Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Kuliah Tamu Internasional, Akademisi Meksiko di Unismuh: Bahasa Inggris Tak Harus Meniru Penutur Asli

×

Kuliah Tamu Internasional, Akademisi Meksiko di Unismuh: Bahasa Inggris Tak Harus Meniru Penutur Asli

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Pembelajaran bahasa Inggris di tengah dunia yang semakin terhubung tidak cukup hanya diarahkan pada ketepatan tata bahasa, pengucapan, maupun kemampuan berbicara menyerupai penutur asli. Kemampuan memahami perbedaan budaya, membangun empati, dan berkomunikasi dengan orang dari latar berbeda juga menjadi kompetensi penting.

Perspektif tersebut mengemuka dalam International Guest Lecture bertema “Intercultural Communication” yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Rabu, 19 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom itu menghadirkan Dr. Gabriella Ruiz de la Rosa dari National Pedagogical University, Meksiko, sebagai pembicara. Kuliah tamu dimoderatori dosen Pendidikan Bahasa Inggris Unismuh Makassar, Dr. Nurdevi Bte Abdul, S.Pd., M.Pd.

Rektor Unismuh Makassar Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU, dalam pengantarnya mengatakan kuliah tamu internasional menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman belajar mahasiswa melampaui batas ruang kelas.

Menurut Rakhim, di tengah dunia yang semakin terkoneksi, pembelajaran juga perlu membuka ruang perjumpaan dengan perspektif, pengalaman, dan komunitas akademik dari berbagai negara.

Kehadiran akademisi internasional, kata dia, memberi kesempatan kepada mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif lintas budaya sekaligus membangun kesadaran sebagai bagian dari komunitas akademik global. Rakhim juga mengapresiasi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unismuh yang menginisiasi kegiatan tersebut.

Ia berharap pertemuan akademik itu tidak berhenti sebagai kegiatan kuliah tamu, tetapi dapat menjadi awal hubungan yang lebih kuat antara Unismuh Makassar dan institusi Gabriella di Meksiko.

“Pertemuan ini kami harapkan menjadi awal persahabatan dan kemitraan yang lebih kuat antara kedua institusi,” demikian inti pesan Rakhim.

Kerja sama tersebut, menurut Rakhim, dapat dikembangkan melalui pertukaran akademik, penelitian bersama, hingga berbagai program akademik lain yang kemudian diperkuat dalam kerja sama formal antarlembaga.

Kepada mahasiswa, Rakhim juga mendorong agar kesempatan bertemu akademisi internasional dimanfaatkan untuk aktif bertanya, berdiskusi, dan menyerap pengalaman narasumber.

Ia menilai interaksi langsung dengan akademisi dari negara lain merupakan bagian penting dalam memperluas pengalaman belajar dan wawasan global mahasiswa.

Bahasa Inggris sebagai lingua franca

Dalam pemaparannya, Gabriella mengajak peserta melihat kembali posisi bahasa Inggris dalam komunikasi global.

Kepala Teaching and Learning Language Center di National Pedagogical University of Mexico itu menjelaskan bahwa bahasa Inggris saat ini tidak lagi semata-mata digunakan oleh masyarakat yang menjadikannya sebagai bahasa pertama.

Bahasa Inggris telah berkembang menjadi lingua franca, yakni bahasa penghubung bagi orang-orang yang memiliki bahasa ibu dan latar budaya berbeda.

Perubahan tersebut, menurut Gabriella, semestinya turut memengaruhi orientasi pembelajaran bahasa Inggris.

Selama ini, keberhasilan belajar bahasa Inggris kerap dikaitkan dengan kemampuan mendekati standar penutur asli, mulai dari kefasihan, pengucapan, hingga ketepatan penggunaan bahasa.

Gabriella menilai ukuran tersebut tidak lagi cukup untuk menggambarkan realitas penggunaan bahasa Inggris saat ini. Dalam komunikasi global, orang Meksiko yang berbahasa ibu Spanyol, misalnya, dapat menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan orang Indonesia yang memiliki bahasa ibu berbeda.

Dalam situasi seperti itu, bahasa Inggris berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara dua latar linguistik dan budaya yang berbeda.

“It has to work,” kata Gabriella.

Ia menjelaskan, penggunaan bahasa Inggris sebagai lingua franca lebih berorientasi pada keberhasilan komunikasi dan interaksi nyata daripada semata-mata mengejar kesempurnaan bentuk bahasa.

Karena itu, ia mengajak pengajar dan pembelajar bahasa Inggris untuk meninjau kembali dominasi standar penutur asli dalam pembelajaran.

Gabriella menceritakan pengalamannya mengikuti sebuah program internasional di Amerika Serikat bersama peserta dari 13 negara. Mereka memiliki bahasa ibu, aksen, tradisi, agama, dan latar budaya berbeda, tetapi mampu menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa bersama.

Menurut dia, komunikasi di antara mereka dapat berlangsung bukan hanya karena kemampuan linguistik, tetapi juga ditopang keterbukaan, rasa ingin tahu, serta penghormatan terhadap perbedaan.

Kompetensi bahasa harus disertai pemahaman budaya

Gabriella menegaskan, kemampuan linguistik tetap merupakan dasar penting dalam pembelajaran bahasa. Mahasiswa tetap perlu menguasai tata bahasa, kosakata, struktur kalimat, pengucapan, intonasi, dan aspek kebahasaan lainnya.

Namun, kemampuan linguistik saja dinilai tidak cukup untuk membangun komunikasi yang efektif.

Bahasa, menurut Gabriella, selalu berhubungan dengan kebudayaan. Cara seseorang berbicara, menggunakan gestur, melakukan kontak mata, bercanda, hingga memilih diam dapat memiliki arti berbeda dalam kebudayaan yang berbeda.

Karena itu, pembelajar bahasa juga membutuhkan kompetensi interkultural yang mencakup keterbukaan, rasa ingin tahu, rasa hormat, empati, kesadaran budaya, dan kemampuan melakukan refleksi kritis.

Kompetensi tersebut penting untuk mencegah seseorang menilai budaya lain hanya berdasarkan ukuran kebudayaannya sendiri.

Gabriella menjelaskan, kecenderungan semacam itu dapat berkembang menjadi etnosentrisme. Kategorisasi yang disertai penilaian kemudian berpotensi melahirkan stereotip dan prasangka terhadap kelompok lain.

Menurut dia, pembelajaran bahasa justru memiliki posisi strategis untuk mempertemukan mahasiswa dengan berbagai perspektif budaya.

Kelas bahasa dapat mengubah perbedaan budaya yang awalnya menjadi sumber penilaian menjadi kesempatan untuk bertanya, berdialog, dan membangun pemahaman.

Gabriella melihat pembahasan tersebut relevan bagi Meksiko dan Indonesia yang sama-sama memiliki keragaman bahasa dan budaya.

Ia menjelaskan, Meksiko merupakan negara multikultural dan multilingual dengan sejumlah bahasa masyarakat adat yang masih digunakan. Kondisi tersebut membuat persoalan interkulturalitas menjadi penting dalam dunia pendidikan di negaranya.

Indonesia, menurut dia, juga memiliki keragaman bahasa dan budaya yang luas. Kesamaan tersebut membuat masyarakat kedua negara sama-sama perlu membangun kemampuan berkomunikasi secara terbuka di tengah perbedaan.

Dalam sesi diskusi, Rektor Unismuh Rakhim Nanda turut memperkenalkan nilai lokal masyarakat Sulawesi Selatan, siri’ na pacce, kepada Gabriella.

Rakhim menjelaskan bahwa nilai tersebut antara lain berkaitan dengan kehormatan, empati, dan solidaritas. Nilai-nilai itu turut memengaruhi cara masyarakat berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.

Gabriella melihat adanya titik temu antara nilai tersebut dengan sejumlah karakter masyarakat Meksiko, terutama dalam keramahan, keterbukaan, dan solidaritas.

Ia menjelaskan bahwa solidaritas komunal masih kuat ditemukan pada sejumlah masyarakat perdesaan dan komunitas masyarakat adat di Meksiko, meski modernisasi turut membawa perubahan terhadap nilai-nilai sosial di kota-kota besar.

Tidak perlu takut membuat kesalahan

Gabriella juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terlalu takut melakukan kesalahan ketika menggunakan bahasa Inggris.

Dalam komunikasi antara orang-orang dengan bahasa ibu berbeda, kesalahan sangat mungkin terjadi. Hal yang lebih penting adalah kemampuan meminta penjelasan, mengulang pernyataan, menyesuaikan bahasa, dan bernegosiasi hingga pesan dapat dipahami bersama.

Karena itu, konsep intelligibility atau keterpahaman perlu mendapat perhatian dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Menurut Gabriella, dalam komunikasi global, keberhasilan membuat lawan bicara memahami maksud yang disampaikan dalam kondisi tertentu dapat lebih penting daripada mengejar kesempurnaan pengucapan, tekanan kata, ataupun intonasi.

Perubahan teknologi juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan bahasa.

Gabriella menyebut media sosial, internet, ChatGPT, dan kecerdasan buatan sebagai bagian dari lingkungan baru yang memperlihatkan bagaimana bahasa terus berubah dan beradaptasi mengikuti pengguna dan kebutuhan komunikasi.

Namun, penggunaan teknologi tersebut harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis.

Saat menjawab pertanyaan peserta mengenai informasi keliru dan propaganda di ruang digital, Gabriella mengingatkan mahasiswa agar tidak merasa cukup dengan informasi pertama yang ditemukan melalui media sosial ataupun internet.

Mahasiswa perlu mencari sumber lain, membandingkan informasi, dan sedapat mungkin kembali kepada sumber utama sebelum menarik kesimpulan.

Ia menambahkan, kecerdasan buatan telah menjadi bagian dari kehidupan dan akan terus digunakan. Karena itu, yang dibutuhkan adalah kemampuan memanfaatkannya dengan kesadaran dan pengetahuan kritis, termasuk memverifikasi informasi yang dihasilkan.

Gabriella mengaku juga memanfaatkan kecerdasan buatan ketika mengembangkan materi untuk program magister yang sedang dipersiapkannya. Namun, hasil yang diperoleh tetap diperiksa melalui banyak sumber untuk memastikan informasi tersebut tepat dan relevan.

Menuju kerja sama akademik

Kuliah tamu tersebut tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai bahasa dan komunikasi antarbudaya.

Pada penghujung kegiatan, International Office Unismuh Makassar menyampaikan kesiapan untuk menindaklanjuti hubungan akademik dengan institusi Gabriella menuju kerja sama yang lebih formal.

Sejumlah program untuk 2027 turut ditawarkan, meliputi visiting professor, penelitian bersama, serta pengabdian kepada masyarakat. Pihak Unismuh juga membuka komunikasi lanjutan untuk membahas proses formalisasi kemitraan kedua institusi.

Gabriella menyambut positif rencana tersebut. Ia menyatakan terbuka terhadap kerja sama dan pertemuan lanjutan untuk membicarakan bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama.

Kegiatan International Guest Lecture ini sekaligus mendukung komitmen Unismuh Makassar terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui penguatan pembelajaran berkualitas dan wawasan global mahasiswa, serta SDG 17: Partnerships for the Goals melalui pengembangan jejaring dan kemitraan akademik internasional. Penguatan kompetensi lintas budaya, kolaborasi penelitian, visiting professor, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian dari upaya kampus memperluas dampak pendidikan sekaligus membangun kerja sama global yang berkelanjutan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI

Leave a Reply