Scroll untuk baca artikel
Opini

Kedaulatan, Keadilan, dan Kemakmuran Bagi Anak Negeri: Refleksi Hari Anak Nasional

×

Kedaulatan, Keadilan, dan Kemakmuran Bagi Anak Negeri: Refleksi Hari Anak Nasional

Share this article

Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

KHITTAH. CO – Bung Karno pernah mengatakan “Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum kapitalisnya merajalela ataukah yang seluruh rakyatnya makmur? Kita harus memilih yang kedua: kesejahteraan sosial!” Sedang Bung Hatta (Wakil Presiden Pertama RI) mengatakan bahwa “Kemerdekaan nasional bukan tujuan akhir kita. Kemerdekaan hanyalah syarat untuk bisa menyelenggarakan keadilan sosial dan kemakmuran bagi rakyat.

Kemerdekaan bagi Bung Karno maupun Sutan Syahrir, bukan tujuan akhir dari perjuangan bangsa ini. Tetapi syarat untuk kemakmuran dan keadilan bagi anak negeri, sebagaimana dikatakan oleh Bung Karno bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas. Jembatan emas ini menjadi jalan untuk meraih kemakmuran. Namun hingga saat ini kemakmuran tersebut masih tertatih-tatih, masih jauh panggang dari api.

Sejalan dengan impian meraih kemakmuran tersebut, Indonesia memiliki impian besar untuk menjadikan usia 100 tahun (se-abad) sebagai Indonesia Emas di tahun 2045. Indonesia Emas yaitu Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur,  Indonesia yang rakyatnya sejahtera tidak berada dalam genggaman kapitalis. Nah, untuk sampai ke impian tersebut tentu membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kapasitas yang tidak hanya cerdas tetapi juga memiliki integritas, sehingga kekayaan negeri ini betul-betul dinikmati oleh anak negeri secara berkeadilan.

SDM yang kita harapkan yang akan berjalan memimpin dan merawat rumah besar bernama Indonesia bukanlah generasi kita hari ini, melainkan tangan-tangan kecil yang saat ini mungkin sedang belajar mengeja atau bertaruh nyawa menyeberangi jembatan rapuh demi pergi ke sekolah. Anak-anak adalah pemilik masa depan, dan memperjuangkan hak mereka adalah bentuk investasi kedaulatan yang paling mutlak. Anak yang memiliki kedaulatan adalah mereka yang memiliki ketahanan berpikir kritis, tidak mudah didikte oleh tren global yang dangkal, dan jiwanya dilindungi oleh negara dari predator siber serta eksploitasi daring.

Kemerdekaan dan kedaulatan bagi anak-anak dalam konteks kekinian dapat dimaknai sebagai kebebasan dari penjajahan mental dan eksploitasi digital,  bukan sebagai objek yang dikendalikan teknologi, bukan objek yang diperbudak oleh pembuat aplikasi. Namun dalam kenyataan hari ini, tidak  sedikit anak-anak direnggut kemerdekaannya oleh algoritma media sosial, candu gawai, hingga jerat judi online, yang pada akhirnya merusak kesehatan mental mereka.

Jika kemerdekaan dan kedaulatan anak masih tersandera bagaimana pula dengan keadilan sosial? Keadilan bagi anak dalam konteks kekinian dapat dimaknai sebagai pemerataan fasilitas kesehatan, standardisasi kualitas guru, dan pemenuhan hak nutrisi yang sama dari Sabang sampai Merauke, termasuk pembebasan anak jalanan dari rantai eksploitasi. Tanpa adanya keadilan distributif sejak dalam kandungan hingga masa tumbuh kembang, kompetisi menuju masa depan hanyalah sebuah sandiwara yang memenangkan mereka yang sudah kaya sejak lahir.

Bila kita menengok ke jalan maka tampak bahwa anak-anak masa depan belum sempat menikmati keadilan itu sendiri. Kita bisa menyaksikan dengan mata kepala telanjang bagiamananak jalanan yang menjamur di lampu merah kota-kota besar di balik debu knalpot dan terik matahari, mereka terpaksa menukar masa kecilnya dengan sekeping koin demi bertahan hidup. Hal ini diperparah oleh adanya eksploitasi eksploitasi anak, baik eksploitasi ekonomi oleh sindikat jalanan yang terorganisir, maupun eksploitasi seksual anak secara daring (onlinechildsexualexploitation). Di sisi lain ada sebuah ironi yang menyayat hati ketika kita melihat anak-anak tumbuh dengan fasilitas sekolah internasional yang mewah, sementara di sudut lain, anak-anak jalanan dipaksa bekerja layaknya robot, dieksploitasi oleh kemiskinan struktural, dan rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan fisik maupun seksual.

Ketika kedaulatan dan keadilan sosial belum dapat dinikmati oleh anak-anak hari ini, maka sulit bagi mereka untuk menikmati kemakmuran itu. Kemakmuran bagi anak-anak dapat diraih bilamana mereka mendapatkan rasa aman dan ruang kebahagiaan, mereka terbebas dari trauma kekerasan dalam rumah tangga, bebas dari eksploitasi demi kepentingan ekonomi orang tua, terlindungi dari perundungan (bullying) di sekolah, dan memiliki akses luas untuk mengeksplorasi sains, teknologi, serta seni.

Hari ini kita boleh berbangga dengan kekayaan sumber daya alam negeri yang beraneka  ragam.  Kita boleh berbangga bahwa negara memiliki minyak bumi, nikel, atau emas di dalam tanah, isi lautnya beraneka ikan yang tidak ditemukan di negara lain, kekayaan budaya yang beraneka ragam. Namun bila isi kepala dan kesehatan mental anak-anak yang sedang tumbuh hari ini terabaikan, karena kedaulatan, keadilan  sosial dan kemakmuran bagi anak masih jauh panggang dari api, maka sulit rasanya dalam waktu beberapa ke depan untuk kita masuk Indonesia Emas 2045.

Momentum hari Anak Nasional tahun ini, kita melakukan refleksi secara mendalam dan menyeluruh agar apa yang menjadi harapan para pendahulu kita untuk hadirnya kedaulatan, keadilan sosial dan kemakmuran bagi anak-anak negeri dapat terwujud sehingga kemerdekaan sebagai  jembatan emas menuju satu abad Indonesia dapat dinikmati oleh seluruh anak-anak negeri.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI

Leave a Reply