Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Opini

Teologi Paradoks: Tunduk untuk Membebaskan

×

Teologi Paradoks: Tunduk untuk Membebaskan

Share this article

Oleh: Antong (Dosen Universitas Muhammadiyah Palopo)

KHITTAH.CO – Ada paradoks menarik dalam keberagamaan: manusia tunduk agar menjadi bebas, menghambakan diri agar tidak diperhamba, dan semakin taat kepada Tuhan justru semakin dituntut untuk aktif mengubah kehidupan.

Sekilas, ketundukan dan pembebasan merupakan dua kata yang bertentangan. Ketundukan sering diasosiasikan dengan kepatuhan, penerimaan, bahkan kepasifan. Sebaliknya, pembebasan identik dengan kemerdekaan, keberanian, dan gerakan. Namun dalam perspektif tauhid, keduanya bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan. Ketundukan kepada Allah justru dapat menjadi sumber pembebasan manusia. Di sinilah salah satu jalan untuk membaca Islam Berkemajuan melalui apa yang dapat kita sebut sebagai teologi paradoks: teologi ketundukan yang membebaskan.

Tauhid dan Paradoks Pembebasan

Tauhid bermula dari pengakuan yang sederhana sekaligus radikal: hanya Allah Yang Absolut dan hanya kepada-Nya manusia menghambakan diri. Risalah Islam Berkemajuan menempatkan tauhid sebagai karakteristik mendasar Islam Berkemajuan. Tauhid tidak berhenti sebagai pengakuan mengenai keesaan Allah. Ia menjadi prinsip keyakinan yang menjadi rujukan pemikiran dan tindakan manusia serta akan dipertanggungjawabkan kepada Allah. RIB kemudian memberikan konsekuensi yang sangat penting, bertauhid harus diwujudkan dalam perjuangan membebaskan manusia dari ketidakadilan dan penghisapan serta sikap kritis terhadap ketimpangan dan kemungkaran.

Di sinilah paradoks itu bermula. Ketika manusia hanya menghambakan dirinya kepada Allah, pada saat yang sama ia sedang membebaskan dirinya dari penghambaan kepada selain Allah. Jika hanya Allah Yang Absolut, kekuasaan manusia tidak boleh diabsolutkan. Kekayaan tidak boleh menjadi ukuran tertinggi kehidupan. Pasar tidak boleh mengendalikan seluruh nilai kemanusiaan. Teknologi tidak boleh menentukan sendiri arah peradaban. Bahkan ego manusia tidak boleh menjadikan dirinya pusat segala sesuatu. Dengan demikian, lawan ketundukan kepada Allah sesungguhnya bukanlah kebebasan. Lawan ketundukan kepada Allah adalah ketundukan kepada selain Allah. Sedangkan salah satu konsekuensi ketundukan kepada Allah justru adalah pembebasan. Inilah paradoks tauhid: manusia menjadi merdeka justru ketika ia hanya mengakui satu tempat penghambaan yakni Allah.

‘Abd yang Tunduk, Khalifah yang Bergerak

Paradoks tersebut semakin jelas ketika kita melihat kedudukan manusia. Islam menempatkan manusia sebagai ‘abd sekaligus khalifah. Sebagai ‘abd, manusia tunduk, menyembah, dan menyerahkan dirinya kepada Allah. Tetapi sebagai khalifah, manusia menerima amanah untuk mengelola kehidupan, menjaga, dan memakmurkan bumi.

Risalah Islam Berkemajuan menghubungkan kedua kedudukan tersebut dengan mandat manusia dalam kehidupan. Bahkan dakwah disebut sebagai usaha transformasi kehidupan. Maka menjadi ‘abd tidak identik dengan diam. Sebaliknya, Semakin tunduk manusia kepada Allah, semakin besar tanggung jawabnya untuk bergerak memperbaiki kehidupan. Di sinilah ‘abd dan khalifah seharusnya dibaca sebagai satu kesatuan antropologi teologis. ‘Abd memberikan orientasi transendental; khalifah memberikan aktualisasi transformasional.

Manusia bersujud sebagai ‘abd, tetapi ia harus bangkit dari sujudnya untuk menjalankan amanah sebagai khalifah. Jika dimensi ‘abd dipisahkan dari khalifah, agama dapat terjebak dalam kesalehan pasif, rajin beribadah tetapi kehilangan sensitivitas terhadap ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, dan kerusakan lingkungan. Sebaliknya, jika khalifah dilepaskan dari ‘abd, aktivitas manusia dapat berubah menjadi kesombongan antroposentris. Manusia merasa dirinya penguasa mutlak bumi, bebas mengeksploitasi alam dan manusia lain atas nama pembangunan, kemajuan, atau kepentingan ekonomi.

“Teologi Berkemajuan” memerlukan keduanya: manusia yang tunduk di hadapan Tuhan sekaligus aktif di hadapan realitas.

Ketundukan yang Melahirkan Pembaruan

Paradoks berikutnya berkaitan dengan tajdid. Bagaimana mungkin seseorang tunduk kepada ajaran agama tetapi pada saat yang sama terus melakukan pembaruan? Jawabannya terletak pada kemampuan membedakan antara prinsip yang harus dipertahankan dengan cara manusia mewujudkan prinsip tersebut dalam realitas yang terus berubah. Islam Berkemajuan tidak memahami pembaruan sebagai tindakan meninggalkan agama. Sebaliknya, tajdid diperlukan agar nilai-nilai agama mampu menjawab perubahan kehidupan. Karena itu, ketundukan kepada prinsip justru dapat menuntut keberanian memperbarui metode. Menjaga bumi adalah amanah. Namun cara menjalankan amanah tersebut pada abad ke-21 tentu berbeda dari masyarakat berabad-abad silam. Di sinilah ilmu pengetahuan, ijtihad, dan teknologi memperoleh kedudukan penting dalam Teologi Berkemajuan.

Ketika Bumi Rusak, Apakah Cukup Beristighfar?

Sebagai seorang akademisi yang juga konsen di bidang lingkungan (green & blue accounting) saya mengumpamakan dengan kasus krisis ekologis sebagai contoh yang sangat konkret. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan telah tampak di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia agar manusia merasakan sebagian akibat perbuatannya dan kembali. Ketika seorang Muslim melihat kerusakan alam, respons spiritualnya tentu penting: Astaghfirullahal ‘azīm. Tetapi persoalan teologisnya adalah apakah istighfar saja cukup ketika kita mengetahui bahwa kerusakan tersebut juga dihasilkan oleh tindakan manusia?

Jika kerusakan terjadi karena apa yang diperbuat tangan manusia maka pertobatan seharusnya tidak berhenti pada penyesalan spiritual. Istigfar berfungsi sebagai deklarasi hati dan lisan yang selanjutnya perlu memperoleh bentuk nyata berupa perubahan cara manusia memperlakukan alam. Contoh: jika emisi karbon menjadi persoalan, manusia perlu mengembangkan energi yang lebih bersih dan teknologi rendah karbon. Jika transportasi menghasilkan emisi yang tinggi, ilmu pengetahuan perlu mendorong kendaraan rendah emisi, kendaraan listrik, dan transportasi publik yang lebih baik. Jika industri mencemari sungai, kita tidak cukup berdiri di tepi sungai sambil beristighfar. Diperlukan teknologi pengolahan limbah, pengawasan lingkungan, regulasi yang tegas, serta perubahan perilaku produksi dan konsumsi. Jika kerusakan daerah aliran sungai meningkatkan risiko banjir, doa harus berjalan bersama konservasi hutan, rehabilitasi DAS, perbaikan tata ruang, sistem peringatan dini, dan teknologi mitigasi bencana.

Semua itu bukan tindakan yang berada di luar agama. Justru di situlah amanah kekhalifahan memperoleh bentuk historisnya. RIB menempatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian dari pelaksanaan tugas kekhalifahan manusia dalam membangun peradaban. Nilai tauhid, ibadah, khilafah, dan ilmu menjadi landasan pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan ishlah atau transformasi sosial memberikan orientasi terhadap penggunaannya. Maka dapat dikatakan: Istighfar adalah kesadaran seorang ‘abd; tindakan memperbaiki kerusakan adalah tanggung jawab seorang khalifah. Keduanya bukan dua bentuk keberagamaan yang terpisah.

Dari Ketundukan Menuju Transformasi

Gerakan ‘teologi berkemajuan” menunjukkan bahwa teologi tidak cukup berhenti pada pertanyaan “Apa yang kita yakini tentang Tuhan?” Pertanyaan berikutnya jauh lebih menantang: “Apa yang harus kita lakukan terhadap dunia karena kita meyakini Tuhan?” Di sinilah istilah berkemajuan memperoleh kedalaman teologis. Kemajuan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, gedung yang semakin tinggi, teknologi yang semakin canggih, atau kecerdasan buatan yang semakin pintar. Sebuah kemajuan layak disebut berkemajuan jika ia mempunyai orientasi moral: memuliakan manusia, menghadirkan keadilan, meningkatkan kesejahteraan, mengembangkan ilmu, dan menjaga keberlanjutan alam.

Terlebih lagi, Risalah Islam Berkemajuan memperluas misi kerahmatan bukan hanya kepada manusia, melainkan juga kepada hewan, tumbuhan, lingkungan, dan sumber daya alam. Maka Teologi Berkemajuan akhirnya membawa kita kembali kepada paradoks awal: Manusia bersujud bukan untuk berhenti bergerak. Ia bersujud untuk menegaskan kepada siapa ia tunduk, kemudian bangkit untuk menjalankan tanggung jawabnya terhadap kehidupan. Karena itu, ketundukan dan pembebasan bukanlah kontradiksi. Ketundukan kepada Allah justru membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain-Nya. Pembebasan itu kemudian melahirkan tanggung jawab kekhalifahan. Kekhalifahan membutuhkan ilmu dan ijtihad. Ilmu dan ijtihad melahirkan tajdid dan ishlah. Dan seluruh gerakan itu diarahkan menuju transformasi kehidupan sebagai rahmat bagi semesta.

Inilah yang dapat kita sebut Teologi Paradoks Berkemajuan: tunduk kepada Tuhan, merdeka dari penghambaan, dan bergerak untuk mentransformasikan kehidupan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply