Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

LPCR Muhammadiyah Sosialisasikan “Sekolah Cabang Ranting” di Unismuh Makassar

×

LPCR Muhammadiyah Sosialisasikan “Sekolah Cabang Ranting” di Unismuh Makassar

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Penguatan cabang dan ranting Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan memperbanyak struktur organisasi. Cabang dan ranting juga perlu tumbuh menjadi pusat gerakan yang aktif, profesional, mandiri, serta mampu menghadirkan manfaat langsung di tengah masyarakat.

Semangat itu mengemuka dalam Sosialisasi Sekolah Cabang dan Ranting (Secara) yang digelar Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR PM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel, Kamis, 3 September 2026, di Ruang Rapat Senat, Lantai 17 Gedung Iqra Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Kegiatan tersebut menghadirkan Wakil Ketua LPCR PM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr M. Safar Nasir, M.Si., CIRBC, Ketua LPCR PM PWM Sulsel Prof Andi Sukri Syamsuri, Wakil Ketua PWM Sulsel KH Dr Mawardi Pewangi, pengurus LPCR PM PWM Sulsel, serta perwakilan pimpinan daerah Muhammadiyah dari Makassar, Maros, dan Gowa.

Mawardi Pewangi, yang juga menjabat Wakil Rektor III Unismuh Makassar, menyambut baik penguatan Sekolah Cabang dan Ranting sebagai bagian dari upaya menghidupkan gerakan Muhammadiyah dari level paling dekat dengan masyarakat.

Ia berharap sosialisasi tersebut memberi informasi, pemahaman, sekaligus energi baru bagi pengurus dalam mengembangkan cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.

Sekolah Cabang dan Ranting atau Secara dirancang sebagai instrumen percepatan penguatan Muhammadiyah dari tingkat akar rumput. Melalui program tersebut, cabang dan ranting yang masih berada pada kategori awal didorong meningkat secara bertahap hingga mencapai kategori unggul.

Safar Nasir menjelaskan, program tersebut diarahkan untuk mempercepat peningkatan cabang-ranting, baik secara kualitas maupun kuantitas.

“Melalui TOT itu dalam rangka akselerasi atau percepatan cabang-ranting, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Dari segi kualitas, kita ingin cabang-cabang kita, ranting-ranting kita yang masih kategori hitam, merah, kuning itu bisa segera ke hijau,” ujarnya.

Cabang dan ranting yang telah mencapai kategori hijau selanjutnya didorong menuju kategori unggul. Pada saat yang sama, cabang maupun ranting yang sudah berkembang diharapkan mampu melahirkan struktur baru di wilayah sekitarnya.

Secara Dibuat Lebih Sistematis

Menurut Safar, Sekolah Cabang dan Ranting sebenarnya telah berjalan sebelumnya. Namun, proses belajar antarcabang dan antarranting lebih banyak dilaksanakan secara mandiri.

Model tersebut dinilai belum cukup cepat mendorong pemerataan kemajuan cabang dan ranting. Karena itu, LPCR PM PP Muhammadiyah berupaya menjadikan Secara sebagai program yang dilaksanakan secara reguler dan lebih sistematis.

“Kami dari LPCR PM PP melihat agak lambat dengan cara mandiri itu. Sehingga dalam rangka mengakselerasi, mempercepat, kami ingin menyelenggarakan secara reguler,” jelas Safar.

Untuk mendukung program tersebut, LPCR PM telah menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Sekolah Cabang dan Ranting. Pesertanya antara lain berasal dari cabang dan ranting unggul yang kemudian dipersiapkan menjadi fasilitator bagi daerah lain.

Fasilitator asal Sulawesi Selatan bahkan berpeluang ditugaskan ke provinsi lain berdasarkan kompetensinya. Sebaliknya, fasilitator dari daerah lain dapat didatangkan ke Sulsel untuk membantu cabang-ranting sesuai kebutuhan.

Proses menyiapkan fasilitator tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Peserta ToT akan didampingi selama 10 kali pertemuan dan dievaluasi berdasarkan kemampuan mereka mengelola Sekolah Cabang dan Ranting.

“Kita tidak hanya melihat kepesertaannya, tetapi outcome-nya. Kemampuan dia mengelola Sekolah Cabang dan Ranting nanti seperti apa, itu yang akan kita nilai,” kata Safar.

Sertifikat kompetensi sebagai fasilitator baru diberikan setelah proses pendampingan dan evaluasi tersebut.

Cabang-Ranting adalah Akar Muhammadiyah

Safar mengingatkan bahwa cabang dan ranting memiliki posisi sangat strategis dalam Persyarikatan. Sebab, struktur itulah yang paling dekat dan berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat.

Ia mengutip pandangan yang menyebut “the real Muhammadiyah” berada di cabang dan ranting.

Menurutnya, keberadaan pimpinan pusat maupun wilayah tentu penting, tetapi cabang dan rantinglah yang berhadapan dengan masyarakat hampir setiap hari.

“PCM dan PRM ini sebetulnya wajah atau duta Persyarikatan di masyarakat,” ujarnya.

Safar kemudian menggunakan analogi Muhammadiyah sebagai pohon besar. Perguruan tinggi, rumah sakit, sekolah, dan berbagai amal usaha merupakan bagian yang terlihat dari pohon tersebut. Sementara cabang dan ranting menjadi akar yang menopangnya.

“Kalau akarnya tidak kuat, pohon besar itu gampang goyang. Cabang dan ranting inilah akar gerakan kita. Kalau cabang-ranting ini lemah, maka pohon besar itu gampang goyang, bahkan bisa roboh kalau akarnya mati,” tegasnya.

Dorong KKN Terhubung dengan Cabang-Ranting

Ketua LPCR PM PWM Sulsel Prof Andi Sukri Syamsuri, yang akrab disapa Prof Andis, menekankan pentingnya keterlibatan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dalam pengembangan cabang dan ranting.

Prof Andis, yang juga menjabat Wakil Rektor I Unismuh Makassar, melihat perguruan tinggi memiliki sumber daya besar, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa yang dapat bersinergi dengan gerakan Persyarikatan di tingkat akar rumput.

Salah satu peluang konkret yang dapat dikembangkan ialah menghubungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dengan agenda LPCR PM.

“Kalau mau KKN mahasiswanya, gunakan LPCR wilayah. Minimal diberi waktu, memberi materi, membantu dalam kaitan dengan pendataan aset Muhammadiyah,” ungkap Prof Andis.

Ia mendorong perguruan tinggi berkoordinasi dengan LPCR sebelum mahasiswa diterjunkan ke lokasi KKN. Dengan cara itu, mahasiswa dapat turut memperoleh informasi mengenai kondisi cabang, ranting, maupun aset Persyarikatan di lokasi pengabdian.

Model seperti itu telah dikembangkan di sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah. Dalam diskusi juga mengemuka pengalaman KKN berbasis Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang membantu pembentukan cabang-ranting sekaligus mengaktifkan kembali pengajian di masyarakat.

Dorong Kemandirian Ekonomi

LPCR PM juga mendorong cabang dan ranting tidak hanya aktif secara organisasi dan pengajian, tetapi memiliki basis ekonomi yang membuat gerakan dapat bertahan secara mandiri.

Safar menyebut pengalamannya menunjukkan cabang-ranting yang berkembang umumnya memiliki kegiatan ekonomi yang menopang aktivitas organisasi.

Karena itu, LPCR PM juga merancang pelatihan socio-entrepreneurship serta pengembangan badan usaha milik Muhammadiyah.

“Dari sisi ekonomi, supaya cabang-ranting kita itu hidup. Yang saya amati, rata-rata cabang-ranting yang hidup itu punya kegiatan ekonomi,” katanya.

Cabang dan ranting juga akan terus didorong membangun unit maupun amal usaha. Kemandirian ekonomi menjadi bagian penting agar aktivitas dakwah, kaderisasi, pengajian, dan pelayanan kepada masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada dukungan dari struktur di atasnya.

Melalui Sekolah Cabang dan Ranting, LPCR PM berharap penguatan Muhammadiyah berlangsung dari bawah. Sinergi antara cabang-ranting, PWM, PDM, dan perguruan tinggi Muhammadiyah diharapkan membentuk ekosistem Persyarikatan yang lebih kokoh.

Dengan cabang dan ranting yang aktif, profesional, mandiri, dan terhubung dengan PTMA, Muhammadiyah diharapkan semakin kuat bukan hanya pada besarnya amal usaha, tetapi juga pada akar gerakannya di tengah masyarakat.

Kontributor: Sulaeman
Editor: Hadisaputra

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply