Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Salat dan Zakat Membangun Ketangguhan Pribadi dan Sosial

×

Salat dan Zakat Membangun Ketangguhan Pribadi dan Sosial

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030)

KHITTAH. CO – Sebaik-baik kehidupan yang dijalani adalah kehidupan yang senantiasa mencapai kemajuan, meskipun hanya selangkah, setingkat, dan/atau sangat sederhana. Ada banyak orang yang menghabiskan waktunya mengikuti berbagai pelatihan praktis demi mencapai kehidupan yang lebih baik, atau satu jenis kesuksesan yang diharapkan. Logika dunia modern dan kehidupan yang serba rasional, tentu saja ini menjadi upaya yang sangat strategis, bahkan ini dan beberapa sejenisnya yang bersifat duniawi, berbentuk pengembangan skill, dan pengetahuan operasional, mekanistik, taktis, dan prosedural dipandang satu-satunya cara untuk mencapai berbagai bentuk kesuksesan. Inilah cara mencapai ketangguhan personal.

Ketangguhan sosial pun dibentuk kurang lebih seperti cara di atas, bedanya hanya pada seberapa banyak individu-individu yang menyadari pentingnya pengembangan skill dan pengetahuan serba praktis, taktis, mekanistik, dan prosedural. Kemudian, mereka secara bersama-sama membangun kolaborasi untuk merintis dan membangun satu visi dalam usaha yang sedang digerakkannya.

Benar saja bahwa hal di atas akan mampu membangun ketangguhan pribadi dan sosial. Hanya saja jika dicermati, kedua ketangguhan yang dimilikinya—jika menyentuh dimensi psikologis—itu masih berada dalam wilayah permukaan. Belum mencapai titik terdalam. Kalau berbicara dimensi kecerdasan, bisa disimpulkan bahwa ini masih berada dalam wilayah kecerdasan intelektual. Alih-alih untuk kecerdasan spiritual yang pengaruhnya lebih dahsyat, kecerdasan emosional pun masih jauh.

Sepertinya, kita terkadang lupa bahwa agama, itu bukan cuma berbicara surga-neraka sebagai ujung dari perjalanan kita setelah melewati beberapa alam. Kita terkadang jauh dari ingatan dan kesadaran bahwa sejatinya agama pun itu menyentuh dimensi duniawi dan modal membangun kesuksesan-kesuksesan di dunia. Mengapa? Nilai dan makna dari setiap ajaran dan perintah yang termaktub dalam agama sebagai petunjuk-petunjuk langsung dari Allah Swt, itu mengalami mekanisme psikologis-spiritualitas dan memang semua itu kompatibel dengan potensi yang built-in dalam diri setiap manusia sebagai satu paket penciptaan.

Sebagai bentuk ayat-ayat qauliyah dan kauniyah, bisa disimpulkan bahwa tidak bertentangan. semua terintegrasi, saling menguatkan, dan bersifat fungsional demi kesuksesan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, sekali lagi, mungkin kita jarang menyadari, sehingga sangat tampak bahwa petuah-petuah mubalig pun sangat sedikit yang mengingat hal tersebut.

Saya ingin mengatakan, meskipun mungkin terlalu jauh belantara narasi dan diksi yang harus dilewati untuk sampai pada titik ini. Meskipun demikian, belantara ini tetap penting untuk menyentak, menggugat, dan menginterupsi agar kita bisa kembali ke jalan yang mungkin dipandang tidak modern, tetapi sesungguhnya akan selalu dahsyat di sepanjang zaman yang akan dilewati manusia.

Salat dan zakat sebagai bagian dari rukun Islam dan ini pun disebutkan secara bergandengan, beriringan, dan bersamaan tidak kurang dari dua puluh kali dalam Al-Quran, itu bukan cuma bagaimana kelak kita bisa masuk surga. Di antara sekian banyak ayat tersebut dua di antaranya disebutkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: ayat 43 QS An-Nisa [4]: ayat 77.

Beberapa ayat tersebut, kita bisa merasakan bahwa Allah sesungguhnya senantiasa mengingatkan bahwa hidup atau menjalani kehidupan ini harus ada keseimbangan antara melaksanakan ibadah vertikal dan ibadah horizontal. Apalagi kedudukan zakat juga ditegaskan sebagai ibadah yang berkarakter muamalah.

Bukan hanya itu, jika kita menyadari mekanisme habits yang bermuara pada pembentukan karakter plus nasib, kemudian dalam konteks tulisan ini diharapkan terbangun dan/atau terbentuk ketangguhan pribadi dan sosial, di mana keduanya ini bisa dimaknai sebagai modal menjalani kehidupan dan pada sisi lain bisa pula dimaknai sebagai capaian, maka salat dan zakat itulah sebagai ruang atau pun sebagai instrument untuk mewujudkannya.

Kita harus selalu mengingat bahwa sejatinya Islam pun harus dimaknai sebagai agama fungsional. Agama yang bisa menjadi jalan untuk melahirkan perubahan-perubahan dalam kehidupan. Nilai dan ajaran agama bisa menjadi modal, instrument untuk mewujudkan berbagai harapan dalam kehidupan. Apalagi, jika merujuk pada pandangan Ahmad Norma Permata (2020), agama itu memang mengandung mekanisme institusionalisasi—jalan untuk membangun kehidupan.

Saya sepakat dengan pandangan bahwa salat itu adalah character building, cara untuk membangun karakter. Tentu saja, karakter yang akan terbentuk dengan salat yang kita laksanakan bisa disimpulkan sebagai karakter positif, produktif, dan konstruktif. Atau benar dan sekali lagi saya sepakat, bahwa salat itu adalah instrument untuk membangun ketangguhan pribadi atau personal.

Salat yang dipandang sebagai character building dan sebagai instrument membangun ketangguhan pribadi atau personal, tentu saja tidak hanya dilihat dari kacamatan iman atau keimanan. Bukan pula hanya dilihat dan ditemukan dari mekanisme teologis, yang tampaknya dua efek salat ini sebagai hidayat, rahmat, dan keajaiban yang diberikan kepada seseorang.

Kedua efek, dampak positif, dan/atau hasil dari salat di atas, kita pun bisa memahami, menyadari, dan merasakannya dari perspektif psikologis. Pertama dari mekanisme habits. Kita harus mengetahui bahwa Allah telah menciptakan satu hukum dan prinsip di alam semesta ini dan itu pun bisa berlaku dalam diri manusia, tentang sesuatu yang sering dibiasakan atau diulang-ulang itu akan meninggalkan bekas, jejak, dan/atau dampak. Inilah hasil dari mekanisme habits dan setelah itu dipastikan—cepat atau lambat—akan membentuk karakter.

Dalam hal salat mekanisme habits ini yang akan berujung pada pembentukan karakter bukan hanya membaca dan memprosesnya secara algoritmik hal-hal bersifat gerakan (baca: gerakan salat), tetapi juga membaca dan memproses hal-hal lainnya, berupa bacaan, suara hati, dan segala sesuatu yang terjadi dalam setiap salat yang dilakukan.

Contoh sederhana yang mudah dipahami sebagai hasil dari mekanisme habits atas salat yang dilakukan di antaranya: Takbir yang kita lakukan, terutama melalui bacaan yang bermakna Allah Maha Besar, karena ini diulang-ulang atau sudah berkali-kali kita lakukan, sejatinya ini membentuk satu karakter dalam diri untuk merasakan bahwa di dunia hanya Allah yang Maha Besar dan berbagai derivasi makna lainnya, seperti tidak ada kekuatan yang lebih besar kecuali kekuatan dari Allah Swt. Dari takbir ini akan membentuk karakter lain bagi kita yang melaksanakan salat, untuk tidak minder, merendahkan diri, atau takut dari berbagai ancaman.

Contoh lain, dalam salat wajib sehari-semalam, kita akan membaca al-Fatihah sebanyak 17 kali. Di antara al-Fatihah kita akan membaca “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in(u)” (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Sejatinya salat kita sebagai character building dan berdasarkan mekanisme habits, kita yang sudah sering melaksanakannya harus terbentuk karakter, di mana kita tidak akan pernah menyembah sesuatu selain Allah, apalagi meminta pertolongan dan kekuatan yang tidak diridai Allah, meskipun hal tersebut oleh orang lain pernah melakukan dan terbukti hasilnya nyata. Seperti biasanya dalam bisnis atau berdagang, masih banyak umat Islam demi melariskan dagangannya dirinya bersekutu dengan kekuatan gaib lain dan melakukan berbagai ritual yang tidak diridai Allah. Hal ini pun akan membentuk karakter, itu selalu merasakan kehadiran dan pertolongan Allah Sang Maha Kuasa, yang merajai langit dan bumi.

Sama seperti salat, zakat pun dampaknya bukan hanya dilihat dari perspektif iman atau berada dalam wilayah teologis. Artinya bahwa jika kita berzakat sudah pasti Allah akan mencatat satu kebaikan kita dan akan diberi pahala. Ternyata, sama seperti salat, zakat pun bisa dibaca dan ditemukan dalam dimensi psikologis dan dalam wilayah mekanisme habits dan sosial.

Zakat dalam perspektif mekanisme habits, diyakini zakat pun bisa menjadi strategic collaboration. Bahkan strategic collaboration (kolaborasi strategis) ini, bukan hanya dibaca dalam kacamata sosial, tetapi secara psikologis pun bisa terbaca sehingga kolaborasi yang akan tercipta akan semakin kokoh karena berbasis pada sesuatu yang lahir dalam diri, bukan sesuatu yang digerakkan dari luar diri yang berdimensi sosial, apalagi politik.

Zakat sesungguhnya dipastikan membangun ketangguhan sosial, sebagai segala sesuatu yang akan menjadi modal sosial nilai dan maknanya akan ditemukan dari penunaian zakat. Apalagi ini pun berpotensi menjadi karakter. Sehingga dengan berzakat potensi karakter kepekaan, empati/kepedulian, kasih-sayang, memberi, tidak individualis, mementingkan kehidupan bersama/kolektif, kebersamaan, mementingkan orang lain, semangat menolong, dan senantiasa menjaga kebersihan harta dan kesucian jiwa bukan hanya dalam makna sempit tetapi termasuk dalam makna cara meraihnya, itu semua akan terbentuk.

 

 

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply