Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

PoltekMu Makassar Siapkan Kurikulum OBE, Pastikan Kompetensi Lulusan Sesuai Kebutuhan Dunia Kerja

×

PoltekMu Makassar Siapkan Kurikulum OBE, Pastikan Kompetensi Lulusan Sesuai Kebutuhan Dunia Kerja

Share this article

KHITTAH.CO, Makassar — PoltekMu menggelar Lokakarya Kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE)
sebagai bagian dari upaya memperkuat kurikulum yang berorientasi pada capaian lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Politeknik Muhammadiyah Makassar menggelar agenda itu di Aula PoltekMu Makassar, Kamis, 20 Agustus 2026.

Direktur PoltekMu Makassar, Mustari Bosra, mengatakan, lokakarya diarahkan untuk menyusun peta jalan pengembangan kurikulum yang akan menjadi pedoman mulai tahun ajaran baru yang sudah di depan mata hingga beberapa tahun ke depan.

Menurut dia, kurikulum tidak boleh berhenti sebagai dokumen yang disusun hanya untuk kepentingan akreditasi. Kurikulum harus menjadi roadmap untuk memastikan lulusan PoltekMu memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja.

“Kalau memang kurikulum yang kita rumuskan hari ini hanya bertahan dua atau tiga tahun, kita perbaiki kembali, karena merupakan konsekuensi perkembangan kehidupan masyarakat dan penemuan teknologi,” ujar Mustari.

Ia menegaskan, PoltekMu memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan alumni yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan secara teoretis, tetapi juga keterampilan dan kedisiplinan. Bahkan, sebagai bagian dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA), pendidikan tersebut juga harus dibarengi denganpembentukan karakter.
.
“Karena kita ini PTMA, kita bertanggung jawab melahirkan alumni yang berakhlak karimah, bermoral, dan memiliki pertanggungjawaban yang tinggi di dunia dan akhirat,” kata direktur.

Mustari juga berharap lokakarya tersebut menghasilkan masukan konkret dari para pengguna lulusan, pemangku kepentingan (stakeholders), serta pelaku industri. Masukan tersebut diperlukan untuk mengetahui kekurangan alumni selama berada di dunia kerja sekaligus memetakan kompetensi yang akan dibutuhkan pada masa mendatang.

“Kami mau mendengar apa kekurangan dari alumni kita selama mengabdi di tempat Bapak/Ibu, di dunia kerja dan industri. Apa yang dibutuhkan selama ini dan bagaimana kecenderungannya di masa depan, seiring dengan perkembangan teknologi,” tutur dia.

Ia menilai hal tersebut semakin penting di tengah tantangan ketenagakerjaan. Perguruan tinggi vokasi, kata dia, harus memastikan lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja sehingga tidak menambah panjang angka pengangguran akibat ketidaksesuaian kompetensi.

Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) PoltekMu, Arifuddin Ahmad, mengamanahkan agar seluruh civitas akademika membangun budaya “berpikir wakaf dan wakaf berpikir”.

Menurut dia, wakaf identik dengan amal jariyah dalam Islam yang manfaatnya dapat melampaui usia orang yang mewakafkan. Demikian pula sebuah pemikiran dan karya yang baik, manfaatnya dapat terus dirasakan meskipun orang yang menggagasnya telah tidak lagi berada dalam posisi tersebut.

“Dalam konteks lokakarya kurikulum hari ini, walaupun nanti kita sudah bukan ketua prodi misalnya, hasil hari ini tetap berdampak sampai ke depan. Substansinya berpikir wakaf. Apa yang dilakukan hari ini semoga menjadi wakaf,” kata Arifuddin.

Arifuddin yang juga Asessor BAN-PT itu menekankan bahwa penyusunan kurikulum tidak boleh dimaknai sebatas pemenuhan dokumen akreditasi, pembagian SKS, atau penentuan mata kuliah. Lebih dari itu, penyusunan kurikulum harus dimulai dari pertanyaan mendasar tentang manusia seperti apa yang ingin dihasilkan dan manfaat apa yang hendak diberikan kepada masyarakat di masa depan.

Arifuddin Ahmad, menjelaskan bahwa pendekatan OBE menempatkan capaian yang jelas dan terukur sebagai orientasi utama dalam pengembangan kurikulum. Capaian tersebut kemudian diselaraskan dengan proses pembelajaran, asesmen, dan evaluasi.

Menurut dia, pengembangan OBE di PoltekMu perlu memperkuat keterpaduan antara profil lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), proses pembelajaran, asesmen, hingga evaluasi.

Karena itu, penyusunan kurikulum harus dimulai dari dampak yang ingin dihasilkan, bukan semata-mata dari daftar mata kuliah.

“Jadi sebelum menentukan mata kuliah, kita harus mengetahui siapa lulusan kita, apa yang harus mampu dilakukan, apa yang diperlukan, pemahaman belajar apa yang harus diberikan, dan bagaimana kita membuktikan bahwa kompetensi itu tercapai,” tegas Ketua BPH.

Arifuddin menambahkan, lokakarya tersebut menjadi momentum bagi PoltekMu untuk menyiapkan bekal yang bukan hanya produktif bagi lulusan saat ini, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang.

“Pemikirannya harus mulai dari apa dampaknya,” ujar dia. Melalui lokakarya ini, PoltekMu berharap kurikulum tujuh program studi yang dikembangkan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus tetap relevan terhadap perubahan masyarakat dan perkembangan teknologi.

Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga memiliki kompetensi, karakter, dan kontribusi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply