KHITTAH.CO, MAKASSAR — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Ambo Asse, M.Ag., mendorong penguatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan di seluruh tingkatan persyarikatan, termasuk pimpinan daerah dan perguruan tinggi Muhammadiyah. Pembenahan sistem administrasi dan audit dinilai penting seiring dengan perkembangan organisasi dan amal usaha yang semakin luas.
Hal itu disampaikan Ambo Asse dalam Rapat Koordinasi PWM Sulsel bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan, di lantai 3 Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Sulsel, Makassar, Kamis, 29 Oktober 2026.
Ambo Asse mengungkapkan, pengelolaan dan pelaporan keuangan di lingkungan persyarikatan masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya berkaitan dengan belum lengkapnya dokumen keuangan ketika tim pemeriksa melakukan audit di tingkat daerah maupun amal usaha Muhammadiyah.
“Karena sistem pengelolaan keuangan belum begitu bagus, maka kita melakukan koordinasi ini,” ujar Ambo Asse.
Menurut dia, rapat koordinasi tersebut telah direncanakan sejak lama sebagai upaya membenahi sistem administrasi dan pengelolaan keuangan persyarikatan, sehingga seluruh transaksi dapat tercatat secara tertib, transparan, dan dipertanggungjawabkan melalui mekanisme audit.
Ambo Asse menegaskan, setiap penerimaan dan pengeluaran harus terdokumentasi melalui sistem pembukuan yang sesuai dengan ketentuan persyarikatan. Penguatan tata kelola itu tidak hanya berlaku pada tingkat pimpinan wilayah, tetapi juga perlu diterapkan di PDM dan seluruh amal usaha Muhammadiyah.
Ia juga mendorong agar pimpinan daerah turut menjadi bagian dari pelaksanaan audit. Dengan demikian, pengawasan keuangan dapat berjalan secara menyeluruh dan tidak hanya berpusat pada lembaga pendidikan atau amal usaha tertentu.
Pentingnya pembenahan tersebut menjadi alasan PWM Sulsel menghadirkan ketua, sekretaris, dan bendahara PDM dalam rapat koordinasi. Dari unsur perguruan tinggi, kegiatan ini juga melibatkan rektor serta wakil rektor yang membidangi keuangan.
Ambo Asse berharap seluruh unsur pimpinan memiliki pemahaman yang sama mengenai pengelolaan, pelaporan, dan pemeriksaan keuangan sehingga kemajuan Muhammadiyah dapat ditopang oleh tata kelola organisasi yang semakin profesional.
Tarjih Muhammadiyah dan Pengelolaan Harta
Sebelumnya, Wakil Ketua Koordinator Tarjih dan Tajdid PWM Sulsel, Dr. KH. Abbas Baco Miro, Lc., M.A., dalam pengajian tarjih yang mengawali kegiatan tersebut menyoroti pentingnya memahami perkembangan persoalan ekonomi dan pengelolaan harta melalui pendekatan keagamaan yang responsif terhadap perubahan zaman.
Abbas menjelaskan bahwa salah satu prinsip penting dalam Muhammadiyah adalah tajdid atau pembaruan. Dalam bidang akidah dan ibadah, tajdid diarahkan pada pemurnian ajaran, sedangkan dalam urusan muamalah diperlukan pemahaman yang memperhatikan perkembangan kehidupan masyarakat.
“Salah satu prinsipnya itu adalah tajdid,” kata Abbas.
Ia mencontohkan perkembangan pemikiran tentang zakat kontemporer, termasuk zakat profesi, perusahaan, dan kepemilikan saham. Menurut dia, perubahan bentuk kekayaan menuntut pemahaman yang tidak hanya terpaku pada jenis harta yang dikenal pada masa lalu.
“Harta ini kan terus berkembang,” ujarnya.
Abbas menjelaskan, zakat tidak semata-mata memiliki dimensi ibadah, tetapi juga berkaitan dengan muamalah atau hubungan sosial dan ekonomi. Karena itu, perkembangan sumber penghasilan dan bentuk kepemilikan harta menjadi bagian penting dalam pembahasan hukum zakat.
Ia juga menyinggung potensi zakat perusahaan dan saham yang dapat memberikan manfaat besar apabila dikelola dengan baik. Pandangan tersebut mencerminkan perhatian Muhammadiyah terhadap perkembangan ekonomi sekaligus upaya mengoptimalkan manfaat harta bagi kepentingan masyarakat.
Dalam konteks rapat koordinasi, pembahasan mengenai zakat kontemporer menjadi bagian dari penguatan pemahaman keagamaan, sementara arahan Ambo Asse menitikberatkan pada pembenahan sistem pengelolaan keuangan organisasi.
Ambo Asse turut mengingatkan bahwa kemajuan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari komitmen bersama, keikhlasan, dan kesungguhan seluruh unsur persyarikatan dalam menjalankan tanggung jawab kelembagaan.
Ia menekankan bahwa berbagai persoalan organisasi perlu diselesaikan melalui kerja sama dan langkah perbaikan yang nyata. Menurut dia, kesabaran dalam menghadapi tantangan tidak boleh dimaknai sebagai sikap pasif, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan yang aktif, kreatif, dan dinamis.
Melalui rapat koordinasi tersebut, PWM Sulsel berupaya memperkuat kesamaan langkah antara pimpinan wilayah, pimpinan daerah, dan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam membangun tata kelola keuangan yang lebih tertib, transparan, dan akuntabel.






















