Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Karhutla Ganggu Pendidikan dan Dakwah di Lamandau, Da’i Muhammadiyah Tetap Mengabdi

×

Karhutla Ganggu Pendidikan dan Dakwah di Lamandau, Da’i Muhammadiyah Tetap Mengabdi

Share this article

KHITTAH.CO, LAMANDAU — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat. Di tengah kabut asap dan krisis air bersih, Hikari Aufa Rofiqi, Da’i Daerah 3T Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tetap menjalankan pengabdian dan mendampingi masyarakat.

Selama kurang lebih empat bulan mendampingi warga, Hikari menyaksikan langsung bagaimana karhutla memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Dampaknya dirasakan mulai dari perjalanan menuju sekolah, aktivitas belajar anak-anak, hingga pemenuhan kebutuhan air bersih.

Setiap hari, Hikari harus menempuh perjalanan sekitar 25 kilometer menuju sekolah Muhammadiyah. Kondisi jalan yang berdebu, ditambah asap akibat kebakaran, membuat perjalanan semakin sulit. Situasi tersebut juga diperberat oleh kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

“Setiap hari saya harus menempuh perjalanan sekitar 25 kilometer menuju sekolah Muhammadiyah. Ketika karhutla terjadi, perjalanan semakin sulit karena jalan dipenuhi debu dan asap,” ungkap Hikari, Kamis, 5 November 2026.

Kabut Asap Mengganggu Aktivitas Pendidikan

Dampak karhutla juga dirasakan langsung oleh anak-anak di lingkungan sekolah. Kabut asap menyebabkan gangguan kesehatan dan membuat sebagian siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran.

Kondisi tersebut mengharuskan pihak sekolah menyesuaikan kegiatan belajar dengan kualitas udara. Aktivitas pendidikan keagamaan, seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan pengajian pekanan, juga perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan masyarakat.

“Kabut asap sangat memengaruhi aktivitas belajar anak-anak. Ada anak yang mengalami gangguan kesehatan sehingga tidak bisa mengikuti pembelajaran. Kami juga harus menyesuaikan kegiatan sekolah, TPQ, dan pengajian pekanan dengan kondisi udara,” jelasnya.

Berdasarkan informasi BMKG untuk periode 15–21 September 2026, terpantau 627 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Kalimantan berdasarkan pemantauan satelit pada 13 September 2026. Sementara itu, laporan BNPB pada 21 September 2026 menyebut penanganan karhutla masih menjadi prioritas di Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Lamandau yang saat itu berada dalam status siaga darurat.

Krisis Air Bersih dan Makna Pengabdian Da’i 3T

Selain kabut asap, masyarakat juga menghadapi persoalan ketersediaan air bersih akibat kondisi kekeringan. Dalam situasi tertentu, warga terpaksa memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Selain kabut asap, masyarakat juga menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih. Dalam kondisi tertentu, warga harus memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian bersama,” kata Hikari.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Hikari memandang pengabdian seorang da’i tidak cukup hanya dilakukan melalui ceramah keagamaan. Kehadiran dan keterlibatan langsung dalam kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dari dakwah, terutama ketika warga menghadapi persoalan sosial dan lingkungan.

“Bagi saya, dakwah bukan hanya menyampaikan ceramah. Dakwah juga berarti hadir bersama masyarakat, memahami kesulitan mereka, dan ikut mendampingi ketika mereka menghadapi persoalan kehidupan,” tuturnya.

Pengalaman di Lamandau memperlihatkan bahwa dakwah di daerah 3T tidak dapat dilepaskan dari realitas kehidupan masyarakat. Persoalan lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi bersama.

Di tengah kondisi karhutla, pengabdian Da’i 3T Muhammadiyah menjadi wujud dakwah yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga pada kepedulian dan pendampingan terhadap kehidupan masyarakat.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI

Leave a Reply