Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

MPBI Unismuh Gandeng Universitas Filipina Perkuat Kompetensi AI dan Riset Guru

×

MPBI Unismuh Gandeng Universitas Filipina Perkuat Kompetensi AI dan Riset Guru

Share this article
Prodi MPBI Unismuh Makassar dan University of Luzon menggelar PKM internasional latih guru memanfaatkan AI dalam pembelajaran secara bijak.

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggandeng University of Luzon, Filipina, untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) internasional ini berlangsung di SMP Unismuh Makassar, Kamis, 29 Oktober 2026, melalui pemaparan materi, diskusi, dan praktik penggunaan AI.

Program bertajuk Empowering the Teachers through AI-Integrated Pedagogical Innovation tersebut melibatkan akademisi kedua negara serta guru dari berbagai mata pelajaran. Kegiatan ini bertujuan membantu guru mengembangkan pembelajaran yang lebih inovatif, sekaligus memperkuat kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Filipina.

Ketua Program Studi MPBI Unismuh, Dr. Radiah Hamid, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan bagi guru bahasa Inggris, tetapi juga seluruh guru yang ingin mengembangkan kompetensi digital. Menurut dia, pemanfaatan AI perlu disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan kebutuhan peserta didik.

“Mudah-mudahan nanti ini artinya buat semua guru, bukan cuma guru bahasa Inggris, tapi bagaimana kita nanti akan mempraktikkan,” ujar Radiah dalam sambutannya.

Radiah menjelaskan bahwa pengabdian internasional tersebut menghadirkan dua narasumber dengan fokus pembahasan berbeda. Dr. Carmelita S. Quinto dari University of Luzon membahas penguatan kapasitas akademik dan kerja sama internasional, sedangkan Dr. St. Asriati AM, S.Pd., M.Hum., dari MPBI Unismuh memandu pelatihan integrasi AI dalam pembelajaran.

Guru Tetap Menjadi Penentu dalam Penggunaan AI

Dalam pemaparannya, Asriati menegaskan bahwa penggunaan AI harus berangkat dari kebutuhan pedagogis, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Ia memperkenalkan prinsip pedagogy first, technology second, yakni menempatkan tujuan dan metode pembelajaran sebagai pertimbangan utama sebelum memilih teknologi.

“Jadi, jangan memiliki teknologi terlebih dahulu. Temukan dulu apa yang harus dipelajari. Jadi, pedagoginya kita pahami dulu,” kata Asriati.

Menurut Asriati, teknologi AI dapat membantu guru menyusun materi, merancang aktivitas pembelajaran, serta mengembangkan instrumen penilaian. Namun, seluruh hasil yang dihasilkan AI tetap memerlukan pemeriksaan dan penyesuaian oleh guru.

Baca Juga: Unismuh Makassar Gandeng Universitas Filipina Tingkatkan Mutu Kurikulum Administrasi Publik

“Kita tidak bisa menjadikan AI adalah yang paling benar. Tetap kita harus memberikan penilaian, pengawasan benar tidaknya,” ujarnya.

Asriati juga mengingatkan pentingnya keamanan dan etika penggunaan AI di lingkungan sekolah. Ia menguraikan enam aspek yang perlu diperhatikan, yakni privasi, akurasi, keadilan, integritas akademik, pengawasan guru, serta kesesuaian penggunaan teknologi dengan usia peserta didik.

Dalam kaitan dengan perlindungan data, ia meminta guru tidak memasukkan identitas pribadi siswa ke dalam aplikasi AI. Guru juga perlu memastikan materi yang dihasilkan teknologi tersebut sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan pemahaman siswa.

Dari Tes Awal hingga Praktik Menyusun Materi Pembelajaran

Pelatihan diawali dengan tes awal menggunakan kode QR untuk mengetahui tingkat pemahaman dan pengalaman peserta dalam memanfaatkan AI. Asriati menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan survei sederhana dan tidak digunakan untuk memberikan penilaian terhadap kemampuan guru.

“Jadi, kita mau melihat bagaimana pendapatnya tentang AI, bagaimana penggunaan AI sejauh ini. Jadi, jangan khawatir, pre-test ini tidak memberi Anda skor,” jelas Asriati.

Setelah pemetaan awal, peserta diperkenalkan pada teknik menyusun instruksi atau prompt yang efektif untuk memperoleh keluaran AI sesuai kebutuhan pembelajaran. Asriati menunjukkan perbedaan antara instruksi yang terlalu umum dengan instruksi yang mencantumkan konteks, tujuan, jenjang kelas, alokasi waktu, serta bentuk kegiatan.

Salah satu contoh yang disampaikan ialah penyusunan rancangan pembelajaran kelas VII tentang ekosistem selama 80 menit. Melalui instruksi terperinci, AI diminta membantu menyusun tujuan pembelajaran, kegiatan diskusi kelompok, contoh rantai makanan, lembar kerja peserta didik, lima soal evaluasi, kunci jawaban, dan rubrik penilaian.

“Yang jelas itu semakin panjang itu instruksinya semakin detail, dia semakin lengkap. Kapan dia terlalu singkat, itu biasanya ngawur,” kata Asriati saat menjelaskan pentingnya ketepatan instruksi.

Para guru kemudian diajak mencoba menyusun instruksi sesuai bidang studi masing-masing, termasuk matematika, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial. Praktik ini diharapkan membantu peserta memahami cara memanfaatkan AI secara lebih terarah tanpa mengabaikan pertimbangan profesional guru.

Akademisi Filipina Ingatkan Risiko Ketergantungan pada AI

Sementara itu, Carmelita S. Quinto mengangkat persoalan ketergantungan peserta didik terhadap teknologi kecerdasan buatan. Sebagai pengajar komunikasi di University of Luzon, ia menyampaikan kekhawatirannya terhadap kecenderungan sebagian mahasiswa menggunakan AI tanpa terlebih dahulu mengembangkan keterampilan berpikir dan menulis secara mandiri.

Quinto mengungkapkan bahwa dirinya berhati-hati dalam menerapkan AI untuk pembelajaran komunikasi dan bahasa Inggris. Ia melihat sejumlah mahasiswa mulai mengandalkan teknologi untuk menyusun kalimat dan paragraf, sehingga kesempatan melatih kemampuan berbahasa secara langsung menjadi berkurang.

“Saya ingin para pelajar saya bebas dari menggunakan AI karena, seperti yang saya perhatikan, beberapa pelajar sekarang menggunakan AI. Mereka lebih bergantung pada AI,” ujar Quinto, sebagaimana tercatat dalam transkrip terjemahan pemaparannya.

Menurut Quinto, pendidikan perlu tetap memberikan ruang bagi peserta didik untuk membangun kemampuan berkomunikasi secara lisan maupun tertulis. Penggunaan teknologi, dengan demikian, perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kemandirian belajar dan perkembangan kemampuan berpikir siswa.

Pandangan Quinto melengkapi materi Asriati yang menempatkan guru sebagai pengambil keputusan utama dalam pembelajaran berbantuan AI. Keduanya menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan kemampuan dasar peserta didik.

Buka Peluang Riset Bersama dan Pertukaran Akademik

Selain membahas AI, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperluas kerja sama akademik antara Unismuh Makassar dan University of Luzon. Quinto menjelaskan bahwa kunjungan delegasi Filipina ke Makassar diarahkan untuk mengembangkan kolaborasi penelitian, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta kegiatan ilmiah bersama.

“Tujuan utama kami adalah untuk berkolaborasi dengan universitas dalam hal penelitian, mobilitas pelajar, mobilitas guru, dan dalam hal simposium yang bisa kami lakukan bersama universitas,” kata Quinto.

Salah satu gagasan yang dikemukakan adalah penelitian komparatif mengenai persamaan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa yang digunakan masyarakat Filipina. Quinto mencontohkan kata “bulan” dan “gunting” yang mempunyai kemiripan bentuk dan makna dalam kedua lingkungan bahasa tersebut.

Menurut Quinto, kemiripan bahasa itu membuka peluang penelitian bersama yang melibatkan akademisi dari kedua perguruan tinggi. Penelitian tersebut diharapkan dapat menelusuri hubungan kebahasaan dan menghasilkan publikasi kolaboratif dalam bentuk buku.

Quinto juga menawarkan pengembangan program mobilitas akademik, khususnya bagi mahasiswa dan dosen pada bidang psikologi. Ia mengusulkan kunjungan akademik selama tujuh hingga sepuluh hari untuk kegiatan observasi, pengenalan laboratorium, serta kemungkinan mengikuti program magang.

“Harapannya akan ada pertukaran mahasiswa dan dosen sehingga mahasiswa kami dapat berkunjung ke sini, mungkin selama tujuh atau sepuluh hari untuk mengikuti kegiatan pendalaman atau magang,” ujar Quinto.

Ia menambahkan bahwa pertukaran dosen dapat menjadi kesempatan bagi kedua perguruan tinggi untuk berbagi keahlian melalui kuliah tamu dan kegiatan akademik lainnya. Meski demikian, sejumlah usulan tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut sebelum diwujudkan menjadi program bersama.

Perkuat Kemitraan Pendidikan Indonesia-Filipina

Kegiatan pengabdian internasional ini juga melibatkan tim dosen MPBI Unismuh, antara lain Dr. Nur Qalbi, S.S., M.Hum., dan Dr. Ratna Dewi, S.S., M.Hum. Sejumlah mahasiswa pascasarjana turut membantu penyelenggaraan kegiatan sebagai bagian dari keterlibatan akademik dalam program pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sambutan penerimaan, perwakilan SMP Unismuh Makassar menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program tersebut. Kehadiran akademisi dari kedua negara diharapkan memberikan pengalaman baru bagi guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi.

Radiah turut menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan. Ia menjelaskan bahwa program tersebut melibatkan dukungan unit kerja sama internasional dan lembaga pengabdian masyarakat Unismuh, dengan MPBI sebagai pelaksana kegiatan.

Melalui kolaborasi ini, MPBI Unismuh berupaya menghubungkan pengembangan kompetensi guru dengan perluasan jejaring akademik internasional. Praktik penggunaan AI yang bertanggung jawab, penelitian bersama, dan pertukaran akademik diharapkan dapat menjadi agenda berkelanjutan dalam kerja sama pendidikan Indonesia dan Filipina.

kontributor: Qotadah/Muammar

Editor: Hadisaputra

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply