Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Sharing Session di Filipina, Dosen Unismuh Kenalkan Konsep Tabayyun dalam Penggunaan Generative AI

×

Sharing Session di Filipina, Dosen Unismuh Kenalkan Konsep Tabayyun dalam Penggunaan Generative AI

Share this article

KHITTAH.CO, DAVAO, FILIPINA — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar memperkuat jejaring akademik internasional melalui International Learning Session di Ateneo de Davao University, Filipina, Selasa, 8 September 2026.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Responsible Generative AI Use in Islamic Education through AI Literacy, Human Agency, and Ethical Judgment.”

Sesi menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai pemanfaatan Generative Artificial Intelligence (GenAI) secara kritis, etis, dan bertanggung jawab, khususnya dalam konteks pendidikan Islam.

Materi disampaikan Rosmalina Kemala, S.Kom., M.Pd., dari Unismuh Makassar.

Dalam pemaparannya, Rosmalina menekankan bahwa penggunaan kecerdasan buatan dalam pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan teknis menggunakan berbagai platform AI.

Perkembangan aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Copilot memang memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk mencari informasi, mengembangkan ide, menerjemahkan teks, membuat ringkasan, menyiapkan presentasi, hingga memahami materi pembelajaran.

Namun, kemudahan itu juga membawa sejumlah risiko, antara lain hallucination, referensi palsu, bias, pelanggaran privasi, ketergantungan terhadap AI, hingga persoalan integritas akademik.

“Persoalan utama saat ini bukan lagi apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah mahasiswa mampu mengevaluasi, memverifikasi, dan tetap bertanggung jawab terhadap hasil akhir ketika menggunakan AI,” ujar Rosmalina.

Tiga Kemampuan Dasar

Dalam sesi tersebut, Rosmalina memperkenalkan tiga kemampuan dasar yang perlu dimiliki mahasiswa dalam menggunakan Generative AI, yakni AI Literacy, Human Agency, dan Ethical Judgment.

AI Literacy menekankan kemampuan memahami kapasitas dan keterbatasan AI, menggunakan teknologi tersebut secara tepat, mengevaluasi hasil, serta memverifikasi informasi, kutipan, referensi, sumber, tanggal, dan konteks.

Sementara Human Agency menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama. Mahasiswa perlu memiliki tujuan pembelajaran yang jelas sebelum menggunakan AI, mempertanyakan rekomendasi yang diberikan, serta mampu menerima, memodifikasi, atau menolak hasil AI.

Adapun Ethical Judgment berkaitan dengan kejujuran, transparansi, privasi, keadilan, atribusi, integritas akademik, dan akuntabilitas.

Melalui tiga kemampuan tersebut, AI ditempatkan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir dan tanggung jawab manusia.

Tabayyun dalam Literasi AI

Salah satu bagian penting dalam sesi tersebut ialah integrasi nilai-nilai Islam dalam penggunaan Generative AI.

Rosmalina mengangkat prinsip tabayyun dalam QS Al-Hujurat ayat 6 sebagai landasan membangun kebiasaan memverifikasi informasi.

Dalam praktik penggunaan AI, prinsip tabayyun diterjemahkan melalui tahapan check, trace, verify, compare, critique and revise, serta human decision.

Mahasiswa didorong untuk tidak langsung menerima informasi yang dihasilkan AI. Mereka perlu mengidentifikasi klaim yang harus diperiksa, menelusuri sumber asli, memastikan keakuratan informasi, membandingkan sumber terpercaya, mengkritisi kelemahan hasil AI, lalu mengambil keputusan secara mandiri.

Pendekatan tersebut dinilai penting dalam pendidikan Islam karena Generative AI dapat menghasilkan informasi mengenai Al-Qur’an, hadis, tafsir, pendapat ulama, maupun sumber keislaman lainnya yang tetap memerlukan verifikasi sebelum digunakan atau disebarluaskan.

Perkuat Kolaborasi Indonesia-Filipina

Selain membahas literasi AI, kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan hubungan akademik antara Unismuh Makassar dan Ateneo de Davao University.

Kolaborasi diarahkan tidak hanya pada pembelajaran, tetapi juga pengembangan penelitian bersama, instrumen riset, workshop, publikasi ilmiah, pertukaran pengalaman akademik, serta berbagai agenda kolaboratif lainnya.

Rosmalina menegaskan bahwa pemanfaatan AI tetap harus menempatkan manusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keputusan akhir.

“AI may assist human thinking, but it should never replace human responsibility,” ujarnya.

Melalui pendekatan AI Literacy, Human Agency, dan Ethical Judgment, serta nilai Islam seperti tabayyun, amanah, sidq, mas’uliyyah, dan maslahah, Generative AI diharapkan dapat mendukung kualitas pembelajaran tanpa menghilangkan daya kritis, tanggung jawab, dan nilai-nilai kemanusiaan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UNIMEN

Leave a Reply