Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Opini

Bulan Bahasa dan Sastra untuk Membentuk Pemuda Patriotik, Gigih, dan Berempati

×

Bulan Bahasa dan Sastra untuk Membentuk Pemuda Patriotik, Gigih, dan Berempati

Share this article

Oleh: Maria Ulviani (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar dan Anggota LBSO ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan)

KHITTAH.CO — Oktober bukan sekadar bulan yang dipenuhi lomba puisi, pidato, dan menulis cerpen. Bulan Bahasa dan Sastra yang beriringan dengan peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober seharusnya menjadi kesempatan mengevaluasi cara kita mendidik generasi muda. Apakah kegiatan literasi sudah membantu mereka berpikir jernih, menghargai perbedaan, dan peka terhadap persoalan masyarakat? Ataukah semangat itu berhenti ketika panggung perlombaan dibongkar?

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026, pesan “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” patut diterjemahkan menjadi praktik pendidikan yang nyata. Di tengah derasnya informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan, bangsa ini membutuhkan pemuda yang bukan hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga bertanggung jawab atas pikiran, perkataan, dan tindakannya.

Bahasa sebagai Wujud Patriotisme

Sumpah Pemuda 1928 mengajarkan bahwa persatuan tidak menuntut keseragaman. Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan untuk menjembatani keragaman suku dan budaya. Karena itu, mencintai bahasa Indonesia tidak berarti mengabaikan bahasa daerah atau menolak bahasa asing. Ketiganya memiliki peran: mempererat kebangsaan, merawat identitas lokal, dan membuka cakrawala pengetahuan dunia.

Namun, patriotisme berbahasa menghadapi ujian baru. Di media sosial, kata-kata sering dipakai untuk menyebarkan prasangka, mempermalukan orang lain, atau mempertajam perpecahan. Kemampuan menyusun kalimat yang baik menjadi kurang bermakna jika tidak disertai etika komunikasi. Pendidikan bahasa harus membiasakan peserta didik menyampaikan kritik berdasarkan fakta, mendengarkan pandangan yang berbeda, dan menghindari penghinaan, termasuk dalam ruang digital.

Misalnya, alih-alih hanya meminta peserta didik menghafal isi Sumpah Pemuda, guru dapat mengajak mereka menguji contoh unggahan yang memicu konflik, memilah fakta dan opini, lalu menulis tanggapan yang tegas namun santun. Aktivitas sederhana ini menjadikan patriotisme dapat diamati: bukan dari kerasnya slogan yang diteriakkan, melainkan dari cara pemuda menjaga percakapan publik yang sehat. Pada titik inilah pelajaran bahasa bertemu langsung dengan pendidikan kewargaan dan pembentukan karakter.

Sastra dan Kegigihan Berpikir

Sebagai pengajar bahasa dan sastra yang menekuni kritik sastra, saya melihat karya sastra sebagai ruang latihan bernalar. Cerpen tentang ketimpangan sosial, puisi tentang kehilangan, atau novel tentang konflik keluarga mengajak pembaca menyelami masalah yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Dalam pembelajaran, mahasiswa dan siswa perlu diajak bertanya: mengapa tokoh mengambil keputusan tertentu, nilai siapa yang diutamakan, dan keadaan sosial apa yang melatarbelakanginya?

Di sinilah kritik sastra menjadi penting. Kritik bukan sekadar menyatakan karya itu bagus atau buruk, melainkan mengajukan tafsir yang didukung bukti dari teks dan konteksnya. Kebiasaan memeriksa bukti, membandingkan sudut pandang, dan mempertanggungjawabkan penilaian merupakan fondasi literasi kritis. Keterampilan ini dapat dibawa keluar kelas ketika pemuda berhadapan dengan berita, opini, dan informasi yang viral.

Kegigihan intelektual semakin diperlukan ketika kecerdasan buatan dapat menghasilkan jawaban dan tulisan dalam hitungan detik. AI dapat membantu mencari gagasan awal dan memahami materi, tetapi tidak boleh menggantikan proses membaca, menimbang argumen, dan merumuskan pandangan sendiri. Siswa yang langsung menerima hasil AI tanpa memeriksa sumber justru kehilangan kesempatan belajar. Karena itu, guru dan dosen perlu menilai proses berpikir, diskusi, revisi, serta kejujuran akademik, bukan hanya hasil tugas yang tampak rapi.

Empati yang Tumbuh dari Bacaan

Sastra juga memberi kesempatan untuk memandang kehidupan melalui pengalaman orang lain. Ketika membaca kisah tentang kemiskinan, diskriminasi, atau perjuangan keluarga, pembaca diajak memahami alasan di balik pilihan seorang tokoh sebelum menjatuhkan penilaian. Pengalaman membaca tidak otomatis menjadikan seseorang berempati, tetapi diskusi dan refleksi yang tepat dapat melatih kepekaan sosial.

Nilai itu harus tampak dalam praktik berbahasa: berani berbeda pendapat tanpa merendahkan, menyampaikan kritik tanpa mencederai martabat, serta menolak perundungan. Dengan demikian, bahasa menjadi jembatan dialog dan sastra menjadi ruang memahami keragaman pengalaman manusia.

Dari Perayaan Menuju Gerakan

Bulan Bahasa dan Sastra perlu melampaui agenda tahunan. Sekolah dan perguruan tinggi dapat mengadakan klub baca, lokakarya menulis, bedah karya, dan forum diskusi tentang persoalan nyata, mulai dari lingkungan hingga kehidupan digital. Karya peserta didik sebaiknya tidak hanya dipamerkan, tetapi juga dibaca, ditanggapi, dan dikembangkan melalui pendampingan berkelanjutan.

Keluarga, komunitas literasi, organisasi perempuan, dan masyarakat juga perlu dilibatkan. Sebagai anggota LBSO ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, saya memandang kolaborasi ini penting agar akses terhadap kegiatan literasi tidak terbatas pada mereka yang sudah memiliki fasilitas belajar memadai. Ukuran keberhasilannya bukan semata jumlah lomba atau piala, melainkan tumbuhnya kebiasaan membaca, keberanian bertanya, dan kepedulian terhadap sesama.

Menjelang Indonesia Emas 2045, kita memerlukan generasi yang mampu memadukan pengetahuan dan karakter. Patriotisme memberi arah pengabdian, kegigihan menjaga kemauan belajar, dan empati memastikan kemajuan tidak meninggalkan kemanusiaan. Itulah pekerjaan besar pendidikan bahasa dan sastra: bukan sekadar mengajarkan cara merangkai kata, melainkan menyiapkan pemuda yang sanggup merawat persatuan, berpikir kritis, dan bertindak dengan hati.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner ITKESMU SIDRAP

Leave a Reply