Scroll untuk baca artikel
Opini

Integritas Pemimpin: Petuah dan Keteladanan Pendahulu dalam Menghadirkan Kemakmuran

×

Integritas Pemimpin: Petuah dan Keteladanan Pendahulu dalam Menghadirkan Kemakmuran

Share this article

Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

KHITTAH. CO – Bila kita menelusuri prinsip dan perilaku hidup keseharian tokoh-tokoh masa lalu baik sebelum kemerdekaan maupun setelah merdeka, kita akan menemukan mutiara hidup yang luar biasa dan patut menjadi teladan dalam keseharian terlebih lagi dalam mengurus dan mengelola negara ini.  Pada zaman kerajaan kita bisa menemukan satu kisah yang menarik dari Datu Soppeng IX La Mannussak To Akkarangeng (Datu Soppeng IX), seorang penguasa yang sangat adil dan pantang mengambil apa pun yang bukan haknya.

Beliau menolak memanfaatkan fasilitas kerajaan atau upeti rakyat untuk memperkaya diri atau keluarganya. Beliau berpesan, Bilamana ada seorang raja yang dungu dan bodoh memimpin, ia masih bisa dimaafkan. Namun, jika ada seorang pemimpin yang tidak jujur dan mengkhianati amanah rakyatnya, maka hancurlah negeri itu.”. Pada zaman kemerdekaan, seorang tokoh militer yang sangat berpengaruh adalah Jenderal M. Jusuf (mantan Panglima ABRI dan Menhankam). Beliau terkenal dengan gaya hidupnya yang sangat bersahaja dan menolak segala bentuk kemewahan. Beliau lebih memilih turun ke lapangan untuk makan bersama prajurit pangkat rendah daripada menghadiri perjamuan mewah kaum elite. Beliau sangat ketat menjaga batas agar keluarganya tidak ikut campur dalam urusan dinas kenegaraan ataupun proyek-proyek militer untuk mencegah nepotisme.

Dalam bidang hukum dan penegakan keadilan bisa kita menyimak Nene’ Mallomo (Cendekiawan dan Hakim Agung Kerajaan Sidenreng) yang mengatakan “Ade’ temmakkeana’ temmakkeappo. Ayyaamaccangengngenarekkode’ nanarekkelalo matu alempureng, nappasuka’ bannasitta.”Artinya: “Hukum tidak mengenal anak, tidak mengenal cucu. Sungguh, kecerdasan itu jika tidak disertai dengan kejujuran murni, hanya akan melahirkan kelicikan.” Dan, era kemerdekaan kita kenal pendekar hukum yang tak pandang bulu, hidup bersahaja, hidup apa adanya dengan penuh kejujuran yaitu Prof. Dr. Baharuddin Lopa, SH (Mantan Jaksa Agung RI) pernah mengatakan Banyak yang salah jalan tetapi merasa tenang karena banyak teman yang sama-sama salah. Jujurlah, meskipun itu akan membuatmu berjalan sendirian.”

Momentum jelang peringatan kemerdekaan RI ke-81 yang mengambil tema Indonesia Berdaulat, Adi, dan Makmur. Sebuah tema yang menarik dan strategis karena menjadi benang merah antara harapan para pendahulu dengan visi Indonesia Emas 2045. Para peletak dasar negeri ini telah mencanangkan sebuah harapan hadirnya kemerdekaan sebagai Jembatan Emas kata bung Karno, jembatan menuju kesejahteraan semua anak negeri, namun kesejateraan tidak akan hadir tanpa keadilan dan penegakan hukum sementara keadilan tidak akan pernah hadir bila kita tidak bisa berdaulat mengatur negeri sendiri (berdikari)

Harapan dan impian para peletak dasar negeri ini, melalui momen HUT 81 RI dengan tema di atas bila melihat realitas kekinian sepertinya masih jauh panggang dari api. Namun,  kita ingin belajar dari para pendahulu dan tidak sekadar menjadikannya bahan ceramah, bahan pidato tanpa aksi.

Perlu disadari bahwa sebuah bangsa tidak akan pernah runtuh karena keterbatasan sumber daya alam, namun ia dipastikan hancur saat tiang kemanusiaan dan moralitasnya keropos dari dalam. Ketika Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-81 pada tahun 2026, refleksi kolektif kita tertuju pada satu kata kunci yang kian mendesak untuk dihidupkan, integritas, sebagaimana yang dicontohkan oleh para pendahulu seperti tergambar di awal tulisan ini. Tentu tidak sepenuhnya harus persis dalam karena kita berada di era yang berbeda dengan dinamika kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan yang berbeda, tetapi hikmah dari petuah dan perilaku hidup mereka akan terus relevan.

Apa yang digambarkan di awal tulisan ini merupakan komitmen dan praktik baik dari pendahulu menghadirkan integritas dalam dirinya untuk bangsa dan negara yang diambil dari salah satu dari sekian banyak  nilai-nilai moral membangun di nusantara ini, yaitu falsafah hidup manusia Bugis yang termaktub, Lontara’ yang dipraktikkan dalam kehidupan keseharian. Nilai utama filosofi manusia Bugis adalah Siri naPesse, yaitu harkat dan martabat kemanusiaan dan kepedulian pada sesama. Begitu pentingnya siri ini yang secara hafiah diartikan malu, sehingga orang tua sering mengatakan kodegaga siri tainreng-inrengki siri (kalau tidak punya rasa malu yang dimiliki,  pinjamlah rasa malu itu), dan kehilangan siri disamakan dengan kehilangan status kemanusiaan secara hakiki dan disebut rapang tau atau perwujudan semu manusia

Pertahanan harga diri dan martabat kemanusiaan dalam manusia Bugis dan etis masyarakat Sulawesi Selatan ini ditopang oleh empat pilar utama dari peradaban adat yaitu (1) Lempu (Kejujuran ekstrem), sebuah tuntutan kesatuan mutlak tanpa syarat antara apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dikerjakan. (2) Getteng (Keteguhan), suatu konsistensi bersikap yang membuat seseorang pantang goyah oleh iming-iming materi, jabatan, maupun tekanan situasi, (3) Warani (Keberanian moral) merupakan nyali untuk menyuarakan kebenaran dan menolak kecurangan di ruang publik meski berisiko tinggi secara pribadi. (4) Macca (Kecerdasan beretika), pandangan bahwa kecakapan intelektual tidak boleh berdiri sendiri; kecerdasan wajib dibimbing oleh kebijakan moral agar tidak berubah menjadi kelicikan.

Bila nilai utama siri dan pesse ditarik ke dalam ranah kekuasaan, akan lahir konsep toddopuli (satunya kata dengan perbuatan),  sebuah prinsip yang bermakna kesetiaan mutlak pemimpin pada janji dan aturan baku yang telah disepakati. Seorang pejabat yang telah mengikat janji apalagi diambil sumpah saat pelantikan makan apa yang menjadi janji dan sumpahnya harus direalisasikan dan bila membiarkan dirinya korup atau berkhianat secara otomatis telah meruntuhkan Siri’-nya, sehingga kehilangan legitimasi moral untuk memimpin rakyat.

Suatu peristiwa seorang wakil rakyat menyampaikan kepada raja setelah dilantik bahwa “Benarlah engkau sekarang ini diangkat menjadi raja, tetapi kalau dalam masa pemerintahanmu ternyata tanam-tanaman tidak menjadi, tuakpun tidak menetes dan ikan-ikan pantai pun tak dapat tertangkap, ya kasihanilah dirimu sendiri dan sayangilah lututmu sendiri”. Prof, Dr. Andi Zainal Abidin memaknai pernyataan wakil rakyat tersebut bahwa kalau raja ternyata kemudian tidak mampu memajukan kesejahteraan rakyatnya, maka tidak ada lagi orang yang mempercayainya dan tidak ada lagi orang yang menyukainya demikian pun turunannya akan terkutuk  semua.

Kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan utama kemerdekaan yang dalam konteks kerajaan di Sulsel pada zamannya, kepala pemerintahan atau saja saat itu, selalu berusaha menciptakan keamanan lahir batin, terjaminnya kesehatan rakyat dan terutama tercapainya kesejahteraan rakyat. (Andi Zainal Abidin). Kegagalan pemimpin memberi kesejahteraan  bukan hanya menjadikan rakyat menderita tetapi menjadi aib bagi sang pemimpin berserta anak cucunya.

Tantangan terberat bangsa ini di usia kemerdekaan yang ke-81 pada tahun 2026, dan upaya merealisasikan visi Indonesia Emas 2045, bukanlah datang dari luar, tantangan dari bangsa sendiri, benar kata Bung Karno bahwa “Perjuanganku lebih muda karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Seberat apapun tantangan yang kita hadapi hari ini, tidak boleh membuat kita pesimis, selalu ada jalan terbaik ketika kita ingin kerja keras mewujudkan impian bangsa in untuk memberi kesejahteraan kepada masyarakatnya. Jadikan tema besar HUT RI ke-81 yang mengusung kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran, sebagai pemacu untuk terus bergerak menghadirkan kemakmuran yang digawangi oleh pemimpin yang berintegritas dan terus berusaha menghadirkan calon pemimpin yang memiliki fondasi karakter yang bersih, memiliki integritas dan jadikan tokoh pendahulu sebagai cerminan mewujudkan integritas

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply