Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Diaspora Berdampak Unismuh Makassar dan Universiti Malaysia Sabah Gali Potensi Kopi Parepare dan Sidrap

×

Diaspora Berdampak Unismuh Makassar dan Universiti Malaysia Sabah Gali Potensi Kopi Parepare dan Sidrap

Share this article

 

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Program Diaspora Berdampak Tahun 2026 mempertemukan kolaborasi akademik internasional dengan kebutuhan nyata petani kopi di Sulawesi Selatan. Melalui kunjungan lapangan ke Kota Parepare dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sabtu, 15 Agustus 2026, tim menggali potensi pengembangan kopi Robusta mulai dari budidaya, panen, pascapanen, pengolahan, pemasaran, hingga pemanfaatan limbah kulit kopi.

Program tersebut diusulkan Guru Besar Bioteknologi Pertanian Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Prof. Dr. Syamsia, S.P., M.Si., dengan mitra diaspora Dr. Ilmas Abdurofi, akademisi asal Indonesia yang menjadi Pensyarah Kanan di Fakulti Pertanian Lestari, Universiti Malaysia Sabah (UMS), Malaysia.

Program Diaspora Berdampak merupakan program strategis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas riset melalui keterlibatan diaspora Indonesia di luar negeri, sekaligus mendorong transfer pengetahuan, penguatan jejaring internasional, inovasi, dan peluang hilirisasi yang memberi dampak langsung kepada masyarakat.

Petani Parepare Terapkan Panen Selektif

Kunjungan lapangan pertama pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dilakukan di Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Jaya, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare. Tim diterima Ketua KTH Alam Jaya Abd. Samad bersama anggota kelompok tani.

Dialog dengan petani membahas berbagai tahapan produksi kopi, mulai dari praktik budidaya, pemanenan, penanganan pascapanen, hingga pemasaran. Kopi yang dikembangkan anggota KTH Alam Jaya adalah jenis Robusta.

Salah satu praktik yang menjadi perhatian tim ialah penerapan panen selektif. Petani tidak memetik seluruh buah secara bersamaan, tetapi hanya memilih buah yang telah mencapai tingkat kematangan optimal dengan ciri berwarna merah atau red cherry.

Saat dikonfirmasi Selasa, 1 September 2026, Prof Syamsia mengatakan praktik tersebut merupakan modal penting untuk menjaga kualitas kopi sejak dari kebun. Menurutnya, mutu produk akhir tidak hanya ditentukan pada tahap pengolahan, tetapi sudah dimulai sejak pemilihan buah saat panen.

“Panen selektif menjadi salah satu tahapan penting untuk menghasilkan kopi berkualitas. Buah yang dipetik sebaiknya benar-benar telah matang atau red cherry, kemudian kualitas itu harus tetap dijaga pada tahap pascapanen, pengolahan, sampai pemasaran,” ujar Prof Syamsia.

Karena itu, tim mendorong agar praktik panen selektif yang telah dilakukan petani diperkuat dengan penanganan pascapanen, pengolahan, dan pemasaran yang semakin baik. Rantai produksi yang dikelola secara konsisten diharapkan meningkatkan mutu sekaligus nilai jual kopi Robusta petani.

Gali Rantai Produksi Kopi di Sidrap

Pada hari yang sama, Sabtu, 15 Agustus 2026, Tim Diaspora Berdampak melanjutkan kegiatan ke Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) Gapoktanhut Cenrana di Desa Cenrana, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidrap.

Tim diterima Kepala Desa Cenrana Kartono bersama pengurus dan anggota kelompok tani hutan. Hadir pula La Mallu, penyuluh yang mendampingi kelompok di wilayah tersebut.

Seperti di KTH Alam Jaya Parepare, kopi yang dikembangkan petani di Cenrana adalah jenis Robusta. Tim berdialog dengan petani mengenai teknik budidaya, pemanenan, penanganan pascapanen, pengolahan, hingga pola pemasaran yang selama ini dijalankan.

Tim juga melihat secara langsung tahapan pengolahan kopi yang dilakukan anggota kelompok. Pengamatan tersebut memberi gambaran mengenai rantai produksi kopi pada tingkat petani sekaligus membuka ruang diskusi tentang peluang peningkatan mutu, efisiensi produksi, akses pasar, dan nilai tambah produk.

Dr Ilmas Abdurofi menilai peningkatan kesejahteraan petani membutuhkan pendekatan yang tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Petani juga perlu diperkuat dalam aspek pengolahan, rantai pasok, pemasaran, hingga kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Dalam rangkaian Program Diaspora Berdampak, Ilmas juga mengingatkan bahwa pembangunan pertanian harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.

“Alam ini bukan hanya dari generasi kita. Alam ini akan digunakan untuk generasi lain,” tegas Ilmas.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pijakan dalam melihat pengembangan komoditas kopi secara lebih luas, termasuk bagaimana produk samping dan limbah dari proses produksi tidak sekadar dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan kembali.

Kulit Kopi Jangan Berakhir Jadi Sampah

Salah satu temuan penting selama kunjungan di KPS Gapoktanhut Cenrana ialah belum optimalnya pemanfaatan kulit kopi.

Berdasarkan informasi anggota kelompok, kulit kopi yang dihasilkan dari proses pengolahan selama ini umumnya ditumpuk di sekitar lokasi produksi. Ketika volumenya semakin banyak, limbah tersebut kemudian dibakar.

Kondisi itu menjadi perhatian Tim Diaspora Berdampak. Kulit kopi yang selama ini dipandang sebagai limbah sebenarnya masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang mempunyai nilai guna sekaligus nilai ekonomi.

Tim kemudian memperkenalkan konsep ekonomi sirkular kepada anggota kelompok dengan menunjukkan sejumlah alternatif pemanfaatan kulit kopi, antara lain sebagai biochar, briket arang, dan kompos.

Sosialisasi tersebut mendapat respons positif dari anggota kelompok. Mereka tertarik mengetahui lebih jauh teknologi pengolahan kulit kopi karena bahan bakunya tersedia dari aktivitas produksi yang selama ini telah dijalankan.

Prof Syamsia, saat dikonfirmasi Selasa, 1 September 2026, mengatakan pemanfaatan limbah kulit kopi dapat memperluas sumber nilai ekonomi komoditas kopi pada tingkat kelompok tani.

“Pengolahan kopi menghasilkan produk sampingan berupa limbah kulit kopi yang dapat diolah lebih lanjut menjadi biochar, briket, dan kompos. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Prof Syamsia.

Ia menjelaskan, pendekatan ekonomi sirkular memungkinkan rantai produksi kopi tidak berhenti pada pemanfaatan biji sebagai produk utama. Produk samping dari proses pengolahan juga dapat dimanfaatkan kembali atau dikembangkan menjadi produk baru.

“Jadi, kita tidak hanya berbicara bagaimana menghasilkan biji kopi yang berkualitas. Kita juga perlu melihat apa yang tersisa dari proses produksi itu dan bagaimana produk samping tersebut dapat memberi manfaat kembali kepada petani,” jelasnya.

Menurut Prof Syamsia, peluang tersebut menjadi semakin relevan karena bahan baku kulit kopi telah tersedia di lokasi produksi.

“Kalau selama ini kulit kopi hanya ditumpuk kemudian dibakar, tentu ada potensi yang hilang. Ketika dapat diolah menjadi produk lain, kita memperoleh dua manfaat sekaligus, yaitu mengurangi limbah dan membuka peluang nilai tambah ekonomi bagi kelompok tani,” tambahnya.

Dengan pola tersebut, pengelolaan kopi diarahkan pada dua sasaran sekaligus, yakni meningkatkan nilai tambah ekonomi dan mengurangi beban limbah terhadap lingkungan.

Dari Budidaya hingga Ekonomi Sirkular

Kunjungan di Parepare dan Sidrap menunjukkan bahwa pengembangan kopi Robusta membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Produksi kopi berkualitas tidak hanya bergantung pada budidaya, tetapi juga pemilihan buah saat panen, penanganan pascapanen, teknologi pengolahan, pemasaran, hingga pemanfaatan produk samping.

Bagi Tim Diaspora Berdampak, kunjungan ke KTH Alam Jaya dan KPS Gapoktanhut Cenrana bukan sekadar agenda observasi. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan akademik dengan pengalaman serta kebutuhan nyata petani di lapangan.

Prof Syamsia mengatakan kunjungan tersebut juga penting sebagai dasar untuk melihat peluang kegiatan lanjutan yang lebih sesuai dengan persoalan yang dihadapi kelompok tani.

“Melalui kunjungan lapangan, kita dapat mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat secara langsung. Dari situ, riset dan inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat lebih diarahkan untuk menjawab persoalan yang benar-benar mereka hadapi,” katanya.

Kolaborasi Unismuh Makassar dengan Universiti Malaysia Sabah melalui Program Diaspora Berdampak karena itu membuka peluang pengembangan agenda lanjutan yang menghubungkan riset, inovasi, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kualitas kopi, dan pemanfaatan potensi lokal.

Model kolaborasi tersebut menempatkan diaspora bukan semata-mata sebagai narasumber dalam kegiatan akademik, tetapi sebagai mitra dalam membangun riset dan inovasi yang relevan, aplikatif, serta dapat memberi dampak bagi masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, kelompok tani diharapkan semakin kuat menghasilkan kopi Robusta berkualitas sekaligus mampu melihat peluang ekonomi pada seluruh rantai produksi, termasuk kulit kopi yang sebelumnya diperlakukan sebagai limbah.

Dukung Pencapaian SDGs

Pengembangan kopi Robusta dan penerapan ekonomi sirkular dalam Program Diaspora Berdampak tersebut juga beririsan dengan sejumlah sasaran Sustainable Development Goals (SDGs).

Peningkatan kapasitas petani dan penguatan sistem pertanian berkelanjutan mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan. Upaya meningkatkan kualitas produk, menciptakan nilai tambah, dan membuka sumber pendapatan baru bagi kelompok tani berkaitan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Pemanfaatan kulit kopi menjadi biochar, briket arang, dan kompos mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, terutama melalui pengurangan limbah dan pemanfaatan kembali produk samping pertanian.

Upaya mengurangi pembakaran limbah kulit kopi sekaligus mendorong sistem produksi pertanian yang lebih ramah lingkungan juga beririsan dengan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim.

Sementara itu, kolaborasi antara Unismuh Makassar, Universiti Malaysia Sabah, pemerintah desa, penyuluh, dan kelompok tani mencerminkan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yakni penguatan kerja sama lintas institusi dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan ini didanai Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Diaspora Berdampak Tahun 2026. Program tersebut diarahkan untuk mendorong kolaborasi, transfer pengetahuan, inovasi, dan hilirisasi hasil riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UNIMEN

Leave a Reply