Scroll untuk baca artikel
Berita

Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Pinrang, Ketua Umum Ajak Kader Perkuat Dakwah Kemanusiaan dan Perdamaian

×

Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Pinrang, Ketua Umum Ajak Kader Perkuat Dakwah Kemanusiaan dan Perdamaian

Share this article

KHITTAH.CO, PINRANG — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan harus terus diperkuat sebagai jalan untuk menghadirkan perdamaian di tengah berbagai krisis sosial, konflik, dan tantangan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat. Pesan tersebut disampaikannya dalam Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah Tingkat Wilayah Sulawesi Selatan yang berlangsung di Aula Masjid Agung Al-Munawir, Kabupaten Pinrang, Ahad, 31 Mei 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” itu dihadiri sekitar 2.000 peserta yang datang dari 24 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan. Ribuan kader memenuhi aula dan area sekitar lokasi acara sebagai bentuk semangat kebersamaan dalam merayakan perjalanan lebih dari satu abad organisasi perempuan Muhammadiyah tersebut.

Dalam amanatnya, Salmah Orbayinah menekankan bahwa peringatan milad bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi atas perjalanan organisasi sekaligus evaluasi terhadap kontribusi nyata yang telah diberikan kepada masyarakat.

“Milad adalah bentuk syukur atas nikmat Allah yang menjaga ‘Aisyiyah hingga usia 109 tahun. Namun milad juga menjadi momentum refleksi untuk melihat sejauh mana gerakan kita memberikan manfaat dan dampak bagi umat,” ujarnya.

Menurut Salmah, tema Milad ke-109 dipilih sebagai respons terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang terus berkembang, mulai dari konflik sosial, ketimpangan ekonomi, persoalan hukum, hingga berbagai tantangan kehidupan masyarakat modern.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa ‘Aisyiyah harus hadir sebagai bagian dari solusi, bukan menjadi bagian dari masalah.

“‘Aisyiyah harus menjadi problem solver. Kita harus hadir bersama masyarakat dan pemerintah untuk membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di tengah kehidupan umat,” katanya.

Dakwah Kemanusiaan Berbasis Amal Usaha

Salmah menjelaskan bahwa sejak awal berdirinya pada 19 Mei 1917, ‘Aisyiyah telah menempatkan dakwah kemanusiaan sebagai fondasi utama gerakannya. Semangat tersebut diwariskan langsung oleh pendiri Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah melalui pengamalan nilai-nilai Surat Al-Ma’un yang menekankan kepedulian terhadap kelompok rentan.

Bentuk nyata dakwah kemanusiaan itu, kata dia, diwujudkan melalui pengembangan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.

Ia mencontohkan lahirnya Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) yang didirikan hanya dua tahun setelah ‘Aisyiyah berdiri sebagai upaya memberikan akses pendidikan bagi anak-anak.

“Nyai Walidah mengajarkan bahwa dakwah tidak cukup hanya dengan lisan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Salmah memberikan apresiasi kepada Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan atas perkembangan berbagai amal usaha yang dinilai terus menunjukkan kontribusi signifikan.

Ia menyebut keberadaan ratusan lembaga pendidikan, rumah sakit, klinik kesehatan, panti asuhan, hingga lembaga pemberdayaan ekonomi sebagai bukti nyata dakwah kemanusiaan yang dijalankan secara berkelanjutan.

Secara khusus, Salmah juga mengapresiasi pengembangan Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan yang dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi universitas.

“Saya berharap Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan dapat terus berkembang dan menjadi universitas, sehingga semakin besar kontribusinya dalam mencetak generasi yang unggul dan berkemajuan,” ujarnya.

Dalam bidang hukum, Salmah mengungkapkan bahwa PP ‘Aisyiyah terus memperluas akses keadilan bagi masyarakat melalui Pos Bantuan Hukum (Posbakum).

Pada Milad ke-109, sebelumnya PP ‘Aisyiyah telah meluncurkan 116 Posbakum di berbagai daerah. Pada momentum Milad tingkat wilayah di Sulawesi Selatan, kembali diresmikan dua Posbakum baru sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 118 Posbakum.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk dakwah kemanusiaan yang memberikan pelayanan hukum secara gratis kepada masyarakat, terutama perempuan dan kelompok rentan.

“Perdamaian hanya dapat terwujud apabila keadilan hadir di tengah masyarakat. Karena itu, Posbakum menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan akses keadilan dapat dirasakan oleh semua,” jelasnya.

Tiga Pilar Mewujudkan Perdamaian

Dalam amanatnya, Salmah juga memaparkan tiga langkah strategis yang perlu diperkuat untuk mewujudkan perdamaian melalui dakwah kemanusiaan.

Pertama, memperkokoh keluarga sakinah sebagai fondasi utama kehidupan masyarakat. Menurutnya, perdamaian yang besar harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Kedua, memperluas peran sosial ‘Aisyiyah melalui gerakan yang menumbuhkan sikap saling menghormati, saling membantu, dan menjunjung nilai keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketiga, memperkuat kontribusi perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan mengembangkan sikap moderat, menghargai keberagaman, serta memajukan kemanusiaan secara universal.

“Perdamaian harus dibangun dari keluarga, diperkuat di masyarakat, dan diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Selain bidang sosial dan hukum, Salmah juga menyoroti pentingnya penguatan ekonomi perempuan melalui program Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA).

Ia mengapresiasi ratusan alumni SWA yang telah memamerkan berbagai produk usaha dalam rangkaian kegiatan Aisyiyah Creative Festival yang digelar sehari sebelumnya.

Menurutnya, kemandirian ekonomi perempuan harus dibangun melalui penguatan kapasitas usaha, inovasi produk, dan kemampuan memanfaatkan perkembangan teknologi.

“Jangan alergi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Penguasaan teknologi menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas usaha dan daya saing perempuan,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Salmah juga mengapresiasi pelaksanaan Milad ke-109 yang menerapkan konsep ramah lingkungan melalui gerakan Green Milad.

Ia menyebut pengurangan penggunaan sampah plastik dan pengelolaan lingkungan yang baik sebagai bagian dari dakwah kemanusiaan yang harus terus diperkuat.

Menurutnya, menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab moral yang tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai Islam Berkemajuan.

Selain itu, ia mengingatkan seluruh kader agar menjadi aktor perdamaian dengan terus menyebarkan nilai toleransi, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah Tingkat Wilayah Sulawesi Selatan turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Ambo Asse, jajaran Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Barat, serta Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid.

Hadir pula unsur Forkopimda Kabupaten Pinrang, Ketua DPRD Kabupaten Pinrang atau yang mewakili, Wakil Bupati Sidrap, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pinrang, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Pinrang, perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Makassar, pimpinan Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, pimpinan amal usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, organisasi perempuan Islam, serta para pimpinan daerah, cabang, dan ranting ‘Aisyiyah se-Sulawesi Selatan.

Menutup amanatnya, Salmah mengajak seluruh kader untuk terus menghidupkan semangat belajar dan berkemajuan sebagaimana diajarkan para pendiri ‘Aisyiyah. Ia bahkan mengajak ribuan peserta menyanyikan lagu “Tuntutlah Ilmu Duniawiah” sebagai simbol pentingnya pendidikan dalam membangun peradaban.

“Atas nama Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, saya mengucapkan selamat Milad ke-109. Mari terus memperkokoh dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian,” tutupnya.

Kontributor/Editor: Umar Sadik, Asywid

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply