fase yang sangat penting dalam perjalanan sebuah institusi. Ia mengaitkan usia tersebut dengan momentum kenabian Nabi Muhammad SAW yang menerima wahyu pada usia 40 tahun, sehingga menurutnya, Milad ke-40 bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari fase kematangan dan kemajuan yang lebih besar.

“Harapan kita setelah 40 tahun, Ummul Mukminin bukan justru meredup, tetapi semakin berkembang, semakin berjaya, dan semakin maju,” ujarnya di hadapan ratusan tamu undangan dan civitas pesantren.

Pada kesempatan tersebut, Izzul Muslimin juga mengenang keterlibatannya dalam proses penciptaan Himne Ummul Mukminin atas permintaan Direktur Pondok Pesantren. Ia mengungkapkan bahwa proses penyelesaian himne tersebut memerlukan waktu lebih dari satu tahun karena menurutnya, karya seni membutuhkan proses perenungan dan penghayatan yang mendalam.

Lebih lanjut, Sekretaris PP Muhammadiyah menilai pemilihan nama “Ummul Mukminin” merupakan keputusan yang sarat makna dan visi perjuangan. Nama tersebut, menurutnya, merujuk pada sosok-sosok perempuan agung dalam sejarah Islam yang menjadi pendamping sekaligus penerus perjuangan Rasulullah SAW.

Ia mencontohkan sosok Sayyidah Khadijah sebagai perempuan yang tidak hanya mendampingi Rasulullah, tetapi juga mengorbankan seluruh harta dan kehidupannya demi perjuangan Islam. Selain itu, ia juga menyoroti keteladanan Sayyidah Aisyah sebagai perempuan cerdas, ulama, dan pendidik yang kemudian menginspirasi lahirnya organisasi ‘Aisyiyah dalam Muhammadiyah.

“Pemilihan nama Ummul Mukminin bukan sekadar nama, tetapi merupakan cita-cita besar untuk melahirkan perempuan-perempuan beriman, cerdas, dan mampu menjadi pelanjut perjuangan dakwah Islam,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan Ummul Mukminin selama empat dekade telah menunjukkan capaian yang luar biasa. Ia menyebut perkembangan jumlah santri yang awalnya hanya berjumlah 17 orang, kini telah mencapai lebih dari 1.200 santri sebagai bukti keberhasilan kaderisasi dan pengelolaan lembaga pendidikan tersebut.

Meski demikian, Izzul Muslimin mengingatkan bahwa momentum milad juga harus menjadi ruang muhasabah atau refleksi bersama. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan sebuah lembaga tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang otomatis berlangsung selamanya.

Untuk memastikan keberlangsungan Ummul Mukminin di masa depan, ia menggarisbawahi empat faktor utama yang harus menjadi perhatian seluruh elemen pesantren dan persyarikatan.

Pertama, kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan zaman. Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan sosial berlangsung sangat cepat sehingga setiap lembaga pendidikan harus mampu menyesuaikan diri agar tidak tertinggal.

Ia mencontohkan perjalanan perkembangan teknologi komunikasi, mulai dari telegram, pager, telepon seluler, Blackberry hingga smartphone berbasis Android, yang menunjukkan bahwa tidak ada satu teknologi pun yang akan bertahan selamanya apabila gagal beradaptasi dengan perubahan.

“Kalau kita tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, maka kita akan tertinggal dan digilas oleh perubahan itu sendiri,” tegasnya.

Kedua, ia mengingatkan pentingnya menghindari mismanagement atau kesalahan tata kelola organisasi. Menurutnya, tata kelola yang baik harus dibangun melalui kepemimpinan yang adaptif, terbuka, partisipatif, dan mengedepankan musyawarah.

“Di Muhammadiyah, yang kita cari bukan suara terbanyak, tetapi keputusan terbaik. Karena belum tentu yang terbanyak itu yang paling benar,” ujarnya.

Ketiga, ia menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh keberhasilannya menyiapkan generasi penerus yang kompeten dan memiliki pengalaman kepemimpinan yang memadai.

“Kita tidak hidup selamanya. Karena itu, estafet kepemimpinan harus dipersiapkan sejak dini agar organisasi tetap berjalan dengan baik,” katanya.

Keempat, Izzul Muslimin mengingatkan pentingnya kemampuan mengelola konflik. Menurutnya, konflik merupakan hal yang alamiah dalam kehidupan manusia dan organisasi, tetapi yang paling penting adalah bagaimana konflik tersebut dikelola agar tidak berkembang menjadi perpecahan.

Ia mencontohkan runtuhnya Yugoslavia akibat kegagalan dalam mengelola konflik internal, sekaligus membandingkannya dengan Indonesia yang hingga kini mampu mempertahankan persatuan di tengah keberagaman yang sangat kompleks.

“Konflik bukan untuk dihindari, tetapi harus dikelola dengan baik agar tidak menghancurkan organisasi,” jelasnya.

Di akhir sambutannya, Sekretaris PP Muhammadiyah berharap Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin dapat terus berkembang dan menjadi model pengembangan pesantren putri unggulan, tidak hanya di Sulawesi Selatan, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia.

Ia juga berharap pesantren tersebut terus melahirkan kader-kader perempuan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang unggul, berkemajuan, serta mampu berkiprah di tingkat nasional maupun global.

“Mudah-mudahan Ummul Mukminin akan terus melahirkan kader-kader ‘Aisyiyah yang luar biasa, menjadi pelopor dakwah Islam, dakwah Muhammadiyah, dan dakwah kemanusiaan di seluruh penjuru dunia,” pungkasnya.

Terpisah, Dalam amanatnya, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) ‘Aisyiyah Sulsel, Dr. Mahmudah, M.Hum menyampaikan bahwa momentum 40 tahun perjalanan Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin bukan sekadar perayaan historis, melainkan menjadi ruang refleksi, evaluasi, sekaligus proyeksi masa depan lembaga pendidikan kader perempuan Muhammadiyah tersebut.

“Sebagaimana arahan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam milad ini, yakni bersyukur, melakukan muhasabah atau refleksi diri, serta menyiapkan langkah-langkah strategis untuk masa depan,” ujar Mahmudah di hadapan ribuan tamu undangan, alumni, santriwati, dan keluarga besar pesantren.

Menurutnya, keberhasilan yang telah dicapai PPPUM selama empat dekade harus menjadi modal sosial untuk memperkuat eksistensi pesantren sebagai amal usaha strategis ‘Aisyiyah dalam mewujudkan tujuan persyarikatan Muhammadiyah, yakni menegakkan ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Mahmudah menegaskan bahwa tema Milad ke-40 memiliki makna mendalam, yakni menjaga kesinambungan kaderisasi lintas generasi dengan tetap mempertahankan karakter Islam berkemajuan yang menjadi identitas utama Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

“Tantangan kita hari ini bukan hanya mempertahankan nilai, tetapi juga menginternasionalisasikan nilai tersebut melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa asing, kepemimpinan, kewirausahaan, serta jejaring global,” katanya.

Ia menambahkan, internasionalisasi yang dimaksud bukan berarti meninggalkan identitas keislaman dan keindonesiaan, melainkan memperluas daya jangkau pendidikan agar mampu melahirkan kader perempuan yang berwawasan global, namun tetap berpijak kuat pada nilai-nilai Islam.

Dalam kesempatan itu, Mahmudah menguraikan bahwa selama ini Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin membangun sistem kaderisasi melalui empat pilar utama, yakni akidah yang lurus sebagai fondasi keimanan, akhlak mulia sebagai karakter kehidupan, ibadah yang benar sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, serta pengamalan ilmu yang bermanfaat bagi sesama.

“Empat pilar ini adalah fondasi yang tidak boleh berubah. Namun, memasuki abad kedua ‘Aisyiyah dan menghadapi dinamika global, kita harus bergerak dari internalisasi menuju internasionalisasi,” tegasnya.

Menurut Mahmudah, perempuan berkemajuan yang dicita-citakan ‘Aisyiyah bukan sekadar pendamping pembangunan, melainkan aktor utama perubahan sosial yang memiliki kekuatan spiritual, keluasan ilmu, keluhuran akhlak, kepedulian sosial, kemampuan kepemimpinan, dan kesiapan berkompetisi di tingkat global.

Ia menegaskan bahwa perempuan dalam Islam memiliki posisi yang setara dalam menjalankan amanah sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. Oleh karena itu, pendidikan perempuan menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun peradaban.

“Kader perempuan harus hadir sebagai pelaku transformasi sosial, pencerdas umat, penguat keluarga, serta penggerak perubahan yang membawa kemajuan bagi bangsa dan kemanusiaan,” ujarnya.

Turut hadir pada resepsi Milad ke-40 ini Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah Izzul Muslimin, Biro Kesra Mewakili Gubernur Sulsel, Staf Ahli Wali Kota Makassar Ahmad Namsum, Sekretaris PW Muhammadiyah Sulsel Rakhim Nanda, Ketua PW Aisyiyah Sulsel Mahmudah, Rektor Insitut Aisyiyah Sulsel Nurhayati Azis, Kyai Pondok Pesantren Drs. KH. Jalaluddin Sanusi, para sesepuh Aisyiyah dan Pesantren Ummul Mukminin.

Hadir pula Ketua DPRD Kabupaten Bulukumba, Ketua FKPP Makassar Hj. Nurfajri Fadli Luran, Kasi Pontren Kementerian Agama Makassar H. Hasan Pinang, Ketua MUI Kota Makassar Prof Muhammad Sabir, LP2M PW Muhammadiyah Sulsel, Ketua PDM Makassar, Direktur Pondok Pesantren Muhammadiyah se-Sulsel, Direktur Biota Wisata Travel Haji dan Umrah, Lazismu Sulsel, Mitra Perbankan Syariah, Kementerian Agama Makassar, Dinas Pendidikan Makassar, Pengurus Ikatan Alumni Ummul Mukminin (IAUM), para Alumni Lintas Generasi Angkatan, Pimpinan, Guru, Karyawan, Santriwati Ummul Mukminin dan seluruh tamu undangan lainnya yang tak bisa disebut satu persatu.

Kegiatan ini pula dirangkaikan dengan penayangan kaleidoskop kilas balik 40 tahun perjalanan dari masa ke masa pondok pesantren puteri ummul mukminin, juga penganugrahan apresiasi kepada pimpinan, guru dan karyawan serta peresmian Guest House Ummul Mukminin. (*)

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI

Leave a Reply