
Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
KHITTAH. CO – Impian menjadikan Indonesia menjadi Indonesia Emas di tahun 2045 adalah sebuah impian yang ideal dan realistis bilamana kita dapat memanfaatkan bonus demografi sebaik dan secermat mungkin. Namun, ada hal yang menjadi ganjalan yang cukup serius ketika kita mencoba menelusuri kondisi kekinian anak-anak kita. Tidak sedikit anak-anak generasi masa depan yang diharapkan menjadi generasi emas, memiliki ketegangan mental yang bisa berdampak pada masa depan mereka. Fondasi mental generasi penerus kita sedang digerogoti oleh rayap paradoks moral yang akut di ruang publik.
Di rumah dan di sekolah, anak-anak diajarkan nilai-nilai moral yang tinggi bahkan juga orang tua dan guru menjadikan dirinya patron bagi anak-anaknya. Guru dan orang tua dengan tekun menganyam nilai-nilai kejujuran, kerja keras, tenggang rasa, dan kesederhanaan. Institusi privat ini berjuang keras membangun benteng moralitas. Namun, benteng itu roboh seketika saat anak-anak melongok ke ruang publik melalui layar televisi dan algoritma media sosial. Di sana, mereka disuguhi realitas yang bertolak belakang secara brutal, oknum pejabat negara yang terbukti melakukan mega-korupsi tetap bisa melempar senyum lebar tanpa rasa bersalah di depan kamera, sementara anak-anak mereka dengan pongah memamerkan gaya hidup mewah (flexing) hasil dari penyelewengan uang rakyat.
Dalam konteks ini, anak berdiri di persimpangan jalan yang membingungkan, antara nilai-nilai moral yang mereka dapatkan di rumah dan sekolah dengan apa yang mereka saksikan ruang publik. Mereka mengalami apa yang disebut oleh Leon Festinger sebagai Disonansi Kognitif, sebuah ketegangan mental yang hebat akibat bertabrakannya dua keyakinan yang kontradiktif. Anak dipaksa mencerna inkonsistensi yaitu jika jujur itu mulia, mengapa orang curang justru mendapatkan panggung, kekuasaan, dan kemewahan? Sebagai pengamat ulung kata Albert Bandura, ketika perilaku hedonisme para elite politik mendapatkan jutaan likes dan validasi sosial di jagat digital, anak melihatnya sebagai penguatan pengganti.
Kondisi ini membuat pikiran anak yang sedang berkembang terus menggunakan logika pengamatan sebab akibat yang akan melahirkan krisis psikologis yang dimulai dengan runtuhnya kepercayaan pada otoritas yang pada ujungnya terjadi sindrom. Bila figur teladan yang harusnya menjadi pelindung moral terbukti melakukan tindakan amoral anak-anak mulai meragukan semua orang dewasa. Mereka berpikir “Jika orang dewasa yang memimpin negara saja tidak jujur, bisa korupsi (mengambil yang bukan haknya) jangan-jangan orang tua dan guru membohongiku”.
Pikiran dan sinisme anak akan berlanjut ketika setiap hari mereka menyaksikan perilaku dan tindakan amoral itu setiap hari, bahkan mungkin setiap jam, sinyal emosi anak mulai meredup yang pada akhirnya mati rasa. Ketidakjujuran, korupsi triliunan, miliaran, manipulasi hukum, tidak lagi menjadi hal yang mengejutkan bagi anak-anak, dan mereka menganggap itu hal yang biasa. Moralitas mulai dikalkulasi oleh mereka secara transaksional, anak mulai berpikir realistis sesuai yang mereka lihat, mereka terpengaruh oleh kemewhan yang dilihat secara kasat mata, mereka melihat bahwa kejujuran akan membawa kehidupan menjadi tertatih-tatih, sementara sedang para pelanggar aturan justru menikmati popularitas dan hidup serba mewah.
Untuk mengatasi situasi ini, tentu bukan jalan terbaik untuk menjauhkan anak dari gawai atau tidak membiarkan anak untuk menonton televisi, karena anak juga perlu mendapatkan akses informasi dan cerdas memanfaatkan teknologi. Di sinilah tugas orang tua dan guru bertransformasi tidak sekadar menyuguhi informasi tentang benar dan salah, baik dan buruk tetapi harus mampu menjadi pemandu realitas, penerjemah realitas, ajak anak berpikir kritis terhadap fenomena yang mereka saksikan di layar gawai atau layar televisi, ajak anak untuk membedakan antara orang yang terkenal karena kejahatan dengan orang terkenal karena kehormatan. Hadirkan tokoh-tokoh panutan melalui kisah sukses yang bekerja keras dengan kedisiplinan dan kejujuran, tokoh bersahaja yang jujur tetapi tetap terhormat walaupun mereka sudah lama tiada.
Benar kata Bung Karno bahwa perjuangan terberat adalah melawan bangsa sendiri. Korupsi dan hedonisme yang dipertontonkan di ruang publik adalah bentuk polusi moral yang sedang meracuni anak-anak kita. Jika kita ingin Indonesia Emas 2045 menjadi kenyataan yang adil dan makmur, kita harus memberikan anak-anak sebuah jangkar yaitu berwawasan global, namun tetap bermental lokal. Tugas kita hari ini adalah memastikan bahwa ketika anak-anak memandang ruang publik, mereka tidak melihat sebuah panggung sandiwara yang korup, melainkan melihat sebuah kepastian bahwa kejujuran dan integritas masih memiliki harga diri tertinggi di tanah airnya sendiri.




















