Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Zakat Membumikan Cahaya Ar-Rahman dan Melumpuhkan Darwinisme

×

Zakat Membumikan Cahaya Ar-Rahman dan Melumpuhkan Darwinisme

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030)

KHITTAH. CO – Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengungkap kisah perjalanan Charles Darwin sebagai seorang pemalu yang akhirnya menjadi seorang ilmuwan yang mengangkat teori evolusi dan menegaskan tentang seleksi alam dan pentingnya kemampuan adaptasi untuk bertahan hidup. Bahkan di balik kontroversial teori evolusi ini membuat Tuhan tersingkir dari gagasan penciptaan. Sekali lagi bukan tentang ini, apalagi diri ini sebagai orang yang beriman dan berakal sudah pasti memiliki cara pandang lain.

Saya dan kita semua sebagai orang beriman semestinya senantiasa teguh pada pendirian bahwa Allah Swt senantiasa hadir dalam setiap gagasan penciptaan sebagai antitesa dari teori evolusi Darwin. Bukan hanya itu, kita harus berupaya menyingkirkan dan melumpuhkan Darwinisme. Darwinisme itu jika merujuk pada pandangan dr. Soetomo (dalam Zakiyuddin dan Azaki, 2017: 35-36) merupakan paradigma pemikirn Barat Modern yang meletakkan seleksi alam atas kekuatan individual. Darwinisme tidak memberikan kekuatan kaum lemah untuk menjadi berkemajuan.

Membaca realitas kehidupan hari ini, saya menemukan bahwa DNA Darwinisme masih menyusup dalam kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara. Bahkan mengalami evolusi dan transformasi ke arah individual-individual kolektif. Jika dulu individual yang dimaksud adalah tunggal, kini berada dalam kolektif. Kasarnya, jika merujuk pemahaman awal dari Darwinisme, kini seleksi alam diletakkan atas kekuatan kelompok atau golongan tertentu dan tidak memberikan kekuatan pada kelompok yang lemah untuk menjadi berkemajuan. Kelompok dan golongan ini bisa berada dalam cakupan makna yang luas, seperti kekuatan politik dan/atau ekonomi tertentu. Dalam konteks Indonesia, umat Islam belum mayoritas dalam perspektif kualitas, khususnya dalam kekuatan ekonomi umat. Masih merayap dan sulit bersanding dengan kekuatan ekonomi lain.

Di bumi ini dalam kehidupan global, kita memang masih bisa menemukan kekuatan ideologi besar dunia yang masing-masing berada dalam dua kutub esktrem yang berlawanan. Pemahaman sederhananya ada yang sangat menonjolkan kepentingan individu tanpa memperhatikan individu yang lain. Di sisi lain ada yang mengedepankan kebersamaan tetapi mengabaikan keadilan atas jerih payah individu-individu yang ada.

Islam hadir sebagai jalan tengah dari dua kutub ekstrem tersebut. Zakat dan/atau berzakat adalah kristalisasi dari Islam sebagai agama wasathiyah sebuah konsep moderasi Islam yang menekankan pada prinsip keseimbangan (tawazun), keadilan (‘adl), dan posisi tengah (tawassuth).

Prinsip Islam di atas sudah pasti menolak hal-hal yang dipandang sebagai sikap dan tindakan ekstrem. Dalam pandangan saya Darwinisme pun itu adalah paradigma pemikiran yang ekstrem. Sehingga,  Darwinisme—sekali lagi—harus bisa dilumpuhkan. Dalam konteks Indonesia, Darwinisme bukan hanya paradoks dengan ruh ajaran Islam tetapi juga ruh dari Pancasila.

Zakat sebagai ibadah yang berkarakter muamalah bisa menjadi jalan agar sikap, tindakan, dan karakter yang tidak memberikan ruang dan kekuatan bagi kaum lemah untuk berkembang sebagai ciri dan prinsip dasar dari Darwinisme, itu tidak berkembang lagi. Sebab, jika ruh Darwinisme ini terus berkembang, maka sudah pasti jurang pemisah antara si kaya dan si miskin semakin terbuka lebar, begitu pun keadilan terutama dalam hal ekonomi semakin sulit ditegakkan. Padahal ini sangat paradoks dan sebagai antitesa dari zakat.

Menyelam masuk ke dalam inti ajaran Islam, satu hal yang juga akan ditemukan adalah bahwa Islam sebagai agama yang mengedepankan kasih-sayang. Ketika ajaran agama Islam menegaskan “Mengawali aktivitas tanpa membaca basmalah menyebabkan amalan tersebut terputus keberkahannya”, saya menangkap pesan mulia dari Allah, bahwa pentingnya spirit Ar-Rahman-Ar-Rahim dalam kehidupan ini. Jadi bacaan basmalah diawal aktivitas kita bukan hanya untuk harapan lahirnya keberkahan Allah, bukan pula supaya terhindar dari ganguan setan, tetapi kita pun sebagai manusia dan sekaligus sebagai hamba Allah, harus senantiasa menghadirkan kasih-sayang.

Kita sebagai manusia dan sekaligus sebagai hamba Allah yang beriman—apalagi sebagai khalifah yang dimaknai wakil Allah di muka bumi—seharusnya berupaya sepenuh jiwa dan sekuat tenaga untuk mewujudkan Ar-Rahman-Ar-Rahim Allah dalam setiap napas kehidupan dan tindakan apa pun yang kita lakukan. Tetapi, dalam pemahaman agama Islam bahwa Ar-Rahman itu bermakna kasih sayang Allah yang luas, universal, dan sementara di dunia untuk seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim adalah kasih sayang khusus, kekal, dan mendalam bagi orang beriman terutama di akhirat. Dari pandangan tersebut, kita sebagai manusia tentu saja hanya bisa membumikan ­cahaya Ar-Rahman-Nya Allah Swt.

Dari pandangan di atas dan berbagai pandangan tentang zakat—termasuk infaq dan sedekah meskipun saya tidak menyebutnya langsung pada judul—sehingga saya meyakini zakat bisa membumikan cahaya Ar-Rahman. Zakat merefleksikan kasih-sayang, empati, dan niat untuk membantu orang lain terutama bagi kaum lemah. Merujuk pada delapan asnaf zakat, pada dasarnya dan sebagian besar,  zakat itu berorientasi pada orang-orang yang kurang mampu, mengalami kekurangan, atau berada dalam posisi sulit dalam kehidupan yang dijalaninya.

Zakat bukan hanya memenuhi kekurangan kebutuhan orang lain atau selevel lebih tinggi mengentaskan kemiskinan, tetapi meningkat kesejahteraan atau kualitas hidup masyarakat. Bahkan, Ultimate goals dari zakat adalah melakukan transformasi kehidupan masyarakat dari mustahik (penerima) menjadi muzaki (pemberi atau orang yang berzakat).

Jadi, zakat yang membumikan cahaya Ar-Rahman terutama kepada orang-orang lemah (dhuafa) maupun kaum yang dilemahkan (mustadahfin) sudah pasti menjadi jalan agar spirit Darwinisme yang justru tidak memberikan ruang kekuatan bagi orang lain untuk berkembang, itu bisa dilumpuhkan.

Indonesia sebagai negara Pancasila—bukan sebagai negara sekuler dan apalagi mayoritas penduduknya adalah muslim—sejatinya tidak memberikan ruang subur bagi tumbuhnya spirit Darwinisme di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi, makna Darwinisme yang dalam perspektif saya mengalami transformasi dengan makna meletakkannya pada kekuatan individual-individual kolektif, seperti hadirnya korporasi tertentu yang menjadi oligarki di tengah kehidupan demokrasi Indonesia, itu semakin nyata dan sangat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dari kondisi di atas yang merujuk pada kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini, khususnya dalam kehidupan demokrasi, penting untuk senantiasa menghadirkan atau membumikan cahaya Ar-Rahman dengan menghadirkan spirit zakat dalam kehidupan. Bukan hanya dalam perpektif menyalurkan zakat yang tepat sasaran, tetapi spirit berzakat itu akan membentuk karakter kolektif umat Islam agar tidak pula terseret ke dalam spirit Darwinisme sehingga menjadi parasit bagi bangsa dan negaranya sendiri.

Melalui zakat bukan hanya mencapai tujuan dan bahkan ultimate goals yang disebut di atas, zakat pun akan membentuk karakter secara individual dan kolektif untuk senantiasa memiliki kepedulian, mengedepankan kasih-sayang, dan menghadirkan semangat untuk senantiasa hadir di tengah-tengah kehidupan kaum lemah dan/atau dilemahkan untuk mengangkat menjadi orang-orang  yang kelak bisa mengalami kemajuan dalam hidupnya.

Karakter yang terbentuk dari menunaikan kewajiban zakat akan mampu menjadi cara efektif agar spirit Darwinisme yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan termasuk Pancasila tidak tumbuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

 

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply