Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Opini

Gerakan Kolektif Memajukan Bumi Lamaddukkelleng: IMM Wajo Ikhtiar Menghadirkan Perubahan

×

Gerakan Kolektif Memajukan Bumi Lamaddukkelleng: IMM Wajo Ikhtiar Menghadirkan Perubahan

Share this article

Oleh : Andi Ummul Resky Lutfiah (Ketua Umum PC IMM WAJO)

Kepemimpinan dalam sebuah organisasi pada hakikatnya bukan sekadar tentang siapa yang berada di posisi terdepan. Kepemimpinan adalah tentang bagaimana sebuah amanah mampu diterjemahkan menjadi gerakan, bagaimana gagasan menemukan jalan menjadi tindakan, dan bagaimana organisasi mampu menghadirkan manfaat bagi kehidupan. Dalam konteks Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), kepemimpinan tidak semestinya berhenti pada pergantian struktur dan periode kepengurusan. Ia merupakan bagian dari ikhtiar kaderisasi, perjuangan, dan keberlanjutan gerakan.

Atas kesadaran tersebut, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Wajo periode 2026–2027 mengusung tema “IMM Wajo; Gerak Kolektif Memajukan Bumi Lamaddukkelleng.” Tema ini bukan sekadar identitas kepengurusan yang tertulis dalam dokumen organisasi. Ia adalah pijakan sekaligus arah gerakan untuk satu periode ke depan. Ada kesadaran bahwa memajukan Wajo tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang, satu kelompok, bahkan satu organisasi. Perubahan membutuhkan kesadaran bersama, keterlibatan banyak pihak, serta keberanian untuk menyatukan berbagai potensi dalam sebuah kerja kolektif.

Dalam perjalanan organisasi, kepemimpinan sering kali dipahami terlalu sempit sebagai persoalan siapa yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Padahal, kepemimpinan sejatinya berbicara tentang kemampuan menghidupkan potensi yang ada. Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang bergantung kepada satu figur, melainkan organisasi yang mampu melahirkan banyak kader yang memiliki keberanian mengambil peran. Karena itu, kepemimpinan IMM Wajo harus menjadi energi yang menggerakkan, bukan sekadar struktur yang mengatur.

Pemimpin tidak cukup hanya mampu memberikan instruksi. Ia harus mampu membuka ruang partisipasi, mendengar gagasan, membangun kepercayaan, serta memberikan kesempatan kepada kader untuk tumbuh. Setiap kader harus merasakan bahwa dirinya memiliki arti dalam perjalanan organisasi. Sebab kekuatan IMM tidak hanya terletak pada mereka yang berada di struktur kepemimpinan, tetapi pada seluruh kader yang bersedia belajar, bekerja, dan mengambil tanggung jawab terhadap masa depan gerakan.

Di sinilah gagasan tentang gerak kolektif menemukan relevansinya. Gerak kolektif merupakan kesadaran bahwa tidak ada kader yang seharusnya berjalan sendirian. Setiap gagasan, program, dan kerja organisasi harus dibangun dari kesadaran bahwa IMM merupakan rumah bersama. Di dalamnya terdapat beragam karakter, latar belakang, kemampuan, dan cara pandang. Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi sumber jarak, tetapi menjadi kekuatan untuk memperkaya gerakan.

IMM Wajo harus mampu menjadi ruang perjumpaan bagi berbagai potensi kader. Tempat keresahan dibicarakan, gagasan dipertukarkan, dan energi anak muda diarahkan menjadi kerja nyata. Gerakan tidak boleh hanya bertumpu pada segelintir orang yang terus bekerja, sementara kader lainnya hanya menjadi penonton. Gerak kolektif menuntut keterlibatan yang lebih luas karena organisasi yang kuat bukan hanya organisasi yang memiliki banyak kader, tetapi organisasi yang mampu membuat kader merasa memiliki.

Sebagai organisasi mahasiswa, IMM juga memiliki tanggung jawab intelektual. Kader tidak cukup hanya aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, tetapi harus memiliki kemampuan membaca realitas. Intelektualitas merupakan modal penting agar kader mampu memahami perubahan dan membaca persoalan masyarakat secara lebih mendalam. Membaca Wajo berarti memahami dinamika masyarakatnya, melihat persoalan pendidikan, ekonomi, kebudayaan, lingkungan, kepemudaan, serta berbagai tantangan pembangunan yang hadir di tengah masyarakat.

Karena itu, tradisi kajian, diskusi, literasi, penelitian, dan pengembangan kapasitas kader harus terus dihidupkan. Namun, intelektualitas tidak boleh berhenti pada produksi wacana. Pengetahuan harus menemukan keberpihakannya pada kehidupan. Gagasan harus berani turun menjadi tindakan. Apa yang dibicarakan di ruang diskusi harus memiliki hubungan dengan apa yang dirasakan masyarakat.

Kader IMM harus mampu menjadikan pengetahuan sebagai bekal untuk memahami sekaligus merespons persoalan. Sebab intelektualitas yang kehilangan keberpihakan akan mudah berubah menjadi sekadar kebanggaan personal. Sebaliknya, intelektualitas yang berpijak pada realitas akan melahirkan keberanian untuk mengabdi dan menghadirkan perubahan.

Karena itu pula, IMM tidak boleh menjadi organisasi yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Kehadiran IMM harus memiliki jejak di tengah masyarakat. Bumi Lamaddukkelleng bukan hanya ruang geografis tempat organisasi menjalankan aktivitasnya, tetapi ruang pengabdian tempat kader belajar memahami kehidupan secara langsung.

Wajo memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan oleh generasi muda. Potensi tersebut membutuhkan gagasan, kreativitas, keberanian, dan kerja bersama. IMM dapat mengambil bagian melalui pendidikan, pemberdayaan masyarakat, gerakan sosial, literasi, pengabdian, maupun berbagai bentuk kontribusi lainnya. Kader tidak hadir sebagai pihak yang merasa paling tahu, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang bersedia belajar, bekerja, dan tumbuh bersama masyarakat.

Gerak kolektif pada akhirnya membutuhkan kolaborasi. IMM Wajo tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat seorang diri. Karena itu, ruang perjumpaan dengan berbagai elemen perlu terus dibangun. Pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, komunitas, dunia usaha, tokoh masyarakat, dan berbagai kelompok sosial dapat menjadi bagian dari jejaring gerakan yang lebih luas.

Kolaborasi bukan berarti kehilangan identitas. Kolaborasi justru menjadi jalan untuk memperluas manfaat gerakan. Namun, kolaborasi ke luar harus dibangun dari budaya partisipatif di dalam. Kader harus dilibatkan bukan hanya ketika program hendak dilaksanakan, tetapi sejak gagasan dirumuskan hingga evaluasi dilakukan. Dengan demikian, IMM dapat menjadi ruang pembelajaran demokrasi sekaligus ruang pendidikan kepemimpinan bagi kader.

Pada akhirnya, setiap periode kepemimpinan akan berhadapan dengan pertanyaan yang sederhana tetapi mendasar: kader seperti apa yang hendak dilahirkan? IMM Wajo harus menjadi ruang tumbuh bagi kader. Tempat mereka belajar memimpin, belajar berbeda pendapat, belajar mengambil keputusan, belajar bertanggung jawab, sekaligus belajar menerima kekurangan dan memperbaikinya.

Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang membuat kader bergantung kepada dirinya. Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu membuat semakin banyak kader berani berdiri, berpikir, dan mengambil tanggung jawab. Kaderisasi bukan sekadar mempersiapkan penerus struktur organisasi. Kaderisasi adalah proses menyiapkan manusia yang memiliki ilmu, integritas, keberanian, dan kesediaan untuk mengabdikan dirinya bagi kehidupan yang lebih baik.

Memajukan Bumi Lamaddukkelleng karena itu tidak berarti IMM harus menjadi satu-satunya aktor perubahan. IMM adalah salah satu bagian dari kekuatan masyarakat yang memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil peran. Satu periode kepemimpinan PC IMM Wajo 2026–2027 harus menjadi ruang pembuktian bahwa gerakan mahasiswa masih memiliki relevansi dengan zamannya. Bahwa idealisme tidak harus berhenti menjadi slogan. Bahwa intelektualitas dapat berjalan beriringan dengan pengabdian. Dan bahwa kaderisasi dapat melahirkan manusia-manusia yang mampu membaca zaman sekaligus memberikan jawaban atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Kita perlu menjembatani gagasan dengan tindakan, kaderisasi dengan realitas sosial, serta idealisme dengan kebutuhan masyarakat. Sebab perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Ia sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, disatukan oleh solidaritas, dan diarahkan oleh cita-cita bersama.

Bumi Lamaddukkelleng adalah ruang pengabdian. IMM adalah bagian dari ikhtiar itu. Maka kepemimpinan satu periode ini hendaknya tidak diukur hanya dari banyaknya agenda yang terlaksana, tetapi dari seberapa jauh organisasi mampu menumbuhkan kader, memperluas manfaat, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi masyarakat.

Sebab pada akhirnya, gerakan bukan tentang siapa yang paling banyak terlihat. Gerakan adalah tentang apa yang tetap tumbuh setelah kita selesai bekerja.

Mari bergerak bukan sekadar untuk terlihat, tetapi untuk memberi arti. Mari bertumbuh bukan sekadar untuk menjadi besar, tetapi agar semakin banyak yang dapat kita berikan.

IMM Wajo: Gerak Kolektif Memajukan Bumi Lamaddukkelleng.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner ITKESMU SIDRAP

Leave a Reply