
Oleh: Nashrul Mu’minin (Content Writer)
Fenomena kata “terserah” dalam hubungan percintaan sering dianggap sepele, padahal dalam praktiknya justru menjadi salah satu sumber konflik komunikasi paling berulang antara perempuan dan laki-laki. Kata ini tampak sederhana, singkat, dan netral, namun di baliknya sering tersimpan lapisan emosi yang tidak langsung terlihat.
Banyak laki-laki merasa bingung karena menganggap “terserah” sebagai bentuk penyerahan keputusan, padahal dalam banyak kasus, kata ini justru muncul ketika emosi sedang tidak stabil, ketika ada kekecewaan yang tidak tersampaikan, atau ketika seseorang merasa sudah terlalu lelah untuk menjelaskan perasaannya berulang kali. Di titik inilah muncul paradoks komunikasi: satu kata yang terlihat pasif, tetapi sebenarnya sangat aktif secara emosional.
Dalam kajian psikologi komunikasi, manusia tidak hanya berbicara menggunakan kata-kata, tetapi juga menyampaikan emosi, harapan, dan kebutuhan yang tidak selalu diucapkan secara eksplisit. Perempuan dalam banyak studi komunikasi interpersonal cenderung menggunakan komunikasi tidak langsung (indirect communication) ketika berada dalam kondisi emosional tertentu, terutama dalam hubungan yang melibatkan perasaan.
Kata “terserah” sering muncul bukan karena benar-benar tidak peduli, tetapi karena ada proses psikologis berupa emotional overload, yaitu kondisi ketika seseorang merasa terlalu banyak mengungkapkan perasaan tetapi tidak merasa dipahami. Dalam situasi seperti ini, otak emosional cenderung “menutup diri” secara verbal, dan memilih satu kata sederhana sebagai bentuk perlindungan diri: “terserah”.
Jika dilihat lebih dalam, kata “terserah” juga sering muncul sebagai bentuk respons terhadap ketidaksesuaian harapan (expectation mismatch). Dalam hubungan romantis, perempuan sering memiliki harapan agar pasangan mampu memahami emosi tanpa harus dijelaskan secara detail, sementara laki-laki cenderung mengandalkan komunikasi langsung yang bersifat logis dan problem-solving. Ketika penjelasan panjang tidak menghasilkan perubahan atau respons yang sesuai harapan, maka muncul rasa lelah emosional yang kemudian termanifestasi dalam kata “terserah”. Ini bukan ketidakpedulian, tetapi bentuk diam yang sebenarnya menyimpan banyak pesan tersembunyi seperti kekecewaan, rasa tidak didengar, atau keinginan untuk dihargai secara emosional.
Paradoks ini semakin kuat ketika dikaitkan dengan teori komunikasi interpersonal, khususnya communication accommodation theory, yang menjelaskan bahwa seseorang akan menyesuaikan atau justru menarik diri dari komunikasi ketika merasa tidak sinkron dengan lawan bicara. Dalam konteks ini, “terserah” adalah bentuk withdrawal komunikasi, yaitu menarik diri secara emosional dari diskusi yang dianggap tidak lagi produktif. Namun bagi pasangan laki-laki, kata ini sering diterjemahkan secara literal sebagai persetujuan, sehingga keputusan diambil tanpa menyadari bahwa di baliknya masih ada emosi yang belum selesai. Ketidaksinkronan inilah yang kemudian menciptakan konflik kecil yang berulang dalam hubungan.
Dari sisi psikologi emosi, “terserah” juga dapat dipahami sebagai bentuk self-protection mechanism. Ketika seseorang merasa tidak didengar atau emosinya diabaikan, otak secara alami akan mengurangi intensitas keterlibatan emosional untuk menghindari luka yang lebih dalam. Maka kata “terserah” bukan hanya bahasa, tetapi juga simbol dari “aku sudah tidak ingin memperpanjang pembicaraan karena aku takut semakin kecewa”. Inilah mengapa kata ini sering muncul bukan pada awal konflik, tetapi di puncak kelelahan emosional, ketika diskusi sudah berulang tanpa solusi yang dirasa adil.
Dalam perspektif Islam, komunikasi dalam hubungan manusia sangat ditekankan untuk dilakukan dengan jelas, lembut, dan tidak menimbulkan (kesalahpahaman). Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)
Ayat ini menegaskan bahwa komunikasi tidak hanya dinilai dari isi, tetapi juga dari dampaknya terhadap hati orang lain. Dalam konteks relasi, ucapan yang tidak jelas atau berpotensi menimbulkan salah tafsir sebaiknya dihindari, karena Islam menempatkan kejelasan (bayān) sebagai bagian dari etika komunikasi. Dalam ayat lain, Allah juga mengingatkan: “Maka janganlah kamu merendahkan suara dalam berbicara…” (QS. Al-Ahzab: 32)
Ayat ini sering dipahami sebagai etika umum dalam komunikasi, yaitu menjaga ucapan agar tidak menimbulkan fitnah atau salah paham. Dalam konteks relasi modern, pesan yang dapat diambil adalah pentingnya komunikasi yang jujur, jelas, dan tidak menggantungkan makna pada asumsi pasangan.
Dari sisi fikih, hubungan antar manusia masuk dalam kaidah besar: “Hukum asal dalam muamalah adalah boleh.”
Artinya, komunikasi dalam hubungan diperbolehkan selama tidak menimbulkan mudarat seperti ketidakadilan emosional, gangguan psikologis, atau kesalahpahaman. Kata “terserah” sendiri tidak memiliki hukum khusus, tetapi jika menjadi pola komunikasi yang terus-menerus menutup dialog dan menciptakan konflik emosional, maka secara etika Islam hal itu tidak dianjurkan karena bertentangan dengan prinsip kejelasan dan kasih sayang dalam hubungan.
Sementara dalam konteks hukum negara, relasi sosial dan keluarga dijaga melalui prinsip perlindungan martabat manusia dalam UUD 1945 Pasal 28G ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, dan martabatnya. Ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam hubungan seharusnya tidak merendahkan, tidak membingungkan secara sengaja, dan tidak menciptakan tekanan psikologis yang berulang. Selain itu, Pasal 28D ayat (1) menegaskan hak atas kepastian dan keadilan, yang dalam konteks relasi dapat dimaknai sebagai hak untuk dipahami secara adil dalam komunikasi.
Jika ditarik dalam kesimpulan psikologis, “terserah” adalah paradoks karena ia berada di antara dua makna yang bertentangan: secara permukaan berarti menyerahkan keputusan, tetapi secara emosional berarti menyimpan kekecewaan yang belum tersampaikan. Laki-laki sering menangkap kata, sedangkan perempuan sering menyampaikan rasa di balik kata. Ketika dua cara komunikasi ini tidak dipahami, yang terjadi bukan hanya miskomunikasi, tetapi juga akumulasi luka kecil yang berulang dalam hubungan. Oleh karena itu, kunci utama bukan menghilangkan kata “terserah”, tetapi membangun kesadaran komunikasi emosional agar pasangan mampu bertanya lebih dalam, bukan hanya mendengar kata, tetapi juga memahami makna yang tidak diucapkan.


















