Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

PDM Makassar Siapkan Studi Tiru Manajemen Masjid ke Jogokariyan dan Al-Falah

×

PDM Makassar Siapkan Studi Tiru Manajemen Masjid ke Jogokariyan dan Al-Falah

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Makassar melalui Majelis Tabligh dan Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) akan membawa sekitar 100 pengurus masjid binaan untuk studi tiru tata kelola masjid ke Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, dan Masjid Raya Al-Falah, Sragen, Jawa Tengah, pada 18–23 Desember 2026.

Kegiatan bertajuk “Studi Tiru Manajemen Masjid ke Masjid Jogokariyan Yogyakarta dan Masjid Raya Al-Falah Sragen” itu mengusung tema “Belajar Tata Kelola Masjid Modern, Profesional, dan Berorientasi pada Pelayanan Umat”.

Ketua Panitia Studi Tiru, Ustaz Yusuf Sewang, mengatakan pemilihan Masjid Jogokariyan dan Masjid Raya Al-Falah didasarkan pada praktik pengelolaan masjid yang dinilai dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masjid-masjid binaan Muhammadiyah di Makassar.

“Masjid Jogokariyan dipilih karena keunggulannya dalam pemetaan dakwah, pelayanan jemaah, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta transparansi keuangan,” ujar Yusuf Sewang di Makassar, Kamis (24/9/2026).

Sementara Masjid Raya Al-Falah Sragen menjadi salah satu tujuan karena memiliki perhatian pada kaderisasi generasi muda, dakwah kreatif, dan pelayanan jemaah selama 24 jam dengan prinsip melayani, menggembirakan, dan mencerahkan.

Menurut Yusuf, studi tiru tersebut tidak dirancang sebagai kunjungan seremonial. Peserta akan mengikuti presentasi profil masjid, diskusi panel, observasi lapangan, hingga merumuskan praktik pengelolaan yang dapat diterapkan sesuai kondisi masjid masing-masing.

“Studi tiru ini diharapkan tidak berhenti pada kunjungan semata. Peserta akan menyusun poin-poin konkret yang dapat diadopsi dan disesuaikan dengan kondisi masjid masing-masing,” katanya.

Diikuti Sekitar 100 Peserta

Kegiatan tersebut diperkirakan diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas pengurus takmir masjid binaan, pengurus Majelis Tabligh, pengurus LPCR-PM PDM Kota Makassar, perwakilan jemaah, dan unsur PDM Kota Makassar.

Rombongan dijadwalkan berangkat dari Makassar menuju Surabaya menggunakan kapal laut. Dari Surabaya, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Sragen dan Yogyakarta.

Di Masjid Raya Al-Falah Sragen, peserta akan berdiskusi dengan pengurus masjid mengenai pelayanan bagi musafir, pengelolaan ATM beras, serta Badan Usaha Milik Masjid (BUMM).

Peserta juga akan melihat sejumlah fasilitas, seperti ruang istirahat musafir, posko kesehatan, dan minimarket masjid.

Adapun di Masjid Jogokariyan, peserta akan mengikuti sesi manajemen bersama takmir yang membahas sejarah perkembangan masjid, pendataan jemaah, serta strategi pengelolaan kas masjid.

Rombongan juga dijadwalkan mengamati aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) warga sekitar masjid serta mengikuti forum diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan hasil studi tiru.

Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Makassar, Ustaz Munir Abd. Rahman, mengatakan penguatan fungsi masjid perlu diarahkan agar tidak berhenti pada aktivitas ibadah ritual.

“Masjid bukan sekadar tempat melaksanakan salat berjemaah. Masjid adalah pusat pembinaan umat, tempat mendidik generasi muda, memperkuat ukhuwah, serta membangun kepedulian sosial,” kata Munir.

Ia mengajak para pengurus masjid mengikuti kegiatan tersebut dengan semangat belajar dan terbuka terhadap praktik pengelolaan dari masjid lain.

“Mari hadir sebagai pembelajar dengan prinsip: yang baik kita pelajari, yang sesuai kita terapkan, yang kurang kita perbaiki, dan yang belum ada kita kembangkan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LPCR-PM PDM Kota Makassar, Abd. Rahman Jalaluddin, mengatakan program tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan organisasi hingga tingkat cabang dan ranting.

“Sebagai bagian dari upaya menjaga dan melestarikan cabang dan ranting Muhammadiyah, yang lebih utama menjadi sarana bagi pengurus masjid untuk mengembangkan pembinaan masjid yang dikelola,” tuturnya.

Ketua PDM Kota Makassar, Dr. Darwis Muhdina, menekankan bahwa hasil studi tiru nantinya harus terlihat dalam perubahan pengelolaan masjid setelah peserta kembali ke Makassar.

“Keberhasilan studi tiru ini tidak diukur dari seberapa jauh kita melangkah, melainkan dari seberapa banyak perubahan positif yang bisa kita bawa pulang ke masjid kita masing-masing,” kata Darwis.

Melalui kegiatan tersebut, PDM Kota Makassar menargetkan masjid-masjid binaan Muhammadiyah dapat mengembangkan tata kelola yang lebih tertib, profesional, serta mampu memperluas fungsi masjid sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan umat.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply