
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar terus memperkuat kesiapan penyelenggaraan pendidikan profesi. Salah satu tahap yang ditempuh ialah memastikan mahasiswa kelak dapat mengikuti ujian kompetensi nasional dengan fasilitas yang tersedia di kampus sendiri.
Kesiapan tersebut ditandai dengan visitasi fasilitas Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dan Computer Based Test (CBT) Center oleh tim asesor Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI), Senin, 21 September 2026.
Visitasi merupakan tindak lanjut permohonan FKIK Unismuh untuk verifikasi fasilitas OSCE dan CBT Center. APTFI menjadwalkan rangkaian visitasi pada 20–22 September 2026.
Tim asesor terdiri atas apt. Abd Rahim, M.Si., Ph.D. dari Universitas Hasanuddin, apt. Abd. Malik, M.Sc., Ph.D. dari Universitas Muslim Indonesia, serta Dr. apt. Riesta Primaharinastiti, M.Si. dari Universitas Airlangga.
Sebelum memulai rangkaian visitasi, tim asesor terlebih dahulu diterima Pelaksana Harian (Plh) Rektor Unismuh Makassar yang juga Wakil Rektor I, Prof Andi Sukri Syamsuri, atau akrab disapa Prof Andis, di Ruang Rektor lantai 17 Gedung Iqra Unismuh.
Prof Andis menyampaikan terima kasih atas dukungan para asesor terhadap pengembangan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker di Unismuh. Dalam pertemuan tersebut, ia juga memperkenalkan selayang pandang Unismuh, termasuk perkembangan universitas dan penguatan berbagai program akademik.
Pertemuan itu turut dihadiri Wakil Rektor IV Dr Burhanuddin, Wakil Dekan I FKIK Dr dr A. Weri Sompa, Sp.S, M.Kes, serta unsur pimpinan FKIK dan program studi. Catatan kegiatan juga menyebut tim asesor diterima pimpinan universitas sebelum rangkaian visitasi dilanjutkan.
Usai pertemuan dengan pimpinan universitas, tim asesor menuju Ruang Rapat FKIK Unismuh untuk melanjutkan agenda utama visitasi bersama pimpinan fakultas, program studi, dan tim persiapan OSCE serta CBT Center.
Perkuat Prodi Profesi Apoteker
Dalam pertemuan di FKIK, Wakil Rektor IV Unismuh Dr Burhanuddin mengatakan, visitasi menjadi bagian penting dalam pengembangan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker. Menurut dia, bidang farmasi dalam beberapa tahun terakhir termasuk program studi yang mendapat perhatian cukup besar dari masyarakat.
Karena itu, pengembangan pendidikan farmasi di Unismuh tidak berhenti pada jenjang sarjana, tetapi dilanjutkan melalui pendidikan profesi apoteker yang ditunjang perangkat akademik dan fasilitas sesuai standar.
“Kehadiran tim asesor pada hari ini merupakan momen yang sangat penting karena dengan visitasi ini kita akan banyak bercermin, sekaligus mendapat evaluasi dan verifikasi sejauh mana jaminan mutu, khususnya terkait fasilitas OSCE dan CBT,” ujar Burhanuddin.
Ia menegaskan, pimpinan universitas, fakultas, program studi, dan tim persiapan telah berupaya maksimal menyiapkan berbagai kebutuhan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker.
Meski demikian, Unismuh tetap membuka diri terhadap catatan dan rekomendasi asesor. Masukan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan untuk meningkatkan mutu pendidikan profesi apoteker.
Agar Mahasiswa Bisa Ujian di Kampus Sendiri
Mewakili tim asesor, apt. Abd Rahim, M.Si., Ph.D. menjelaskan, keberadaan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker perlu ditunjang fasilitas yang memenuhi standar pelaksanaan ujian kompetensi nasional.
“Sebagai tindak lanjut dari pembukaan program studi profesi apoteker, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana mempersiapkan fasilitas untuk ujian nasional, yakni OSCE dan CBT,” ujarnya.
Menurut Abd Rahim, visitasi bukan sekadar pemeriksaan administratif. Tim asesor melihat langsung kesesuaian fasilitas dengan standar yang dipersyaratkan. Jika masih terdapat kekurangan, program studi memiliki kesempatan untuk melakukan penyempurnaan.
Ia berharap fasilitas OSCE dan CBT Center FKIK Unismuh nantinya memperoleh persetujuan untuk digunakan mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa PSPPA Unismuh tidak perlu mencari pusat ujian di perguruan tinggi lain ketika mengikuti ujian kompetensi.
“Kalau ada yang kurang, masih ada kesempatan untuk melengkapi. Intinya kita berharap fasilitas OSCE dan CBT ini bisa digunakan mahasiswa pada saat mengikuti ujian nasional,” kata Abd Rahim.
Dorong Kolaborasi Pendidikan Farmasi
Abd Rahim juga menekankan pentingnya kolaborasi antarprogram studi farmasi dan profesi apoteker. Menurut dia, perguruan tinggi tidak dapat mengembangkan pendidikan farmasi secara sendiri-sendiri.
Kehadiran Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Unismuh diharapkan memperkuat jejaring pendidikan tinggi farmasi, khususnya di Makassar dan Sulawesi Selatan.
“Kita harus saling bekerja sama, saling membantu. Kalau sekarang kita mau jalan sendiri-sendiri, kita akan ketinggalan,” katanya.
Ia berharap Prodi Apoteker Unismuh dapat bekerja sama dengan program sejenis yang lebih dahulu berdiri untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan tinggi farmasi di Indonesia.
Dalam agenda visitasi, tim APTFI melakukan pengecekan kesesuaian checklist, meninjau langsung sarana dan prasarana OSCE serta CBT, kemudian menyusun rekomendasi berdasarkan hasil pemeriksaan. Agenda utama dijadwalkan berlangsung Senin mulai pukul 08.30 hingga 15.30.
Visitasi tersebut menjadi salah satu tahapan penting bagi PSPPA FKIK Unismuh dalam membangun ekosistem pendidikan profesi yang utuh, mulai dari proses pembelajaran, penyediaan fasilitas, hingga kesiapan mahasiswa menghadapi ujian kompetensi nasional.






















