Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Opini

Kolaborasi Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Mengatasi Dampak Negatif Teknologi Informasi dan Penggunaan Gadget

×

Kolaborasi Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Mengatasi Dampak Negatif Teknologi Informasi dan Penggunaan Gadget

Share this article

Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

KHITTAH. CO – Hari ini kita hidup di era serba mudah, serba instan, dan tanpa sekat. Untuk makan saja, kita tidak perlu repot-repot keluar rumah beli bahan untuk dimasak, juga tidak perlu jauh-jauh ke restoran, cukup pencet gadget, pilih jenis makanan yang kita ingin pesan, tidak lama makanan datang ke rumah. Ketika mahasiswa atau siswa butuh menyelesaikan tugas, mereka bisa minta bantuan kecerdasan buatan (AI), tugas segera diselesaikan oleh AI.

Teknologi Informasi (TI) dan penggunaan gadget mempercepat pertukaran informasi, mempermudah komunikasi global. Selain itu, TI juga mempermudah mendapatkan literatur melalui buku-buku yang bisa diakses secara online, mendukung bisnis online (e-commerce), transaksi keuangan digital, dan peningkatan produktivitas, mendorong kreativitas dan inovasi baru dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan.

Selain itu, berbagai dampak negatif yang mungkin muncul seperti kecanduan yang dapat mengganggu, menyebabkan mata lelah, sulit tidur, stres, dan kecanduan gawai, terutama pada anak-anak, mengurangi interaksi fisik dan komunikasi tatap muka, menyebabkan sikap individualistik, meningkatkan risiko cybercrime. Pencurian data pribadi, dan penipuan online,  penyebaran informasi palsu (hoaks) yang cepat serta tergerusnya budaya lokal oleh budaya global, kesenjangan akses teknologi antara yang melek digital dan tidak, juga merupakan dampak negatifnya.

Hadirnya residu akibat perkembangan TI dan penggunaan gadget secara tidak terkontrol  bukan berarti kita harus meninggalkan dan menjauh dari teknologi tersebut, justru kita perlu hadir memanfaatkannya sebaik mungkin, mencoba mengurangi sisi negatif dari kehadirannya. Menangkal dan mengurangi sisi negatif tersebut tidak cukup dikerjakan sendiri-sendiri, khususnya ketika kita ingin mengantisipasi agar generasi muda kita tidak ikut terjerumus oleh dampak negatif teknologi. Di sini ada peran keluarga, sekolah, masyarakat dan pusat-pusat ibadah.

Generasi muda perlu tetap hadir dan bisa beradaptasi dengan kehidupan di era ini, menguasai dan memiliki kompetensi digital, dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi namun tidak terperangkap dengan dampak negatifnya. Di sinilah peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan tempat ibadah. Antisipasi dampak tersebut memerlukan sinergi dari keluarga, sekolah, dan masyarakat:

Keluarga sebagai Fondasi Utama

Peran keluarga menjadi sangat penting dalam melindungi anak-anak generasi muda dalam pembentukan karakter, termasuk upaya melindungi anak-anak dari pengaruh negatif TI dan penggunaan gadget. Berbagai upaya yang  dapat dilakukan di lingkungan keluarga, seperti  mendampingi anak saat menggunakan gadget, tidak sekadar mengawasi tetapi juga memanfaatkan untuk berdiskusi terkait konten yang sedang dilihat, bisa jadi mereka menonton konten tertentu yang mungkin justru dapat dimanfaat oleh orang tua untuk memberi pelajaran melalui konten tersebut, mengatur durasi dan waktu penggunaan gadget, serta tidak menggunakannya sebagai alat penenang anak. Dan, tidak kalah pentingnya adalah menjadi uswah teladan bagi anak-anak saat menggunakan gadget, misalnya orang tua juga membatasi diri menggunakan gadget, tidak menggunakan gadget pada waktu tertentu.

Peran Sekolah

Tempat tumbuh kembang anak setelah keluarga adalah di sekolah, anak berada di sekolah mulai pagi hingga siang, bahkan hingga sore. Akhir-akhir ini tidak sedikit terjadi masalah antara siswa dengan siswa, siswa bahkan dengan guru akibat penyalahgunaan informasi melalui media sosial.  Oleh karena itu, sekolah memiliki peran penting mengantisipasi dampak negatif penggunaan gadget kepada siswa,

Sekolah berperan memberikan pemahaman dan keterampilan teknis yang aman, seperti mengajarkan etika berinternet, cara menyaring informasi yang anti-hoaks, dan bahaya cyberbullying, membuat aturan ketat mengenai penggunaan gadget selama jam sekolah,  mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dan nasional untuk menangkal gaya hidup kebarat-baratan yang negatif, mengarahkan gadget menjadi alat bantu kreativitas dan belajar, bukan sekadar hiburan.

Peran Masyarakat (Lingkungan Sosial) juga menciptakan ekosistem sosial yang mendukung tumbuh kembang anak. Berbagai aktivitas yang dapat dilakukan di lingkungan masyarakat agar tercipta ekosistem sosial yang dapat mengantisipasi penggunaan TI dan gadget secara berlebih dan tidak bertanggung jawab, seperti memberi kepedulian terhadap aktivitas remaja di lingkungan sekitar, menciptakan ruang publik atau kegiatan sosial yang menarik agar remaja tidak terisolasi secara sosial, memperkuat norma dan tradisi lokal untuk menyaring budaya asing yang masuk melalui media sosial, mengadakan penyuluhan tentang dampak negatif gadget dan bahaya konten porno atau radikalisme kepada warga.

Kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mengantisipasi dampak negatif penggunaan TI dan penyebaran informasi di media sosial sangat penting untuk memastikan generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara produktif. Dalam hal ini keluarga mendampingi dan membatasi, sekolah mengedukasi dan mengarahkan, serta masyarakat mengawasi dan memberikan ruang sosial.

Baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, diperlukan pendidikan kepada generasi muda dalam menghadapi dampak IT dan gadget. Pendekatan pendidikan komprehensif yang tidak hanya fokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada etika dan mentalitas. Beberapa hal yang dilakukan seperti pendidikan literasi digital yang tidak hanya sekadar kemampuan menggunakan gadget, melainkan kemampuan berpikir kritis dalam memanfaatkan teknologi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajarkan cara membedakan konten positif, negatif, serta mendeteksi hoaks, memberikan edukasi mengenai perlindungan data pribadi, privasi, dan risiko kejahatan siber, mengarahkan penggunaan gadget untuk tujuan edukatif, seperti pemprograman, kuis interaktif, dan eksplorasi pengetahuan.

Untuk membentuk perilaku yang bertanggung jawab di dunia maya diperlukan etika penggunaan TI dan media sosial, yaitu dengan mengajarkan cara berkomunikasi yang sopan, menghargai pendapat orang lain, dan menghindari cyberbullying, memahami dampak hukum dan sosial dari setiap unggahan, komentar, dan berbagi konten. Di samping itu pendidikan karakter membentengi moral siswa di era digital, membantu siswa mengatur waktu agar tidak kecanduan gadget (misalnya, menerapkan digital detox), memperkuat interaksi fisik dan empati untuk mengatasi sikap individualistik yang ditimbulkan oleh teknologi, mengajarkan cara menghadapi tekanan sosial yang timbul dari media sosial.

Kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat mengantisipasi dampak negatif dan memberi edukasi penggunaan TI dan gadget serta penggunaan media sosial dapat diharapkan generasi muda untuk tumbuh menjadi individu yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga bijak, kritis, dan beretika dalam menggunakan gadget.

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply