Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Opini

Miskin Integritas, Kaya Identitas: Saat Gengsi Menggantikan Harga Diri

×

Miskin Integritas, Kaya Identitas: Saat Gengsi Menggantikan Harga Diri

Share this article

Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

KHITTAH. CO – Ketika kapitalisme berhasil menyusup ke dalam ruang paling intim dari kemanusiaan, harga diri tidak lagi dilahirkan dari dalam jiwa, melainkan dibeli di etalase toko dan dihitung lewat angka validasi digital, logo di punggung ponsel kini berbicara lebih keras daripada karakter pemiliknya, dan secangkir kopi di tempat estetis telah menjadi sertifikat kelas sosial yang instan. Tragisnya, di era di mana dahulu manusia menyembunyikan kecurangan karena rasa malu, hari ini kita justru lebih takut terlihat miskin di hadapan dunia digital daripada kehilangan integritas diri.

Ilusi kemewahan ini secara perlahan telah merombak total standar moral masyarakat, cara pandang terhadap seseorang mengalami pergeseran,  harga diri seseorang tidak lagi diukur integritas pribadi. Nilai diri telah bergeser menjadi sesuatu yang materi. Orang merasa “berharga” dan percaya diri hanya jika mereka memegang gawai model terbaru, memakai baju bermerek viral, atau nongkrong di tempat yang estetis. Barang tidak lagi dibeli karena fungsinya, melainkan karena simbol atau identitas yang melekat pada barang tersebut.

Fenomena di atas terkonfirmasi pada teori Fetisisme Komoditas yang menjelaskan bagaimana sebuah barang tidak lagi dinilai dari fungsi utamanya, melainkan dari nilai sosial dan prestise yang melekat pada barang tersebut. Memiliki barang tertentu dianggap otomatis menaikkan derajat manusia. Sementara itu, Jean Baudrillard dalam teori Masyarakat Konsumsi (Consumer Society) menjelaskan bahwa di dunia modern, kita membeli barang bukan lagi karena nilai gunanya, melainkan karena nilai tanda seperti status, gengsi, dan pengakuan sosial.

Akibatnya, rasa malu kita telah bergeser menjadi sesuatu yang sifatnya eksternal, dari hal yang sifat in-material  ke materi. Kita malu tidak menggunakan barang-barang bermerk, tidak menggunakan barang keluaran terbaru, tetapi tidak malu melakukan korupsi untuk memenuhi hasrat memiliki barang tersebut.

Dalam konteks kekinian, disadari atau tidak kapitalisme telah mengkomodifikasi harga diri kita. Kita tidak lagi malu saat berbuat curang, melainkan justru malu kalau hidup dalam kesederhanaan. Ketika harga diri dan gengsi sudah dinilai sekadar dari benda, pangkat, jabatan, dan semacamnya, kita perlu menengok kembali warisan konsep Siri’ naPacce.

Konsep di atas merupakan sebuah sistem kesadaran psikologis yang sangat dalam tentang bagaimana menjadi manusia sejati. Secara filosofis, siri’ adalah harga diri yang inheren dan kesucian jiwa yang berhubungan langsung dengan Tuhan. Falsafah Bugis mengatakan: “Siri’emi rionrong rilino”, yang berarti hanya demi menjaga kehormatan kita hidup di dunia.

Siri’ yang sejati bekerja seperti “alarm internal” yang dalam psikologi dikenal sebagai teori Perkembangan Moral dari Lawrence Kohlberg, khususnya pada tahap pasca-konvensional. Pada tahap tertinggi ini, seseorang bertindak benar bukan karena takut dihukum atau ingin dipuji orang lain, melainkan karena mereka patuh pada prinsip etika universal yang ada di dalam hati mereka sendiri.

Seseorang yang memegang teguh siri’ akan menolak keras untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya, meski tidak ada satu pun orang atau kamera yang mengawasinya. Dia merasa terhina di hadapan dirinya sendiri jika berbuat curang. Inilah mengapa kita harus melakukan rebranding terhadap konsep siri’.   Siri’ memberi panduan bahwa kita jangan pernah merasa malu karena hidup sederhana atau mengendarai motor tua, tetapi malulah ketika kita meraih pencapaian dengan cara menipu dan mengkhianati kepercayaan.

Kesederhanaan, hidup bersahaja dengan integritas tidak akan mengurangi wibawa dan harga diri seseorang, tengoklah Ir. Sutami seorang pejabat yang mempertahankan harga diri (siri’) dan martabat melalui integritas serta kesederhanaan hidup. Beliau adalah Menteri Pekerjaan Umum (PU) dengan masa jabatan terpanjang di Indonesia (1965–1978), dari era Bung Karno hingga Pak Harto. Di bawah tangannya, proyek-proyek raksasa seperti Gedung DPR/MPR, Jembatan Semanggi, Waduk Jatiluhur, dan Bandara Ngurah Rai berhasil dibangun. Meskipun memegang anggaran proyek negara yang sangat besar, Sutami memilih menjaga kehormatan dirinya. Sutami adalah teladan nyata bahwa siri’ atau harga diri seorang pejabat tidak dinilai dari kemewahan yang dipamerkan, melainkan dari bersihnya nama baik dan besarnya karya yang ditinggalkan untuk rakyat.

Tokoh lain yang sejalan dengan prinsip ini adalah Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Jusuf. Beliau adalah salah satu tokoh militer legendaris Indonesia asal Bugis-Makassar yang sangat dihormati karena memegang teguh nilai siri’ melalui kejujuran, kesederhanaan, dan kecintaan yang luar biasa kepada prajuritnya. Meskipun menjabat sebagai  Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata (Menhankam/Pangab) yang menguasai anggaran militer sangat besar, kehidupan pribadinya sangat bersahaja. Saat melakukan kunjungan ke luar negeri, beliau pernah dihadiahi jam tangan mewah bermerek Rolex oleh pejabat asing.

M. Jusuf langsung menolaknya secara halus demi menjaga harga diri dan independensinya sebagai pejabat negara. Bagi Jenderal M. Jusuf,siri’ seorang panglima terpelihara jika ia mampu memanusiakan anak buahnya. Beliau dikenal sering melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke barak-barak prajurit untuk mengecek kualitas makanan, seragam, dan perumahan mereka. Beliau memotong anggaran yang tidak efisien di tingkat atas demi memperbaiki gizi, asrama, serta memberikan seragam dan sepatu berkualitas baik bagi prajurit rendahan. Bagi beliau, membiarkan prajuritnya hidup telantar sementara pemimpinnya bermewah-mewah adalah sebuah aib besar (kehilangan siri’). Jenderal M. Jusuf adalah contoh konkret bahwa dalam budaya Bugis-Makassar, siri’ seorang pemimpin militer diwujudkan dengan menjaga amanah, melindungi yang lemah (prajurit bawah), dan menolak tunduk pada godaan harta.

Ketika dunia hari ini mendikte bahwa nilai diri diukur dari apa yang melekat di badan, kisah Ir. Sutami dan Jenderal M. Jusuf adalah tamparan keras sekaligus kompas moral bagi kita. Rebranding Siri’ na Pacce harusnya menjadi “alarm internal” yang menolak tunduk pada komodifikasi kapitalisme.

Saatnya kita berani mendefinisikan ulang arti sukses,  bahwa kesederhanaan materi bukanlah sebuah aib, melainkan kemiskinan integritaslah yang merupakan kehancuran martabat kemanusiaan yang paling hakiki. Sudah saatnya kita berhenti mengejar validasi digital dan mulai merawat kesucian jiwa. Pada akhirnya, bukan logo di ponsel kita yang menentukan kelas sosial sejati, melainkan warisan kebaikan dan kebersihan nama yang kita tinggalkan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply