Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Unismuh Makassar Peringkat 72 Nasional Webometrics CSIC Spanyol, Tertinggi di antara PTS Kawasan Timur Indonesia

×

Unismuh Makassar Peringkat 72 Nasional Webometrics CSIC Spanyol, Tertinggi di antara PTS Kawasan Timur Indonesia

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mencatat posisi sebagai perguruan tinggi swasta dengan peringkat tertinggi di Kawasan Timur Indonesia dalam Webometrics Ranking Web of Universities edisi Juli 2026.

Pemeringkatan tersebut dikelola Cybermetrics Lab, kelompok riset di bawah Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC), Spanyol, salah satu lembaga riset publik terbesar di negara tersebut.

Dalam data Juli 2026, Unismuh Makassar berada di peringkat 72 Indonesia, 1.416 Asia, dan 3.807 dunia.

Posisi itu menempatkan Unismuh sebagai PTS dengan peringkat tertinggi di Kawasan Timur Indonesia jika cakupan wilayah merujuk pada Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Di Sulawesi Selatan, Unismuh berada pada posisi ketiga secara keseluruhan setelah dua perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Hasanuddin dan Universitas Negeri Makassar. Di antara perguruan tinggi swasta Sulawesi Selatan, Unismuh berada pada posisi tertinggi.

Secara nasional di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), posisi tersebut juga menempatkan Unismuh dalam kelompok atas perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia.

Peringkat sebagai Ukuran Dampak

Rektor Unismuh Makassar Dr Ir Abd Rakhim Nanda, MT, IPU, mengatakan capaian tersebut patut disyukuri, tetapi tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan terhadap angka peringkat.

Menurutnya, substansi yang lebih penting adalah kemampuan universitas menghasilkan pengetahuan yang ditemukan, dibaca, digunakan, dan dirujuk oleh masyarakat maupun komunitas akademik.

“Kita tentu bersyukur Unismuh berada pada posisi tertinggi di antara PTS Kawasan Timur Indonesia. Tetapi yang lebih penting bagi kami bukan sekadar nomor peringkat. Pertanyaannya adalah apakah ilmu, penelitian, inovasi, dan pengabdian yang kita hasilkan benar-benar hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Rakhim, saat dikonfirmasi, Kamis 3 September 2026.

Ia menilai Webometrics menarik karena tidak hanya melihat keberadaan sebuah laman perguruan tinggi, tetapi juga jejak akademik yang dihasilkan universitas dalam ekosistem pengetahuan digital.

Karena itu, penguatan reputasi digital tidak boleh dipahami sebatas memperbanyak berita atau konten pada laman universitas.

“Website universitas harus menjadi pintu masuk menuju pengetahuan. Orang harus dapat menemukan penelitian dosen, jurnal, repositori, inovasi mahasiswa, hasil pengabdian, dan berbagai karya akademik Unismuh melalui ruang digital kita,” katanya.

Rakhim menambahkan, posisi tersebut menjadi modal sekaligus tantangan bagi Unismuh untuk terus meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi internasional.

Visibility Menjadi Kekuatan Unismuh

Dalam metodologi Webometrics Juli 2026, terdapat tiga indikator utama, yakni Visibility, Excellence, dan Openness.

Visibility memiliki bobot terbesar, yakni 50 persen, dan mengukur pengaruh konten institusi melalui tautan eksternal yang mengarah ke domain perguruan tinggi.

Sementara Excellence berbobot 40 persen dan menggambarkan keberadaan publikasi perguruan tinggi dalam kelompok karya ilmiah yang memiliki dampak sitasi tinggi. Adapun Openness berbobot 10 persen dan berkaitan dengan keterbukaan serta dampak sitasi karya akademik.

Pada data yang dipublikasikan tersebut, Unismuh mencatat posisi 1.830 dunia untuk Visibility. Angka itu relatif lebih kuat dibanding posisi keseluruhan Unismuh di peringkat 3.807 dunia.

Sebaliknya, indikator Excellence masih menjadi ruang penguatan, dengan Unismuh berada pada posisi 5.589, sedangkan Openness berada pada 4.027.

Visibilitas Harus Ditopang Substansi

Wakil Rektor IV Unismuh Makassar Dr Burhanuddin, MSi, mengatakan capaian Visibility menunjukkan bahwa kehadiran digital Unismuh telah memperoleh perhatian dari luar institusi.

Namun, ia mengingatkan bahwa reputasi digital yang berkelanjutan harus dibangun di atas substansi akademik yang kuat.

“Visibility yang baik adalah modal, tetapi tidak boleh berdiri sendiri. Semakin banyak orang menemukan Unismuh di ruang digital, semakin besar pula tanggung jawab kita memastikan bahwa yang mereka temukan adalah konten akademik yang bermutu, data yang kredibel, penelitian yang dapat dirujuk, dan inovasi yang memiliki dampak,” ujarnya.

Menurut Burhanuddin, strategi pemeringkatan karena itu tidak dapat diserahkan hanya kepada unit teknologi informasi atau humas.

Fakultas, program studi, pengelola jurnal, perpustakaan, lembaga penelitian, dosen hingga mahasiswa memiliki kontribusi terhadap jejak akademik universitas.

“Peringkat universitas sesungguhnya merupakan hasil akumulasi kerja banyak orang. Jurnal yang dikelola dengan baik, repositori yang terbuka, penelitian yang disitasi, profil peneliti yang rapi, hingga konsistensi penggunaan afiliasi semuanya saling berhubungan,” jelasnya.

Ia mengatakan Unismuh akan terus memperkuat integrasi data akademik dan memastikan karya sivitas akademika dapat ditemukan melalui kanal resmi universitas.

Excellence Jadi Tantangan Berikutnya

Ketua Unismuh Global Excellence Center (UGEC), Prof Hartono Bancong, PhD, menilai data Webometrics perlu dibaca bukan hanya sebagai tabel peringkat, tetapi sebagai alat diagnosis institusi.

Menurutnya, posisi Visibility menunjukkan salah satu kekuatan Unismuh. Namun, indikator Excellence memperlihatkan ruang yang masih terbuka lebar untuk peningkatan.

“Data ini memberi pesan yang cukup jelas. Visibilitas Unismuh sudah relatif kuat, sehingga pekerjaan berikutnya adalah memastikan visibilitas itu semakin ditopang oleh publikasi yang memiliki pengaruh akademik tinggi,” kata Hartono.

Menurutnya, peningkatan Excellence tidak cukup dilakukan dengan mengejar jumlah artikel.

Penelitian perlu memiliki pertanyaan yang relevan, metodologi yang kuat, kolaborasi yang luas, serta diterbitkan pada kanal ilmiah yang tepat agar memiliki kemungkinan lebih besar untuk dibaca dan disitasi.

“Kita harus bergeser dari sekadar banyak publikasi menuju publikasi yang dibaca, digunakan, dan memengaruhi perkembangan ilmu. Di situlah tantangan Excellence berada,” ujarnya.

Hartono mengatakan agenda berikutnya adalah memperkuat kolaborasi penelitian, publikasi internasional, keterlacakan afiliasi, profil peneliti, repositori institusi, serta pemanfaatan basis data akademik terbuka.

Metodologi Webometrics Terus Berubah

Webometrics Ranking Web of Universities mulai dikembangkan pada 2004 oleh Isidro F. Aguillo bersama Cybermetrics Lab CSIC, Spanyol.

Metodologinya mengalami sejumlah perubahan sejalan dengan perkembangan ekosistem ilmiah digital.

Sejak periode 2021, Webometrics semakin menekankan tiga aspek utama: visibilitas, dampak penelitian, dan keterbukaan pengetahuan.

Pada perkembangan metodologi terbaru, sumber data keterbukaan akademik juga mulai beralih dari Google Scholar menuju OpenAlex, basis data ilmiah terbuka yang menghimpun informasi publikasi, penulis, institusi, dan sitasi.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa Webometrics tidak tepat dipahami sebagai sekadar “ranking website universitas”. Pengukurannya semakin terkait dengan dampak akademik, sitasi, keterbukaan ilmu pengetahuan, dan pengaruh institusi di ruang digital.

Kontributor: Bukhairul Iman
Editor: Hadisaputra

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply