Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

PWK UM Palopo Tanam Mangrove, Perkuat Ketahanan Pesisir

×

PWK UM Palopo Tanam Mangrove, Perkuat Ketahanan Pesisir

Share this article

KHITTAH.CO, PALOPO — Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Muhammadiyah Palopo (UM Palopo) bersama sejumlah mitra menanam mangrove jenis Rhizophora di kawasan Pantai 1 Kota Palopo, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan kolaboratif ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan ekosistem pesisir, mendukung penyerapan karbon biru (blue carbon), serta mendorong pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan.

Kegiatan tersebut melibatkan PWK UM Palopo, Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Konservasi Lawarani yang tergabung dalam Kelompok Konservasi Lawarani (KOMPAK Lawarani), Yayasan Bumi Sawerigading, serta Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kota Palopo.

Penanaman diikuti dosen dan mahasiswa PWK UM Palopo, pengurus dan relawan KOMPAK Lawarani, perwakilan Yayasan Bumi Sawerigading, serta jajaran Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kota Palopo.

Mangrove Rhizophora dipilih karena memiliki sistem perakaran yang mampu membantu menstabilkan substrat, memerangkap sedimen, serta meredam energi gelombang dan arus. Vegetasi ini juga berperan sebagai habitat berbagai biota pesisir dan membantu melindungi garis pantai dari abrasi.

Selain fungsi ekologis, mangrove memiliki peran dalam menyimpan karbon. Karbon pada ekosistem mangrove tidak hanya tersimpan pada batang dan daun, tetapi juga pada sedimen di bawahnya. Karena itu, ekosistem pesisir seperti mangrove menjadi salah satu solusi berbasis alam dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Ketua Program Studi PWK UM Palopo, Ir. H. Wahyu Hidayat, S.T., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Wahyu, keterlibatan mahasiswa dalam penanaman mangrove menjadi pembelajaran langsung mengenai hubungan antara perencanaan wilayah pesisir, konservasi lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.

“Mahasiswa PWK tidak hanya belajar teori tata ruang wilayah pesisir di kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya konkret menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujar Wahyu.

Ia berharap kolaborasi lintas lembaga tersebut dapat terus dilakukan sehingga memberikan dampak jangka panjang terhadap ekosistem pesisir Kota Palopo.

Dorong Kolaborasi Konservasi

Direktur Yayasan Bumi Sawerigading, Ir. Abdul Malik Saleh, S.T., mengatakan penanaman mangrove menjadi bagian dari upaya memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas konservasi, dan pemerintah daerah perlu terus diperkuat agar pengelolaan ekosistem pesisir dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

“Sinergi antara akademisi, komunitas konservasi, dan pemerintah daerah adalah model kolaborasi yang perlu terus digalakkan,” kata Abdul Malik.

Direktur KOMPAK Lawarani, Dedy Asriady Uly, S.Pi., M.P., mengatakan Rhizophora dipilih karena dinilai sesuai dengan karakteristik kawasan pesisir Kota Palopo.

Menurut dia, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh penanaman, tetapi juga pemeliharaan dan pemantauan pertumbuhan mangrove.

“KOMPAK Lawarani berkomitmen mengawal kegiatan ini secara berkelanjutan, mulai dari pemeliharaan bibit hingga pemantauan tingkat keberhasilan tumbuh,” jelas Dedy.

Pemerintah Dukung Pengelolaan Pesisir

Pemerintah Kota Palopo melalui Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan turut mendukung kegiatan tersebut.

Staf Ahli Kesejahteraan Kota Palopo sekaligus Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kota Palopo, Drs. M. Taufiq Gurrachman, M.Si., mengatakan program penanaman mangrove sejalan dengan kebijakan daerah dalam pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan.

“Kami mengapresiasi inisiatif PWK UM Palopo bersama mitra-mitra terkait, dan berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke titik-titik pesisir lain di Kota Palopo,” ungkap Taufiq.

Dari perspektif perencanaan wilayah, penguatan ekosistem mangrove juga berkaitan dengan perlindungan kawasan pesisir dan peningkatan ketahanan wilayah terhadap dampak perubahan iklim.

Karena itu, kegiatan tersebut tidak berhenti pada penanaman bibit. Para pihak berencana melanjutkan pemantauan pertumbuhan mangrove secara berkala serta memberikan edukasi lingkungan kepada masyarakat sekitar.

Kolaborasi antara akademisi, komunitas, lembaga lingkungan, dan pemerintah daerah diharapkan dapat memperluas upaya konservasi pesisir sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi biru yang tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem.

Dengan pendekatan tersebut, Pantai 1 Kota Palopo diharapkan tidak hanya memiliki kawasan pesisir yang lebih terlindungi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan praktik pengelolaan wilayah pesisir berbasis lingkungan.

Kontributor: A. Awal
Editor: Andi Asywid Nur

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI

Leave a Reply